Epic 90’s is Epic


Beberapa hari yang lalu, saya sempat menonton acara televisi yang membahas soal era 90, menampilkan beberapa aktor yang sempat mengantongi gelar superstar di era tersebut. Sebagai anak yang lahir di akhir tahun 80-an dan tumbuh di era 90-an, tentu saja dekade grunge berjaya tersebut banyak memberikan kenangan manis pada diri saya.

 

Saya pun sempat menuliskan sebuat notes di social media berkenaan dengan hal ini. Setelah menonton acara tersebut, saya mencari-cari lagi notes tersebut, dan akhirnya ketemu. So, inilah tulisan saya tersebut yang tentu saja sudah mengalami edit ulang:

 

I love 90's

 

Terinspirasi dari postingan teman saya yang membahas tema serupa, postingan ini saya tulis semata-mata untuk membuat iri anak-anak yang tumbuh di era 2000-an karena tidak pernah merasakan awesome-nya era keemasan MTV di tahun 1990-an. MTV 2000-an mah isinya porn stars semua (cewek umur 16 udah tekdung alias hamil -_-).

 

So, ini beberapa yang saya ingat di era 90-an. Tapi, kalau saya ceritakan semua ke-awesome-an masa kecil saya bisa hasilkan satu novel yang bakal nyaingin Laskar Pelangi, mending saya beri resumenya saja. Berikut resume hal-hal awesome yang pernah saya alami di era 90an. 

 

Epic Songs Are Epic:

 

Zombie

Zombie – The Cranberries

 

Era 90-an, saya belum suka dengan musik rock. Herannya, lagu pertama yang saya nyanyikan sewaktu sudah bisa bicara (antara umur 3-4 tahun) adalah lagu Zombie – The Cranberries. Tentu saja ga nyanyiin dengan benar, melainkan hanya menyamakan lirik yang saya dengar.

 

Hasilnya, alih-alih bernyanyi:

In your head, in your head, zombie zombie zombie, e, e, e…”

 

Saya malah melafalkan:

“I yo hee, i yo hee e e, jombe, jombe, goja goje…”

 

I was so adorable back then.

 

Di akhir era 90-an, saya merasa seperti trendsetter (padahal kalau dipikir-pikir sekarang sih, sepertinya saya mah ikut-ikutan tren doang tapi berasa trendsetter), sebab apa pun yang saya suka mendadak booming luar biasa. Jadi, maafkan saya jika sekarang Britney Spears ngetopnya amit-amit dan Westlife sempat merajalela. Sejak saya menyadari “kekhilafan” saya tersebut dan meninggalkan Westlfie, maka redup pulalah ketenaran mereka.

 

Well, maybe I’m a trendsetter.😛

 

Ah jangan lupakan pula kalau era 90-an kebanjiran penyanyi anak-anak yang menyanyikan lagu kid friendly. Enno Lerian, Trio Kwek-Kwek, Joshua, Chikita Meidi, Meissy, sampai Tina Toon. Kasihan anak-anak jaman sekarang yang dicekoki Justin Bieber.  

 

Trio Kwek-Kwek

Trio Kwek-Kwek

 

Epic Stories Are Epic:

 

Dari kecil saya sudah hobi menulis dan menggambar. Pahlawan saya waktu kecil adalah Doraemon. Tapi, ada dua karya tulis masa kecil saya yang bikin saya bangga Pertama adalah cerita Sangkuriang saya, kedua adalah cerita Nabi Musa yang diberi nilai 9,5 oleh guru ngaji saya. Dulu saya memang ikutan pramadrasah tiap sore bareng teman-teman, dan cerita saya tersebut diberi nilai tertinggi, bahkan melampaui cerita karya anak SMP.

 

I was 8 years old that time.

 

Juga saya inget dua komik saya, yang pertama saya beri judul Adventure at Mars tentang kelompok manusia berkekuatan super (kayak X-Men) di era masa depan, di mana manusia hijrah ke Mars karena Bumi udah ga layak huni. Kedua petualangan Heru dkk. Premisnya sama, yakni sekumpulan manusia superhero, dipimpin Heru yang tinjunya bisa lepas, melesat bak roket, meninju lawan, dan terpasang kembali.

 

Corny? So pasti😛

 

Epic Games Are Epic:

 

Lalala Yeye ye

Lalala Yeye ye

 

Anak SD sekarang sudah punya iPad? Bitch please! I got iMagination when I was your age! Permainan-permainan gobak sodor, lompat tali (di Kijang namanya Yeye dan saya adalah atlet Yeye yang sangat mahir), petak umpet (sembungi endok), gundu (goli), ular naga, berebut tempat (permainan favorit calon anggota DPR), adu kartu, dll tidak akan pernah dipahami asyiknya oleh anak-anak sekarang.

 

I’m pity on you, today’s kids *sob*

 

Tapi, ada permainan di Kijang yang tidak saya jumpai di Jakarta. Permainan musiman yang dimainkan setelah lebaran. Namanya Canang. Alat yang dibutuhkan: tongkat kayu dan kaleng minuman bekas. Tanah tempat bermain dikorek sedikit, kaleng digeprekin biar penyok dikit (paling tidak ada lekukan), posisikan tongkat kayu seperti bermain golf (bedanya tongkat kayu kita pegang di depan, bukan menyamping), ujung bawah tongkat di bagian tanah yang tadi dikorek sedikit, dan bagian kaleng yang penyok di posisikan di depan tongkat.

 

Intinya: ini permainan adu jauh lempar kaleng, dan dapat nilai tambah (CMIIW) kalau mengenai kaleng lawan. It’s hillbilly kids’ golf!

 

Sebenarnya, permainan Canang tradisional menggunakan kayu kecil bukan kaleng. Tapi, saat lebaran tiba, maka kalenglah yang menjadi primadona, karena di sana ada tradisi memberi parsel lebaran yang isinya pasti selalu minuman kaleng. Kalau lebaran, keluarga saya bisa kebanjiran hingga 10-20 krat minuman kaleng, dari coke, pepsi, sarparila, sari jeruk, hingga sari sarang burung walet. Makanya, permainan Canang pakai kaleng baru hype setelah lebaran, sebab persedian kaleng mudah dijumpai.

 

Epic Toys are Epic:

 

Dat Sega

Dat Sega

 

Dulu, di kala Nintendo begitu hype, ayah saya malah memberikan saya Sega yang bisa menggunakan kaset juga CD games. And it was like today’s Wii. Keberadaan Sega juga membuat popularitas saya meningkat di mata teman-teman SD, bahkan sampai pernah bersikap superbrengsek terutama pada teman yang tidak saya sukai dengan alasan sepele seperti dia rada culun (Was I a bully back then? -_____-).

 

Saya sempat didamprat Ibu saya, karena tidak mengizinkan teman yang tidak saya sukai itu untuk masuk dan bermain Sega. Saya biarkan dia di luar rumah, mengintip saya dan geng saya asyik bermain Sega dari jendela (Astaga, ternyata dulu saya jahat juga. Dan, mungkinkah ini yang menyebabkan saya akhirnya jadi korban bullying pas SMP/SMA? O___O).

 

Tapi, setelah saya dimarahi Mama di depan teman-teman, saya mengizinkan teman saya yang di luar itu untuk bermain. Ah untung saya tidak berakhir jadi jock yang tukang bully anak orang.

 

Saat tren Tamiya, saya pun merengek-rengek ingin dibelikan. Bahkan sampai ngerasa orangtua saya tega banget dengan berkata “Nggak!” tiap kali saya meminta. “Mama Papa Jahat!” (sembari mengentakkan kaki, kemudian nangis ngadu ke nenek). Berhari-hari saya dibiarkan merengut sampai akhirnya Papa membelikan saya sebuah mobil remote control paling keren yang pernah saya punya!

 

Bitch! Mobil jeep 4WD remote control warna kuning saya bisa menggilas tamiya-tamiya krempeng punya teman-teman saya, bisa mendaki bukit (baca: gundukan tanah) pula, serta baterai yang dapat dicas dengan mudah. Saya sampai ngerasa… mimpi apa saya kemarin malam. Dapet hadiah superkeren itu bikin saya ngerasa Lebaran, Natal, dan Imlek datang bersamaan. And I was like… “I love you Papa, I love you Mama…” sembari malu pernah mewek beberapa hari sebelumnya.  

 

Epic Little City is Epic:

 

Kijang tidak ada mal. Plaza pun tidak ada. Minimarket Berkat saat itu bagaikan Hypermart di antara toko-toko kelontong lainnya. Plaza baru ada di Tanjungpinang yang saat itu merupakan ibukota kabupaten. KFC baru bisa ditemukan di Batam, di atas Gelael Plaza. Mal pun baru ada satu-dua di Batam. Bioskop cuma ada di Tanjungpinang dan kami sekeluarga cukup sering ke sana.

 

Papa hobi nonton, sehingga sering membawa keluarganya ke bioskop tiap akhir pekan. Saya ingat pernah nonton Titanic sampai dua kali. Saking hype-nya, tuh film sampai diputar di 2 studio! (Bioskop itu cuma punya 3 studio, so bayangkan betapa epic-nya karya James Cameron itu). Dan, berkali-kali pula Ibu saya sibuk menutupi mata saya dan adik-adik saya, begitu ada adegan Rose bugil, Jack dan Rose berciuman, serta berakhir dengan steamy kimpoy scene inside the car.

 

Dengan heboh, Ibu saya berkata “Hiii… jengkol! Jijik! Jijik!”. Kenapa jengkol? Karena saya dan adik saya paling jijik dengan makanan itu (hingga sekarang), sehingga Ibu saya berharap kami merasa jijik dengan adegan-adegan mesum seperti itu.

 

Paint me...

Paint me…

 

Maaf Ma, sekarang kata “Jengkol” nggak mempan lagi buat Aa -_____-‘’

 

Barangkali, cuma adik bungsu saya yang sampai sekarang masih menutup mata kalau ada adegan ciuman or more (good sister).

 

Setelah nonton, saya sekeluarga biasanya makan siang di resto fast food tepat di sebelah bioskop. Saya lupa namanya, tapi dulu sebelum ada KFC, itu adalah resto fast food favorit saya sekeluarga. Ada ayam goreng, ada waffel, ada coke… ah pokoknya dulu resto fast food itu ibarat nuevo cuisine buat saya. Bahkan, sesekali ortu mengajak teman-teman saya untuk jalan-jalan ke Tanjungpinang dan makan di sana.

 

Treat your friends like a boss 

 

Epic Stuffs are Epic:

 

Berikut beberapa barang epik yang saya ingat pernah saya miliki di era 90-an:

 

Epic Comics are Epic

Epic Comics are Epic

 

  • Walkman Aiwa (because iPod wasn’t invented yet).
  • Komik Petruk-Gareng karya Tatang S seharga Rp. 500.
  • Yo-Yo yang bisa menyala tapi akhirnya rusak setelah kebanting terus. (Saya ga jago maen Yo-Yo).
  • Rainbow slinky yang akhirnya terbelit-belit nggak bisa dimaenin lagi
  • Sepeda Senator. Sepeda roda dua saya selalu bermerek Senator, yang sering diplesetin jadi “Sepeda Seni tapi Kotor”. What dafuq did I think back than, giving a wrong acronym almost to everything?
  • Kamus bahasa Inggris bergambar hadiah nenek saya dari Jakarta, setebal alaihim gambreng tapi sering saya bawa-bawa ke sekolah buat pamer. (Zaman SD dulu, bahasa Inggris belum jadi mata pelajaran yang masuk kurikulum, jadi pelajaran ini saya dapat lewat les privat).
  • Sepatu ninja (yang hampir kayak selop tapi jempol ama jari lainnya dipisah). For me, that shoes is cooler than any Loggo shoes (yang sempat hype karena memasang Puput Novel sebagai model iklannya).
  • Dan, masih banyak lagi

 

Yah, sepertinya sampai di sini dulu nostalgianya. Sebenarnya masih banyak lagi yang belum saya tulis, tapi karena sudah banyak hal yang sebenarnya agak lupa-lupa ingat jadi apa boleh buat.

 

Ah, ya! Saat SD saya juga sempat jatuh terguling-guling di jurang (sebenarnya sih hanya tanah landai yang cukup curam) di belakang sekolah, nyasar ke semak-semak, dan akhirnya lecet di sana-sini gara-gara dijorogin teman saya. Saya lupa siapa yang ngedorong saya, tapi entah kenapa saya tidak dendam, sebab ulah dia memberi saya kesempatan bolos sekolah selama dua hari. Fufufu.

2 thoughts on “Epic 90’s is Epic

  1. aduh komik petruk-gareng itu hak hak hak.
    most memorable scene: petruk lagi belai-belai rambut pacarnya, terus nemu barang aneh di sana. pas ditarik, ternyata paku, terus tahu-tahu ceweknya terbang, haaaaa….😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s