A Year of Hard Work. A Year for Success.


Dude, I put a randomly artsy picture, so you will think that I'm a sophisticated and deep person. Duuudeee...

Dude, I put a random artsy picture, so you will think that I’m a sophisticated and deep person. :v

So, it finally comes.

Bertambah lagi umur saya dan tanpa terasa seperempat abad telah saya lalui. Hari ini saya resmi memasuki tahun pertama dari seperempat abad yang baru. Halaah. Hahaha. Artinya, yah, usia saya menapaki tahun yang kedua puluh enam. Agak terlalu besar sih, karena saya selalu merasa forever nineteen.😛

Anyway, di usia kedua puluh enam ini, apa sih yang sudah saya dapatkan? Rasanya belum banyak. Calon istri belum dapat. Sukses secara karier belum dirasa. Mapan secara finansial juga belum. Sering sekali saya iri dengan teman-teman sebaya yang sudah mengenyam kesuksesan-kesuksesan yang belum saya dapatkan tersebut. Ada yang sudah sukses dapat istri; ada yang sudah sukses punya anak; ada yang sudah sukses berkarier sehingga sering tugas ke luar kota bahkan ke luar negeri; ada yang sudah punya usaha yang profitnya bisa sampai puluhan juta; ada yang sudah bisa nyicil mobil, atau nyicil rumah, atau nyicil petak tanah di Parung buat mertua kejamnya.

Lalu, saya suksesnya apa?

Kalau di pikir-pikir, sepertinya saya ini loser sekali ya.😥

Tapi, yah, sekali lagi saya sedang dan masih dan terus berjuang untuk menjadi sukses. Dan, boleh dibilang tahun kemarin, di usia saya yang tepat seperempat abad, adalah etape baru saya buat sukses. Tahun lalu bisa dibilang sebagai tahun yang menantang buat saya.

Usaha melulu loe. Dari tahun lalu juga loe bilangnya lagi berusaha buat sukses. Tapi, mana buktinya? Kapan suksesnya?

Well, barangkali memang usaha saya masih belum maksimal. Barangkali masih banyak kelemahan diri saya yang menghambat datangnya kesuksesan. Kurang determinasi, kurang ambisi, kurang doa, dan lain sebagainya.

Yup, sepertinya—jika saya refleksikan—banyak sekali faktor-faktor yang membuat kesuksesan saya tertunda, dan 99,9% faktor tersebut datang dari diri saya sendiri. Memang benar pepatah yang mengatakan bahwa your worst enemy is yourself.

Ini adalah tamparan yang keras serta pahit buat saya. Dan, tamparan tersebut datang bertubi-tubi tahun kemarin, di mana satu per satu akibat dari kelemahan-kelemahan saya muncul ke permukaan, membuat saya menyadari bahwa banyak yang salah pada diri saya.

Saya bahkan sempat menangis seperti anak kecil dan bertanya kepada ibu saya kenapa saya belum sukses juga? Apa saya nggak akan sukses? Apa saya akan jadi pecundang selamanya? Dan, ibu saya hanya berkata dengan lembut, “Kamu pasti sukses kok. Hanya belum waktunya saja. Usaha terus. Jangan menyerah.” Nasihat beliau berhasil memberikan ketenangan serta motivasi lebih untuk saya.

Pernah juga saya dimarahi habis-habisan oleh atasan karena ketidakbecusan saya. Saya ingat hari itu hari Jumat. Saya begitu khawatir menjalankan tugas bertemu klien, dan paginya saya kena omel. Bisa dibilang, satu lagi hari yang buruk di kantor. Begitu selesai, saya kembali ke meja, mengecek HP saya dan mendapat pesan singkat dari ayah, begini bunyinya:

Tidak ada perjuangan yang sia-sia, saat kita lalui perjalanan dengan sebuah pengorbanan sesungguhnya saat itu kita sedang membeli sebuah berlian kehidupan. Tuhan menguji kita dengan kondisi yang paling menyulitkan, tapi ingat bahwa Tuhan memberikannya sepaket dengan jalan keluar. Jadi tetap semangat. Banyak orang yang gagal menggapai cita-cita atau keinginannya hanya karena mereka menyerah terlalu cepat. Doa Daddy menyertaimu nak…

Air mata saya langsung jatuh saat itu juga. Saya menangis selama beberapa saat. Masya Allah… di kala saya sedang berada dalam kesusahan, masih ada sedikit penghiburan yang diberikan oleh-Nya lewat orangtua saya.

Mungkin itulah hebatnya menjadi orangtua. Mereka seolah tahu jika sang anak sedang berada dalam ujian, cobaan, atau kesulitan. Doa dan bantuan mereka selalu datang di saat yang tepat.

Setelah membaca SMS itu saya buru-buru mengambil wudu dan pergi untuk salat Jumat. Di masjid, saya baru teringat kalau hari itu ayah saya berulang tahun. Saya merasa sangat malu karena melupakan ulang tahun ayah saya sendiri. Alih-alih memberikan hadiah untuk ayah, malah saya yang mendapatkan hadiah luar biasa dari beliau.

Jadi, itulah. Usia kedua puluh lima bisa dibilang sangat berkesan bagi saya. Tahun perjuangan, tahun tempaan, tahun yang penuh rintangan sekaligus tahun yang membuka banyak kesempatan.

The Dreams

Berbicara soal kesuksesan, barangkali tidak lepas pula jika kita berbicara soal mimpi. Bagi saya, indikator sebuah kesuksesan salah satu adalah tercapainya mimpi-mimpi kita. Dan, salah satu impian sekaligus ambisi terbesar saya adalah menerbitkan sebuah buku dan menjadi novelis.

Impian ini sebenarnya sudah saya angan-angankan sejak SMP, akan tetapi baru saya tekadkan untuk diwujudkan ketika saya berada di bangku kuliah. Agak terlambat memang, sebab saya memfokuskan diri untuk mengasah kemampuan menulis saya sewaktu SMA. Waktu itu saya bertekad untuk bisa menerbitkan sebuah novel sebelum saya lulus kuliah. Mimpi itu nyaris saja tercapai, tapi kenyataan berkata lain.

Sayang seribu sayang, target pencapaian mimpi saya tersebut tidak tercapai.

Tahun demi tahun berlalu, saya terus berjuang untuk mewujudkan mimpi tersebut. Dan, tahun demi tahun pula hanya kekecewaan yang saya dapatkan. Saya sering kali frustrasi, mengapa saya belum kunjung mampu menggapai mimpi saya tersebut. Padahal, sudah banyak sekali orang-orang sebaya bahkan lebih muda dari saya yang sudah mampu menerbitkan karyanya sendiri. Rasanya pahit sekali.

Saya sendiri tidak percaya kalau saya ini penulis yang buruk. Bahkan, ketika atasan saya mengatakan bahwa saya ini tidak bisa menulis (sampai dua kali dia mengatakan hal tersebut), saya tidak marah atau pun sedih. Karena, entah kenapa, di dalam diri saya yakin sekali bahwasanya saya mampu menghasilkan karya yang bagus, karya yang layak diterbitkan. Lantas, mengapa saya belum juga diberi kesempatan untuk menerbitkan karya sendiri? Mengapa saya sampai ditolak oleh lima penerbit mayor? Sejelek itukah tulisan saya? Seburuk itukah kualitas karya saya? Serendah itukah kemampuan menulis saya? Atau, apa karena saya dianggap belum siap oleh Tuhan? Apa karena belum waktunya?

Barangkali memang belum waktunya.

Atau, barangkali rezeki saya bukan dari penerbit-penerbit tersebut. Barangkali rezeki saya justru datang dari keluarga dan teman-teman saya sendiri.

Selain menerbitkan buku, ada satu lagi impian yang ingin saya capai. Bedanya, saya tidak begitu menggebu-gebu untuk mewujudkannya dalam waktu dekat. Mimpi tersebut adalah memiliki penerbit sendiri. Ini sebenarnya impian yang muncul dari gerutuan-gerutuan saya. Saat karya saya ditolak lagi oleh penerbit, saya sempat ngedumel “Kalau begini terus lama-lama gue bikin penerbit sendiri aja deh.”

Dan, akhirnya saya pun menjadikan gerutuan tersebut sebagai cita-cita lainnya yang ingin saya gapai. Akan tetapi, karena saat itu saya menyadari bahwa saya belum tahu banyak tentang penerbitan, maka saya memberi target pencapaian yang wajar pada impian yang satu ini. Target saya adalah di usia 30 tahun saya akan memiliki sebuah penerbitan sendiri.

Akan tetapi, seperti yang kita ketahui bersama, manusia bisa berencana namun Tuhan-lah yang menentukan. Impian saya yang satu ini malah tercapai lebih dulu sebelum saya mampu merealisasikan mimpi utama saya menerbitkan buku. Alhamdulillah, saya bisa memulai usaha penerbitan buku sendiri di usia dua puluh lima tahun, empat setengah tahun lebih cepat dari target yang saya pasang.

Aneh, ya? Cita-cita yang semula tidak begitu saya prioritaskan malah lebih dahulu saya wujudkan. Hahaha.

Namun, di sanalah letak hikmahnya. Dengan memiliki penerbit sendiri saya bisa menerbitkan karya saya tanpa perlu khawatir ditolak lagi. Hahaha.

Dulu, sewaktu pertama kali naskah saya ditolak, saya sempat down. Tapi, lagi-lagi, orangtua memberikan nasihat yang lebih super ketimbang Mario Teguh. Saya masih ingat ucapan ayah saya yang bilang, “Ya kalau mereka (penerbit) tidak menghargai bakat kamu, cari saja orang lain yang menghargainya.”

And you know what? Saya merasa sangat beruntung karena orangtua, keluarga, dan sahabat-sahabat sayalah yang paling menghargai bakat saya. Sebab, karena jasa, dukungan, serta kepercayaan mereka sekarang saya bisa memulai usaha penerbitan seperti yang diangan-angankan.

Alhamdulillah.

Jadi, tidak apalah bila saya termasuk “telat” jadi novelis. Paling tidak, saya berhasil menjadi editor lebih cepat. Toh, sebenarnya saat ini saya sudah jadi novelis. Kemarin saya mendapat kabar bahwa novel saya sudah selesai dicetak, tingga finishing dan didistribusikan saja. So, yeah, saya tinggal menunggu waktu untuk dapat mengklaim secara resmi diri saya sebagai novelis. Hihihi. Wish me luck, guys.

In the end, saya yakin di tahun kedua puluh enam ini akan lebih banyak lagi tantangan yang dipersiapkan agar saya bisa mengasah diri lebih baik lagi. Masih banyak perbaikan-perbaikan diri yang harus saya lakukan. Saya harus bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi agar usaha yang saya tekuni pun bisa berjalan dengan baik. Bagaimana pun juga, penerbit yang saya kelola masih sangat muda. Masih bayi. Masih benih. Adalah sebuah pekerjaan berat untuk menjaganya, merawatnya, dan membesarkannya.

Akan tetapi, saya tetap optimis. Selama ada kemauan, tekad, doa, dan usaha untuk melakukannya, kesuksesan akan datang menyapa. Insya Allah. Dan, saya pun berharap kesuksesan bisa sudi untuk mampir di tahun ini. Hehehe. Amiiin.

So, happy birthday to me. May Allah always grant His choicest blessing upon me and my family. Ameen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s