Here Comes Trouble


Akhirnya, setelah nyaris empat tahun sejak pertama kali saya menulisnya di akhir tahun 2008, sebentar lagi saya dapat menyaksikan kerja keras saya menjadi kenyataan. Bagian pertama DSC yang ketiga serinya saya kerjakan selama 3 tahun insya Allah akan terbit bulan depan. Alhamdulillah.

Banyak sekali kenangan selama proses pengerjaan hingga proses penerbitan novel saya yang satu ini. Boleh dibilang, DSC tidak pernah lepas dari keseharian saya selama hampir empat tahun ke belakang. Suka, duka, manis, pahit telah saya rasakan. Dari masalah sepele seperti writing block yang membuat DSC sempat hiatus berbulan-bulan, proses editing gila-gilaan, hingga masalah super sepele (:D) ditolak oleh 3 penerbit major… boleh dibilang saya dan DSC melewati banyak tempaan bersama. Namun justru dari sana, kami berdua semakin dewasa dan matang.

Tapi, barangkali, saya curhat berdarah-darahnya lain kali saja deh. Hahaha. Saat ini saya sedang ingin berbagi kebahagiaan!

Jadi, setelah tempo hari yang lalu mendapat beberapa sampel cover buat novel saya, akhirnya muncul juga desain final cover DSC. And I’m very happy to tell you that the cover is AWESOME!

Here it is

DSC Cover by @SyarifahmedArt

DSC Cover by @SyarifahmedArt

So, what do you think? Cool, huh? Kang Ahmad Syarifudin berhasil menciptakan desain cover yang sesuai dengan keinginan saya: simple but strong, bad ass, and mysterious yang merepresentasikan DSC dengan baik. Thank you so much Kang Syarif😀

Setelah melihat desain cover buku ini, banyak yang berkomentar, “Dham, judulnya panjang amat. Nosce te ipsum blablabla.”

Saya jawab saja, “Nosce te Ipsum, Nemo Sine Cruce Beatus itu bukan judulnya.”

“Lho? Bukan? Terus, judulnya apa?”

“DSC.”

“DSC? Terus, kok judulnya ga dicantumin di cover?”

“Emang sengaja kok, karena naro judul di cover depan itu terlalu mainstream.”

Yup, saya memang sengaja meminta agar di cover depan novel saya tersebut tidak perlu dicantumin judul, cukup dicantumin logo DSC-nya saja. Judulnya sendiri saya minta diletakkan di punggung buku saja. Alasannya? Karena saya berharap, saat buku ini nongol di toko buku dan dipajang di rak (hopefully in Best Seller or Recommended Book display *cross fingers*), pengunjung yang melihat akan penasaran, ini buku judulnya apa? Nah, karena penasaran, mereka ambil deh buku saya untuk mencari tahu. Mereka baca blurb-nya, dan syukur-syukur tertarik untuk membeli. Hehehe.

Atau, mereka penasaran dengan “Nosce te Ipsum, Nemo Sine Cruce Beatus” lalu pas diambil, mereka menemukan judul bukunya di punggung buku: “DSC”… and BAM!, mereka pun bertanya-tanya, sebenarnya judul buku ini yang mana? Nosce Te Ipsum blablabla atau DSC? Dari sana, saya berharap mereka penasaran, mencari tahu, lalu syukur-syukur tertarik untuk membeli.😀

So yeah, itulah alasan kenapa saya meminta untuk tidak mencantumkan judul di cover bukunya. Hehehe. Hopefully it works.😀

Sementara soal ceritanya, DSC sendiri mengisahkan tentang sebuah grup rahasia di sekolah asrama. DSC beranggotakan siswa-siswa badung, nekat, eksentrik, sinting, namun cerdas, kreatif, dan banyak akal. So, brace yourself Indonesia! Here comes trouble!

Penasaran? Tungguin ya bagian pertama dari DSC ini bulan depan di toko buku. Doain juga semoga tidak ada kendala yang berarti sehingga novel perdana saya ini bisa cepat dirilis dan didistribusikan ke toko-toko buku. Amiiin…

Nah, sambil menunggu buku saya terbit, kita nunggu bareng John Mayer yuk. Hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s