Nenek, Sangkuriang, dan Menulis


Aku hobi membaca. Namun, apabila ada yang bertanya: “Sejak kapan kamu hobi membaca?”, maka aku akan kesulitan menjawabnya. Itu karena, sejauh yang dapat aku ingat, hobi membaca tersebut seperti muncul begitu  saja, secara alamiah. Layaknya bernafas, berjalan, tidur, bangun tidur, semua terjadi secara naluriah. Dan Alhamdulillah, aku pun tidak pernah mengalami kesulitan ketika pertama kali belajar membaca. Aku tidak menemukan masalah sewaktu menghafal huruf-huruf alfabet dari A sampai Z. Aku juga tidak kesulitan mengeja “Ini Ayah Budi”, “Ini Ibu Budi”, “Budi pergi ke sekolah”, ketika aku duduk di bangku SD.

Aku juga hobi menulis. Bedanya, ketika ada yang bertanya mengapa aku suka menulis, aku bisa dengan mudah menjawabnya. Karena berkat menulis, aku menemukan keajaiban bernama imajinasi untuk yang pertama kalinya.

Hal tersebut terjadi pada suatu hari, ketika aku masih berusia 7 tahun. Saat itu, guruku menyuruh kami untuk menulis sebuah cerita rakyat, sebagai PR. Aku, yang waktu itu sama sekali tidak tahu cerita rakyat satu pun, sempat kebingungan. Maka, setibanya aku di rumah, aku segera menemui nenekku, dan bertanya apakah beliau tahu tentang cerita rakyat. Untungnya, beliau menjawab, “Ya, tentu saja Emak tahu.” (Aku memanggil almarhum nenekku tersebut dengan sebutan ‘Emak’). Aku gembira sekali. Maka, aku pun segera mengambil buku dan pensil, serta meminta beliau untuk membantuku mengerjakan PR menyusahkan tersebut.

Rupanya, beliau tak sekedar tahu tentang cerita rakyat. Beliau bahkan tahu banyak tentang cerita rakyat (yang pada saat itu sungguh membuatku kagum. Aku merasa, tahu banyak tentang cerita rakyat sama hebatnya seperti tahu bagaimana cara membuat roket ke Mars). Beliau pun bertanya, “Mau cerita apa? Malin kundang? Sangkuriang? Bawang merah bawang putih? Panji Laras?”, membuatku kebingungan untuk memilih. Aku pun hanya menjawab, “Apa saja deh, yang penting bagus.”

Maka, beliau pun memilih kisah Sangkuriang (mungkin karena beliau adalah orang Sunda).

Aku masih ingat momen indah tersebut. Siang itu, aku berbaring telungkup di lantai kamar nenek, menyalin cerita rakyat yang dituturkan nenekku secara lisan. Dan tatkala beliau mendongeng – selagi menjahit pakaian dengan tangan (beliau memang seorang nenek yang serba bisa. Memasak bisa, menjahit bisa, merajut bisa, membuat hiasan baju pun bisa! Emak memang hebat!) – saat itulah aku terpesona oleh apa yang waktu itu kusebut dengan “Kehebatan Tulis Menulis!”.

Aku laksana memasuki sebuah dunia yang sama sekali baru. Sebuah dimensi lain. Aku tenggelam dalam kisah Sangkuriang yang diceritakan dengan sangat memikat oleh nenekku. Dan dari ujung pensilku, aku seolah membangun sebuah dunia yang belum pernah ada sebelumnya! Aku mereka dan ‘menciptakan’ alam raya yang tidak pernah kusangka ada sebelumnya! Luar biasa! Fantastis! Aku takjub, terheran-heran, tak percaya bahwa goresan tanganku seolah hidup. Tulisan cakar ayamku menari-nari, menghasilkan sebuah kisah anak manusia yang menakjubkan.

Aku telah menemukan cinta pertamaku: menulis.

Dan aku bahkan belum mengenal yang namanya mimpi basah saat itu. (Apa hubungannya?! >,<)

Intinya adalah, siang itu, di kamar nenekku yang hangat, di dalam sebuah rumah sederhana, di sebuah kota kecil bernama Kijang, aku melanglang buana ke semesta lain. Aku mengamati kisah cinta tak biasa Sang Dayang Sumbi, mengikuti Sangkuriang yang diusir ibunya, tercengang sewaktu Sangkuriang  dan para jin membangun kapal yang besar dan megah, dan menjadi saksi atas terbentuknya Gunung Tangkuban perahu yang mengagumkan. Semua seolah terjadi di depan mataku. Begitu nyata, begitu mempesona, begitu menakjubkan. Padahal, semuanya ‘hanya’ terjadi di atas lembaran kertas.

Hari itu, pintu imajinasiku seolah dibuka lebar-lebar, dan aku segera terhisap masuk ke dalamnya. Dan aku tidak akan pernah melupakan keceriaan yang kudapatkan saat itu.

Sewaktu nenekku selesai mendongengkan kisah Sangkuriang – dan aku pun telah menyelesaikan PR-ku – ada satu hal yang (aku janji!) tidak akan pernah berhenti kulakukan, hingga aku meninggal dunia kelak. Dan hal itu adalah: menulis!

Aku akan terus menulis, karena menulis telah menjadi kecintaanku. Menulis telah menjadi gairahku. Dan lebih dari itu, menulis telah menjadi kegembiraanku, sebab dengan menulis aku mendapatkan kebahagiaan. Sebab menulis adalah salah satu kebahagiaan yang kumiliki hingga saat ini.

17 tahun kemudian, tepat ketika kau membaca tulisan ini, tebak apa yang terjadi? Hei, aku masih terus menulis!😀

Jika aku memikirkannya sekarang, aku merasa sangat bersyukur sekali atas apa yang terjadi 17 tahun yang lalu. Memang, Nenekku telah meninggal dunia ketika aku masih berusia 10 tahun (sampai sekarang, masih menjadi hari tersedih dalam hidupku), akan tetapi jasa beliau tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Barangkali, beliau sendiri tidak pernah menyadari bahwa kegemaranku yang satu ini berasal dari beliau. Bagaimana pun juga, saat itu beliau ‘hanya’ membantuku mengerjakan tugas sekolah. Namun, tanpa dongeng beliau yang dituturkan dengan indah tersebut, aku mungkin tidak akan seperti sekarang ini.

Jadi, aku sangat berterima kasih sekali pada guruku (yang telah memberikan tugas tersebut), pada Sangkuriang, dan kepada Tuhan yang telah memberikanku Nenek yang luar biasa, serta – tentu saja – yang sudah menganugrahkanku minat yang luar biasa: menulis.

So, thank you God.

Dan terima kasih, Emak… Aa sayang sama Emak, dan Aa sangat merindukan Emak…

Terima kasih…

[In loving memory, Suginingsih Susilo, my beloved Grandmother]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s