We Found Pearls in the Hopeful Place


Peserta Lokakarya

Hari Sabtu kemarin (06 Oktober 2012) begitu berkesan buat saya, karena pada hari itu saya menghadiri acara Workshop Penulisan Cerpen Fantasi, bersama rekan-rekan dari Kastil Fantasi. Workshop ini diadakan di Sekolah Smart Ekselensia, Bogor, Jawa Barat. Ini merupakan workshop pertama yang saya ikuti, dan saya malah diminta untuk jadi salah satu narasumber. Uwooo! Padahal niat awal ikut hanya untuk meramaikan suasana saja😀

Yah, lagipula di bangku narasumber sudah ada Bang R.D. Villam (Juri Fantasy Fiesta, penulis Akkadia), Dian Klaudiani (Juri Fantasy Fiesta, Penulis Zauri), dan Om F.A. Purawan (Pemenang Fantasy Fiesta, Penulis Garuda 5), para senior saya di jagat literasi fantasi. Ketiganya sudah banyak malang-melintang di dunia fiksi fantasi, sementara saya cuma newbie yang sampai sekarang masih galau karena novel saya belum kunjung diterbitkan. Hahaha.

Ada dua hal yang membuat saya terkesan pada hari itu. Yang pertama tentu saja acara lokakaryanya. Acara ini diadakan di aula sekolah Smart Ekselensia, dan dihadiri sekitar 40 siswa yang tertarik dalam dunia tulis-menulis, terutama fiksi fantasi. Dua hari sebelumnya, saya mendapatkan e-mail dari Bang Villam, berisi kumpulan cerpen karya peserta lokakarya, dan saya diminta untuk membaca beberapa cerpen di antaranya. Terus terang saya terkesan oleh cerpen-cerpen mereka. Bayangkan! Pada usia yang masih sangat belia (13-16 tahun) mereka sudah bisa membuat cerpen yang imajinatif dan seru. Terus terang saya iri, sebab di usia itu barangkali tulisan saya tidak sebagus mereka. Salut!

Me and Future Best-Selling Writers

Ternyata pada lokakarya kali ini tidak hanya diskusi dan tanya jawab saja. Pada sesi kedua dan ketiga, para peserta dibagi menjadi 4 kelompok, dimana satu kelompok dipandu oleh satu narasumber. Nah pada sesi itu, peserta diminta untuk menceritakan secara singkat cerpen mereka, kemudian dikomentari oleh teman-temannya. Selain itu, narasumber pun diminta untuk memberikan tanggapan serta kritik dan saran pada karya mereka. Tujuannya tentu saja untuk membantu meningkatkan kemampuan menulis mereka. Kebanyakan dari mereka masih lemah dalam penguasaan EYD dasar, serta masih belum mahir menghasilkan ending cerita yang baik.

Tapi ah, semua itu dapat dimaklumi, mengingat mereka masih sangat belia. Terlebih, di sana kami menemukan banyak sekali bibit-bibit penulis berbakat. Malah, beberapa di antara mereka bahkan ada yang sudah pernah mengikuti lomba Fantasy Fiesta. Sebut saja Ahmad Beni (FF 2010), Ahmad Romdani (FF 2010), Ibrahim Akhmad Isa (FF 2011), Aditya Perkasa (FF 2011), dan Rofi Muhammad Nur Al-Asad (FF 2012).

Wow! *Koprol Bogor-Jakarta PP*

Empat di antara mereka bahkan lebih dulu mengikuti ajang Fantasy Fiesta ketimbang saya, dan pada Fantasy Fiesta tahun ini saya bersaing dengan seorang siswa SMP berbakat. Bukankah itu luar biasa? Senang sekali rasanya melihat begitu banyak siswa yang memiliki ketertarikan di dunia tulis menulis. Selain mereka ada juga Ade, Dion, Kabul, Fariz (dia juga hobi menggambar. Indonesia, we got future comic artist over here!), Reynald, Farid, M. Wahyudin Nur (yang satu ini bisa menyelesaikan Rubik Cube dalam waktu beberapa detik saja. Insane!), Juniar, Mufid, dan lain-lain.

Saya bungah! Saya benar-benar gembira! Rasanya, saya tak perlu mencemaskan masa depan dunia sastra Indonesia dengan adanya generasi muda seperti mereka. Hahaha. Mendengar salah satu dari mereka yang mengaku telah melahap habis semua novel yang ada di perpustakaan sekolah membuat saya terharu. Di tengah fakta miris bahwa minat baca generasi muda Indonesia masih tergolong rendah, dia menjadi antitesis yang mengagumkan.

Truly, we found pearls in the hopeful place. Saya sungguh-sungguh yakin mereka akan melampaui saya – bahkan Mas Villam, Dian K, dan Om Pur – dalam beberapa tahun mendatang. Dan saya tak sabar menunggu sepak terjang mereka.

Kemudian, hal kedua yang membuat saya terkesan Sabtu itu ialah sekolah Smart Ekselensia itu sendiri. Kalau boleh jujur, saya baru mengetahui tentang sekolah ini beberapa hari sebelumnya. Padahal saya selalu melewati sekolah itu, bila hendak ke Jakarta via Parung. Sebelum saya ke sana untuk menghadiri workshop, saya sempat mencari tahu tentang sekolah itu di internet, dan saya terkesan. Begitu saya di sana, saya lebih terkesan lagi.

Ini adalah sekolah yang menyantuni anak-anak dari keluarga kurang mampu namun memiliki potensi luar biasa. Mereka menampung dan memberikan pendidikan gratis bagi para siswanya. Ya, gratis. Pendidikan, asrama, makan, kasih sayang… semuanya gratis. Semua berkat zakat dan donasi.

Saya dan yang lainnya (Mas Villam, Dian, Om Pur) sempat diajak berkeliling. Selain aula, kami sempat memasuki masjidnya (untuk shalat berjamaah), dan ruang makan asrama (untuk makan bersama para siswa). Saya sempat pula melihat asrama siswa serta perpustakaannya yang keren. Ah, jiwa guru saya membuncah kembali. Ingin rasanya saya melamar menjadi guru di sana, ikut mendidik para siswa-siswa pilihan dari seluruh negeri. Hahaha.😀

Makan siang di kantin sekolah

Sebuah sekolah yang luar biasa. Sekolah yang berusaha agar bakat, potensi, serta kecerdasan para anak bangsa tidak tersia-siakan, hanya karena faktor ekonomi. Ada momen ketika saya terdiam, memandangi sekeliling, kemudian berkata dalam hati “Subhanallah…” Ini luar biasa. Alangkah meruginya orang-orang di luar sana yang tidak mempercayai – bahkan mencibir – kekuatan zakat. Lihatlah betapa zakat dapat mengangkat derajat anak-anak bangsa yang kelak akan memimpin negeri ini. Saya pun berpikir, kapan ya kiranya saya dapat ikut berpartisipasi menjadi orang tua asuh? Atau kakak asuh deh, karena saya masih muda. Hahaha😀

Semoga suatu hari saya bisa memberikan kontribusi – apa pun itu – untuk membantu satu saja anak bangsa ini untuk mendapatkan pendidikan yang berhak mereka terma. Amiin.

Kembali ke workshop, alhamdulillah, berlangsung dengan lancar. Semoga lokakarya sederhana ini dapat memberikan manfaat, semangat, serta inspirasi bagi para pesertanya untuk terus menulis. Di akhir acara, kami – para narasumber – mendapat oleh-oleh luar biasa, berupa gambar karya Rofi, sebagai kenang-kenangan.

Karya Rofi

Sungguh sebuah hari yang menyenangkan.

Buat teman-teman di Smart Ekselensia… tetap menulis, serta kejarlah impian dan passion kalian.

Tertarik untuk mengunjungi Smart Ekselensia? Visit Them Now.

10 thoughts on “We Found Pearls in the Hopeful Place

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s