Mengintip Rahasia di Balik Galau


#RahasiaDiBalikHujan

#RahasiaDiBalikHujan

 

I’m baaaaaaaaaack! Setelah nyaris tujuh bulan ninggalin blog ini, akhirnya gue balik lagi!

 

Horeee! Adham nongol lagi! Ke mana aja, Dham?

Ah, nggak ke mana-mana. Di Bogor aja, kadang ke Jakarta.

 

Kok nggak nongol-nongol lagi?

Iya nih, banyak hal yang terjadi.

 

Apa yang terjadi?

Ih, mau tau aja. Kepo deh #ditabok

 

Apa yang terjadi?

Eerrr… yah… *usap-usap pipi yang sakit karena ditabok* sebenarnya banyak hal yang terjadi selama bulan-bulan belakangan ini. Intinya sih, gue ngilang karena masalah cinta….

 

Cieeeeeee… Adham jatuh cinta!

Iya nih. Te~hee~ Gue jatuh cinta, terus gue ditinggalin, lalu gue patah hati, dan akhirnya galau sampai berbulan-bulan.

 

Teehee

Teehee

 

Oke, silakan tertawa sepuasnya. Tapi, berbeda dengan pandangan umum dan stereotype yang ada, Adham sebenarnya juga punya hati, tauk!

 

Jadi … itulah yang terjadi. Beberapa bulan belakangan ini gue diombang-ambing oleh perjalanan cinta yang manis, asam, asin, rame rasanya… dan kemudian berakhir pahit. #AdhamRapopo

 

Setelah ditinggal oleh pujaan hati, gue milih untuk ngejalanin hidup ala hikikomori, menarik diri dari pergaulan dunia maya. Sosmed nggak disambangin, blog pun terlantar lagi, sampai hari ini.

 

Hari-hari pertama galau adalah hari-hari menatap ke luar jendela dengan ekspresi campur-aduk tak menentu. Gue udah kayak Edward Cullen yang galau, minus glitter, tapi lebih kaya emosi daripada akting deadpan-nya.

 

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari ditemani Adele. Mewek jiga ABG galau. Namun, setelah itu, gue mutusin untuk bunuh diri menyibukkan diri. Setelah sekian lama nggak nulis novel, gue nyoba untuk nulis lagi. Tapi… mau nulis apa?

 

“Tulis yang populer aja dulu, Dham,” saran teman gue, yang mukanya lakik banget, “Lo kebanyakan nulis yang antimainstream lama-lama bosen. Lagian, katanya lo mau cepet kaya. Mending lo miara tuyul. Eh, maksud gue, mending lo nulis yang banyak disukai pembaca aja dulu.”

 

Gue pun narik napas, jelek banget. Gue kemudian berkonstipasi, eh, berkontemplasi sembari menyandarkan diri ke punggung kursi plastik warna oranye gonjreng,

 

Sore itu Bogor sedang hujan, gue dan empat temen gue yang semuanya lakik bertampang pas-pasan lagi kongko di coffee shop dan mesen cupcakes. Apa yang empat lakik lakukan di toko cupcakes tolong jangan dipertanyakan, dan mohon fokus kembali ke masalah galau-galauan gue. Terima kasih.

 

Akhirnya gue mutusin untuk ngikutin saran teman gue itu. Awalnya pengen nulis kisah romens galau yang terinspirasi dari kisah cinta gue yang ngenes. Tapi, karena nggak mau bikin pembaca enek, juga nggak mau dicap sebagai versi nggak cantik dari Taylor Swift, saya memutuskan untuk menulis kisah lain.

 

Lagipula, gue nggak mau nyalahin siapa-siapa. Toh, semua yang terjadi ini sebagian besar adalah kesalahan gue. Ending nan pahit ini terjadi karena Adham itu cowok yang bego. Mwahahaha :’D

 

Oke, kembali ke soal nulis novel….

 

Karena belum ada dapet inspirasi, gue sengaja ngebongkar file-file lama di komputer. Di sana gue nemu dua cerpen lama gue. Cerpennya kurang bagus sebab ceritanya terlalu padat dan terburu-buru. Untuk sebuah cerpen, cerita tersebut mungkin kurang memuaskan, tapi kalo dijadiin novel kayanya bagus. Ceritanya bisa dikembangin.

 

Maka, gue pun milih salah satu cerpen yang lantas gue tuliskan versi novelnya. Awalnya lancar, kemudian stuck. Gue ganti adegannya, tetap stuck. Gue ganti POV-nya, tambah ancur. Gue frustrasi, laptop dibanting, nyokap datang marah-marah.

 

Oke, nggak seekstrem itu sih. Hanya saja, gue ngerasa kalo cerpen berjudul Abang tersebut sepertinya masih belum bisa gue novelin—sebab belum nemu formula yang tepat. Tanpa sadar, sepertinya gue milih cerpen itu karena lebih “antimainstream” dari cerpen kedua, padahal teman gue nyaranin supaya gue keluar sejenak dari zona nyaman gue tersebut.

 

Maka, gue pun beralih ke cerpen kedua. Cerpen kedua jauh lebih remaja dari cerpen sebelumnya. Ceritanya tentang seorang murid SMA yang terobsesi dengan temannya yang baik hati, padahal temannya itu sudah punya pacar.

 

Herannya, cerpen kedua lebih mudah dinovelin. Gue bisa dengan lancar menyelesaikan bab pertama, kedua, ketiga, dan selanjutnya, dan selanjutnya, dalam waktu yang relatif singkat. Surprisingly, it works really well!

 

Tanpa sadar, gue berhasil ngerampungin novel tersebut dalam waktu tiga bulan aja, termasuk editing. Yup, tiga bulan doang! Novel tercepat yang pernah gue tulis sampai sekarang. Mungkin George R. R. Martin—penulis Game of Thrones—benar! Kalau mau produktif menulis, matikan internet! Terbukti, gue yang hiatus internet hingga berbulan-bulan berhasil ngerampungin novel dalam waktu singkat!

 

It’s amajing!

 

Novel tersebut lantas gue kasih judul “Rahasia di Balik Hujan”.

 

Hehehe. Kalian bener banget. Ini adalah kisah di balik layar penulisan novel tersebut, yang ditulis dengan penuh kegalauan nggak jelas ala anak-anak ABG. Bedanya, gue ngubah kegalauan menjadi sesuatu yang lebih produktif ketimbang nongkrong nggak jelas di jalan layang. Dan Alhamdulillah, novel tersebut sekarang udah ada di meja redaksi Moka Media. Insya Allah, novel kedua gue itu akan diterbitkan dalam waktu 1-2 bulan lagi. Doain Adham ya teman-teman!😀

 

Pada postingan mendatang, gue bakal ceritain tentang proses pengiriman naskah “Rahasia di Balik Hujan” ke penerbit. Untuk sekarang, biarkanlah gue berdiri penuh gaya di pinggir jendela, melayangkan pandangan ke rumah tetangga, lalu mendesah dramatis penuh gaya seperti Jacob Black gagal diet OCD.

 

Dan, izinkan gue menutup postingan kali ini dengan kalimat bak pujangga….

 

Teruntuk dikau yang telah meninggalkan daku, terima kasih karena telah berani memilih kebahagiaanmu sendiri. Semoga dikau bahagia selamanya dengan suamimu. Dan, terima kasih karena telah menjadikanku pria yang lebih hebat lagi. :’)

 

#AdhamRapopo

 

P.S.: Yuk follow akun Twitter gue @AdhamTFusama dan penerbit @mokabuku buat dapetin update info berita terkini dari novel gue #RahasiaDiBalikHujan. Siapa tau ada gratisannya!😀

2 thoughts on “Mengintip Rahasia di Balik Galau

  1. Soal patah hatinya jadi seriusan nih? Wow…that’s hmm so…surprising me. You have no talent for broken hearted person, Dham. Seriously wkwkwkwk.
    Etapi syukurlah. Berarti kamu pemuda harapan bangsa. Keterpurukan gak menjadikan down atau putus asa. See? Klo soal cintah, konon katanya sakitnya pun bisa bikin orang jadi pujangga…wkwkwkw. Ah tapi jangan mau lama-lama muram dan sedih gitu deh ya, ntar jadi masokis kan repot :p

    Congrats (again) anyway. And I cant imagine how this “Rahasa Di Balik Hujan’ will be…. I was enjoy your sadistic and weird stories, but now it turn to be oh-my-god-so-sweet-lovey-dovey-teenlit ?:mrgreen:

    Psst..I hope someday I will publish my novel in moka too:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s