The Day I Have been Waiting For


Tanggal 3 Juni 2013 barangkali merupakan hari yang paling saya tunggu seumur hidup saya. Karena pada hari itu, saya dapat dengan resmi menyebut diri saya sebagai seorang novelis. Ya, novel saya yang berjudul Dead Smokers Club akhirnya selesai dicetak dan untuk pertama kalinya dalam hidup, saya memegang karya saya dalam bentuk novel. Bukan dalam bentuk file, bukan print out, melainkan novel yang siap terbit.

Sewaktu saya melihat, memegang, dan membuka-buka novel saya itu, saya tidak dapat menahan air mata haru. Terserah, jika kalian menyebut saya cengeng atau semacamnya. Saya tidak peduli karena memang momen tersebut sudah saya tunggu-tunggu selama ini.

Jika saya mengenang kembali, perjuangan saya menyelesaikan novel ini tidaklah mudah, tidak sebentar, apalagi instan.

Saya masih ingat pertama kali saya memutuskan untuk menulis Dead Smokers Club di akhir tahun 2008, mungkin bulan Oktober atau November. Waktu itu saya baru saja mendapat penolakan pahit. Di tahun 2006 sebenarnya saya sudah mendapat kontrak untuk menerbitkan novel (bukan DSC). Saya gembira luar biasa. Target saya menerbitkan buku sebelum lulus kuliah rasanya bisa tercapai. Namun, yang menyakitkan adalah saya menjadi korban PHP (Pemberi Harapan Palsu) oleh penerbit tersebut. Di kontrak dikatakan bahwa novel saya akan diterbitkan dalam waktu maksimal dua tahun. Bila dua tahun lewat, saya boleh memperpanjang kontrak atau membatalkannya.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu. Berkali-kali saya menelepon pihak penerbit tapi jawabannya tetap sama: masih ada naskah lain yang harus digarap. Saya tetap bersabar. Setahun lewat. Dua tahun pun lewat. Di akhir masa kontrak saya saya menelepon mereka lagi dan jawabannya benar-benar membuat saya ingin menjadi Hulk. Dengan santainya mereka bilang bahwa naskah saya belum digarap sama sekali dan saya bisa memilih untuk melanjutkan kontrak atau tidak.

Dua tahun! Bayangkan! Dua tahun lamanya saya hidup dengan harapan kalau cita-cita saya tercapai pada waktunya. Rasanya luar biasa pahit. Saya seperti dikhianati dan dicampakkan begitu saja. Saya hampir saja berniat memperpanjang kontrak saking desperate­-nya ingin menerbitkan novel dan mereka adalah penerbit pertama yang tidak menolak naskah saya. Hampir saja. Akan tetapi, Ayah saya memberi nasihat yang sangat bijak. Beliau bilang “Kalau mereka tidak menghargai bakat kamu, ya sudah. Cari saja orang lain yang menghargainya.”

Dan, saya pun tersadar. Ayah benar. Buat apa saya bersusah payah memberikan karya saya kepada orang-orang yang tidak menginginkannya. Jadi, saya pun membatalkan kontrak serta menarik kembali naskah saya tersebut.

Dari penolakan itu pula saya mendapatkan tekad untuk menghasilkan sebuah karya yang benar-benar layak untuk diterbitkan sehingga tidak ada lagi penerbit yang akan menolaknya. Maka, di akhir tahun 2008, DSC resmi saya tulis. Bisa dibilang, saya menulis DSC setelah adanya penolakan.

DSC ternyata tidak mudah untuk diselesaikan. Dari niat awal hanya 200 halaman, DSC malah berkembang hingga 300 halaman lebih. Proses penulisannya pun banyak menghadapi kendala, seperti skripsi dan—my worst enemy so farmood swing yang parah. Terlebih, saya pun kerap kurang puas dengan hasilnya sehingga mencoba mengonsep ulang, menulis ulang beberapa bab, membuang banyak adegan, menggantinya dengan adegan-adegan baru, tambal sana, sulam sini, hapus sana, tambah sini.

Pada akhirnya, DSC seperti tidak kunjung selesai. Skripsi selesai, sidang selesai, wisuda selesai, masa-masa ngangur terlewati, hingga akhirnya saya mendapat kerja tapi DSC tetap belum rampung juga. Setahun terlewati, dua tahun terbang begitu saja, tiga tahun pun berlalu. DSC sudah saya rampungkan sebanyak 80% tapi saya malah kehilangan niat untuk menyelesaikannya.

Di saat hiatus seperti itu, datang sebuah tawaran menarik yang saya anggap sebagai sebuah kesempatan besar. Dari teman-teman, saya mendapat kabar bahwa ada salah satu majalah yang sedang membutuhkan editor. Saya yang sejak lama ingin sekali menjadi seorang editor pun segera melamar. Ternyata tidak hanya saya saja yang tertarik, teman-teman saya yang lain pun turun melamar untuk posisi yang sama. Saya dan seorang teman yang ikut melamar pergi ke Bandung untuk menjalani tes dan wawancara. Saya cukup PD, tapi lagi-lagi hanya penolakan yang saya terima.

Saya jadi benar-benar frustrasi. Apa saya dianggap tidak bisa menulis sehingga saya ditolak? Begitulah yang saya pikirkan waktu itu. Dan, dengan tekad membara untuk membuktikan kalau saya bisa dan mampu menulis dengan baik—plus mendapat dukungan moral dari teman—saya pun menyelesaikan DSC.  Ya, boleh dibilang, DSC pun saya selesaikan setelah menerima penolakan.

Tiga setengah tahun, DSC selesai saya tulis.

Sekarang, waktunya untuk mencari penerbit lagi. Adalah kebiasaan saya untuk menyambangi langsung kantor penerbit untuk menyerahkan naskah. Dengan begitu saya yakin naskah saya benar-benar diterima oleh mereka. Maka petualangan bersama bus dan mikrolet pun saya lakoni. Menjelajahi seluk-beluk kota Jakarta yang diberkati dengan teriknya sinar matahari dan tebalnya asap metro mini.

Tapi, ada kepuasan tersendiri dalam menjalaninya. Salah satunya, saya jadi tahu di mana lokasi kantor penerbit-penerbit terkemuka yang selama ini cuma saya ketahui namanya di buku dan internet.

Penerbit pertama… naskah saya ditolak. Oke, mungkin karena tebalnya amit-amit bikin editor pengen bunuh diri. Jadi, saya bagi saja buku ini menjadi dua bagian. Saatnya ke penerbit yang lain. Ditolak juga. Oke, tidak apa-apa, masih ada penerbit lainnya dan hopefully kali ini bisa diterima.

Sembari menunggu, lagi-lagi saya mendapat info tentang lowongan kerja untuk menjadi copy editor. Meski sebenarnya saya tidak memenuhi salah satu persyaratan (yakni masalah umur, di mana mereka menghendaki editor yang berusia di bawah 25 tahun) saya tetap nekat melamar. Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar dari pihak penerbit. Saya ditawarkan posisi sebagai copy editor, tapi bukan di penerbit yang saya tuju melainkan di sister company-nya. Tanpa pikir panjang, saya menerimanya karena saya benar-benar ingin menjadi editor.

Saya menjalani tes dan wawancara. Setelah itu saya menunggu lagi, kali ini tanpa menaruh banyak harapan. Yang mengejutkan ialah… saya diterima! Akhirnya, saya resmi menjadi seorang (copy) editor.

Saya begitu bersemangat… hingga dihadapi oleh kenyataan bahwa selama ini saya tidak tahu apa-apa tentang proses kerja seorang editor. Sebelumnya, saya pikir kalau tugas editor hanyalah mengedit naskah saya, memperbaiki kesalahan-kesalahan EYD. Rupanya itu hanya satu di antara banyak tugas yang dimiliki oleh seorang editor. Parahnya lagi, kemampuan EYD saya waktu ternyata lebih buruk dari yang saya duga. Ditambah, yang saya tangani adalah buku-buku nonfiksi! Padahal, selama ini yang banyak saya baca adalah novel dan komik. Buku-buku nonfiksi selain buku pelajaran dan buku-buku kantor jarang sekali saya baca.

Pada akhirnya, bekerja di sana merupakan ajang penempaan diri.

Tapi, ada hikmahnya juga. Meski saya hanya bekerja selama beberapa bulan saja di sana, saya mendapat banyak ilmu, insight, dan wawasan tentang proses kerja di sebuah penerbitan. Akhirnya, dengan modal tekad, saya berniat untuk mendirikan sebuah penerbit sendiri. Niat ini memang merupakan salah satu cita-cita yang ingin saya capai. Dan, yang lebih mengherankan ialah impian itu tercapai lebih cepat ketimbang cita-cita saya menerbitkan novel. Berkat bantuan keluarga dan sahabat-sahabat, saya bisa memiliki sebuah penerbitan buku sendiri.

Anyway, kembali ke DSC. Setelah sembilan bulan di meja penerbit, lagi-lagi DSC ditolak oleh mereka. Kali ini saya sama sekali tidak kecewa, justru gembira luar biasa. Karena, sekarang saya bisa mengurusi dan menerbitkan sendiri DSC. Yup, DSC pun terbit setelah adanya penolakan demi penolakan.

Tentu saja prosesnya tidak mudah. Sebagai penerbit yang baru, banyak sekali kendala-kendala pemula yang harus saya lewati. Keterbatasan dana, trust dari banyak pihak akan kredibilitas kami, beberapa kesalahan teknis, dan lain sebagainya. Untung saja saya punya banyak sekali sahabat yang dapat diandalkan sehingga meski mengalami delay hingga dua bulan, DSC akhirnya bisa rampung juga dalam bentuk sebuah novel. Alhamdulillah.

Dan, inilah penampakannya😀

DSC

DSC DSC

So, kemarin pihak percetakan mengantarkan 2500 eksemplar DSC ke kantor penerbit dan saya turut menyaksikan momen bersejarah tersebut (Duileeee).

Saya merasa sungguh beruntung dapat menyaksikan karya saya tumbuh dan berkembang dari sekadar tulisan di file komputer menjadi sebuah novel yang siap untuk mejeng di toko buku. Saya pun bersyukur kepada Tuhan. Ternyata, penolakan-penolakan yang saya alami selama ini bukan karena Dia membenci saya. Sebaliknya, ternyata Dia sedang menguji, menempa, dan mempersiapkan saya supaya saya bisa mengurus serta membesarkan karya saya sendiri dari awal hingga akhir. Tidak mudah memang. Saya perlu menguras keringat, air mata, dan dana agar dapat sampai ke momen ini. Namun, percayalah… momen-momen yang saya lewati selama empat setengah tahun ini sungguh tak ternilai harganya.

Memang, pekerjaan saya belum selesai. Etape selanjutnya masih harus ditempuh, yakni menyerahkan karya saya ke ranah publik. Ranah yang tidak bisa saya atur dengan tangan saya sendiri. Saya belum tahu apa yang kelak akan terjadi dan saya hanya bisa berharap yang terbaik. Saya berharap karya saya ini dapat diterima dengan baik di masyarakat. Saya berharap mereka dapat menikmati karya saya sebagaimana saya menikmati setiap momen menuliskannya.

Ladies and gentlemen, boys and girls, this is my great pleasure and honour to present to you my first published novel… Dead Smokers Club part I.

Hope you can ejoy it. 😀

Akhir kata, nantikan DSC Part 1 di toko-toko buku terdekat di kota Anda ya!😀

6 thoughts on “The Day I Have been Waiting For

  1. Yuhuu, jadi ini kisah panjangnya Bang A**** Mustafa (eh, bener enggak, ya, namanya?).
    Lulusan jurusan apa, Bang? Saya juga ingin jadi editor, tapi ternyata jurusan kuliah saya tidak menjurus ke arah itu.

    Saya juga ingin sekali bisa merasakan apa yang dirasakan Bang A**** (atau Adham) ini. Tapi, ya, barangkali saja memang belum waktunya.

    • Wekekekek. Kuliah saya juga ga begitu nyambung dengan apa yang saya lakoni sekarang.
      Drive passion saya ternyata lebih besar sehingga membuat saya tidak memilih karier mentereng yang bisa saya dapatkan jika mengikuti jurusan kuliah. Hehehe.
      Pasti bisa segera merasakannya kok! If you want it bad enough, you’ll get it eventually!😀
      Bukankah naskah kamu udah diminta untuk direvisi sebelum diterbitkan? Ayo semangat revisinya!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s