The Last Day of Magic


Beberapa hari yang lalu saya mendapat telepon dari penerbit, yang mengabarkan bahwa saya diterima bekerja di tempat mereka. Sebuah kabar yang cukup menggembirakan buat saya. Akan tetapi, begitu saya selesai bicara dengan pihak HRD penerbit, saya tiba-tiba teringat–dan mendadak ada kekosongan yang tiba-tiba datang–dengan murid privat saya.

“Lalu, bagaimana dengan Naufal?”

Bisa dibilang, Naufal adalah murid privat pertama saya, sekaligus murid terakhir yang saya ajar, sebelum saya “alih profesi” dari guru menjadi editor. Kami bertemu satu setengah tahun yang lalu, sewaktu dia masih duduk di kelas tujuh, semester dua.

Pertemuan biasa, kasual, bahkan sedikit canggung. Saya duduk di sofa sementara dia duduk di sofa panjang di sebelah saya. Saya yang memulai pelajaran, sementara dia lebih banyak diam mendengarkan. Memang, dia tidak banyak bicara. Entah karena dia memang pendiam atau sekedar malu / sungkan pada saya. Tapi, saya berusaha sebisa mungkin untuk mengajaknya berbicara dan berinteraksi dengannya, supaya kegiatan belajar mengajar tidak berlangsung monoton.

Saya pun masih ingat, waktu itu saya memberi dia sedikit tes untuk mengetahui sejauh mana dia menguasai bahasa Inggris. Ibunya bilang Naufal mengalami kesulitan memahami pelajaran, sebab gurunya di sekolah selalu berinteraksi dengan para siswa menggunakan bahasa Inggris. Tapi saya pikir, selain conversation dan listening Naufal tidak mengalami banyak kesulitan dalam mata pelajaran ini. Rupanya ekspektasi saya agak terlalu tinggi, begitu tahu Naufal mendapatkan nilai 5 pada tes yang saya berikan.

Hmmm… sepertinya saya perlu berusaha keras untuk mengajari murid saya yang satu ini.

Pelajaran pertama yang saya berikan adalah tentang verbs, dengan harapan apabila dia sudah menguasai kata-kata dasar seperti verbs, adjective, noun, dan adverb dia tidak akan kesulitan dalam tenses. Terlebih saat itu saya mulai mengajari Naufal sebulan sebelun UAS dimulai. Jadi, saya perlu cara cepat untuk membuat Naufal memahami beberapa tenses, hingga dia tak perlu mengalami kesulitan saat ujian.

Dan, untungnya Naufal mudah menyerap pelajaran, sehingga alhamdulillah dia bisa mendapatkan nilai bagus di rapornya. Nilai 8 itu cukup bagus, kan?😀

Maka dimulailah serangkaian pertemuan kami, setiap Senin dan Rabu, pukul 16.30-18.00. Terus terang, saya tidak memiliki latar belakang pendidikan untuk menjadi guru. Saya tidak begitu sistematis dalam memberikan pelajaran. Dalam artian, saya lebih fokus memperbaiki kekurangan-kekurangan Naufal, lalu meningkatkan kelebihan-kelebihannya; ketimbang mengikuti silabus, kurikulum, dan semacamnya. I think–at this point–I’m a bad teacher. Hahaha.

Pelajaran yang saya berikan pun tidak memulu dari buku pelajaran atau modul. Terkadang saya memberikan kuis dan games sederhana supaya Naufal tidak bosan mengikuti pelajaran. Kadang kami bermain hangman, kadang merangkai kalimat dari kata-kata yang dipilih secara acak, menerjemahkan cerita, dan lain sebagainya. Bahkan untuk listening test saya hanya menyuruhnya mendengarkan sebuah lagu, mengingat saya tidak memiliki tools untuk melakukan listening test seperti di sekolah.

Yah, tak apalah. Lagipula saya bisa memperkenalkan dia dengan beberapa musisi atau grup band paten, yang barangkali belum pernah ia dengar sebelumnya. Saya pernah menyuruhnya mendengarkan lagu-lagu dari Young the Giant, Foster the People, Muse, Florence and the Machine, Macy Gray, Eliza Doolittle, hingga… Marilyn Manson. Hahaha.

Terkadang kejenuhan memang ada. Malas juga. Saya paham Naufal adalah anak praremaja yang masih kepingin bermain ketimbang belajar, sehingga terkadang dia pulang telat gara-gara keasyikan bermain sepak bola atau futsal–olahraga favoritnya. Atau terkadang saya merasa dia sengaja mengulur waktu, biar tidak usah lama-lama les dengan saya. Entah karena ketiduran, atau ingin makan / mandi dulu. Saya sering harus menunggu 15-30 menit sebelum pelajaran akhirnya bisa dimulai.

Sebal? Actually… no. Herannya, saya tidak pernah merasa sebal. Entah kenapa, saya sangat menikmati hari-hari saya sebagai guru. Sepertinya saya boleh berbangga diri dengan mengatakan saya ini guru yang cukup rajin, sebab hanya absen mengajar apabila hujan deras, atau jika ada keperluan penting yang tidak bisa saya tinggalkan.

Rasa malas mengajar memang ada. Tapi, kalau sedang malas, biasanya saya beri Naufal tes, atau tidak belajar sama sekali. Saya pernah mengajar hanya membawa alat tulis dan sesampainya di rumah Naufal saya bilang, “Ya, karena kakak lagi malas mengajar–plus kakak tidak membawa materi untuk mengajar… kita main Scrabble saja, yuk!” Hahaha. Again, I think I’m such a bad teacher.😀

FYI, kami sempat dua kali bermain Scrabble, dan dua kali pula saya kalah dari Naufal. Saya bahkan tidak sengaja mengalah. I’m such a lousy Scrabble player and proud teacher! :3

Menjadi guru pun memberikan banyak manfaat bagi diri saya sendiri. Terus terang, sebelum menjadi guru, saya sama sekali tidak menguasai tenses. Saya pandai berbahasa Inggris barangkali berkat latihan sejak dini, serta terbiasa dengan bahasa ini (baik melalui musik, film, dan lain sebagainya). Saya baru menguasai masalah tenses sejak saya jadi guru, sebab saya perlu menerangkannya pada siswa.

Selain itu, saya pun harus melatih kesabaran, sebab mengajar anak kecil bukanlah perkara mudah. Saya harus kreatif dan banyak akal, supaya siswa-siswi saya tertarik pada mata pelajaran ini, dan–lebih penting lagi–supaya mereka memahami bahasa asing yang satu ini. Buat Naufal, sepertinya saya cukup berhasil menanamkan minat serta rasa ketertarikannya untuk belajar bahasa Inggris. Namun, masalah tidak selesai begitu saja.

Naufal nampaknya tipe siswa yang agak mirip dengan saya sewaktu saya seusia dia dulu. Dia tipe murid yang cepat puas. Apabila sudah merasa bisa, maka dia akan menggampangkan masalah. Dan, itulah yang terjadi. Karena dia merasa sudah bisa berbahasa Inggris, dia cenderung meremehkan pelajaran yang dulu sempat membuatnya terseok-seok. Alhasil, kendati dia sanggup mendapatkan nilai 8 dengan mudah, tapi dia masih jarang meraih nilai 9 atau pun 10.

Rasa cepat puasnya itu sering kali membuatnya tidak teliti dalam mengerjakan soal / tes / ujian. Ada saja satu-dua batu sandungan yang mencegahnya meraih nilai 9 atau 10. Terkadang gemas juga, sebab saya tahu dia mampu mendapatkan nilai 9 atau 10. Namun, sebagai guru, saya juga tidak bisa memaksakan. Saya perlu mendorongnya, memberi semangat juga nasihat, namun tidak boleh memaksakannya. Saya terus mencari cara terbaik agar dia bisa mengatasi kelemahan-kelemahannya itu.

Saya juga senantiasa mengajarinya supaya jujur dalam mengerjakan soal, tanpa perlu menasihatinya secara lisan. Okelah, sewaktu belajar privat, dia hanya belajar sendiri dengan saya sehingga tidak bisa mencontek. Akan tetapi, saya tetap menanamkan rasa percaya pada dirinya. Setelah mengerjakan soal, biasanya kami membahas jawaban bersama, dan saya selalu membiarkan dia untuk menghitung nilainya sendiri. Dari sana, dia bisa saja mengakali nilainya sendiri, misalnya mengaku kalau dia mendapatkan nilai 9, padahal sebenarnya hanya mendapatkan nilai 8,5. Namun, saya terus memberikan kepercayaan padanya, tetap memberikan senyum atau pujian atas kerja kerasnya. Kalau pun dia ketahuan berbuat curang, saya hanya sedikit menyindirnya dengan bilang “You’re better than this, and you know that.” Dan, Alhamdulillah, it works. It really works. Dari pada melarangnya mencontek, lebih baik menanamkan persepsi bahwa menyontek itu tidak keren.

So yeah, intinya, saya selalu menikmati hari-hari saya sebagai pengajar. Saya tidak bisa bilang saya ini guru terbaik buat murid-murid saya, tapi paling tidak saya berusaha memberikan yang terbaik buat mereka. Sayangnya, hari-hari itu harus usai (atau paling tidak saya tunda dulu hingga entah sampai kapan). Dengan berat hati saya perlu melepas tanggung jawab saya sebagai guru demi mencoba tantangan baru sebagai seorang editor.

Jujur–dan barangkali ini terdengar sangat cengeng–saya sempat menitikkan air mata, sewaktu saya berangkat untuk mengajar Naufal untuk yang terakhir kalinya. Rasanya berat sekali untuk berhenti menjadi gurunya. Masih banyak hal yang ingin saya ajarkan padanya. Masih banyak metode pengajaran yang ingin saya jajal bersamanya. Saya baru sempat memberikannya video test satu kali dan berniat melakukannya lagi, tapi nampaknya hal itu tak dapat diwujudkan.

Dan, sebenarnya, saya ingin sekali menyaksikannya lulus SMP dengan nilai bahasa Inggris yang menakjubkan. Saya benar-benar ingin menjadi sahabat yang menemani dan membantunya sampai hari itu tiba. Tapi, yah, manusia bisa berencana namun Tuhanlah yang memutuskan. Dengan berat hati, saya harus mengucapkan kata perpisahan, seminggu sebelum ia menempuh UTS.

Akan tetapi, saya tidak khawatir. Tidak. Saya sangat sangat percaya Naufal akan tetap bisa mempertahankan bahkan meningkatkan prestasinya itu. Saya meninggalkannya sewaktu dia sudah bisa menguasai bahasa Inggris dengan baik. Dan, saya tidak memiliki sedikit pun kecemasan sewaktu mengucapkan sampai jumpa lagi padanya.

“Rajin belajar, terus berusaha, banyak berdoa, dan kakak yakin apa pun yang akan kamu lakukan, kamu pasti bisa.” Itu nasihat terakhir saya untuknya.

Barangkali, perpisahan kami tidak “wah” seperti ending di film-film. Malah, anehnya, perpisahan kami tidak terasa menyedihkan. Tidak ada adegan mengharu-biru ekstra norak atau semacamnya. Seperti layaknya pertemuan pertama kami, perpisahan kami pun berlangsung kasual.

Tapi bukan berarti tidak berkesan sama sekali. Saya terharu sekali sewaktu Naufal begitu fokus mengerjakan tes terakhir yang saya berikan. Hasilnya? Dia mempersembahkan nilai 10, untuk tes persiapan UTSnya tersebut.

Hati saya bungah seketika.

Saya langsung teringat saat Naufal mengerjakan tes pertamanya. Dia terlihat kesulitan dan hanya mampu memberikan nilai 5. Sekarang–sewaktu dia mengerjakan tes terakhir dari saya–dia bisa mengerjakan soal dengan tenang, dengan santai, dan memberikan nilai 10, seolah itu bukan hal yang sulit buatnya. Buat seorang guru, itu adalah pengalaman yang menakjubkan. Dan, hanya butuh waktu satu setengah tahun saja untuk mewujudkannya. Hanya perlu waktu satu setengah tahun untuk mengantarkan Naufal mendapatkan nilai 10.

Buat saya, itu adalah salah satu prestasi yang sangat membanggakan. Paling tidak itu membuktikan kalau, hei, sepertinya saya bukan guru yang buruk. I think I’m not a bad teacher afterall.😀

Sebuah high-five dan sebatang coklat Cadbury saya berikan sebagai hadiah, karena dia telah sanggup melebihi ekspektasi saya. Awalnya saya mengatakan “Kakak akan senang sekali kalau kamu bisa mendapatkan nilai 9,” Dan… dia memberikan lebih.

Setelah itu, kami pun berpamitan, meninggalkan pekarangan rumah Naufal yang barangkali tidak akan saya jejaki lagi. Di hati sudah tidak ada lagi kesedihan. Tidak ada lagi air mata yang menitik. Yang ada hanyalah senyuman.

Saya pun sempat teringat cerita ibunya Naufal pada suatu hari. Saat itu, masa mengajar saya sudah habis (saya telah memenuhi kuota 40 kali pertemuan / semester), dan saya tidak tahu apakah Naufal akan melanjutkan lesnya lagi bersama saya atau tidak. Jadi, di hari terakhir pertemuan kami saat itu, saya pun sempat mengucapkan kata perpisahan. “Semoga kamu senang belajar dengan kakak, karena kakak sangat senang belajar dengan kamu. Kakak minta maaf kalau ada kata-kata atau perlakuan yang salah, dan… sampai jumpa lagi.”

Nah, rupanya, sewaktu saya pergi Naufal sempat berlari ke kamarnya, dan memandangi kepergian saya dari balik jendela. Naufal juga bilang, “Bu, Naufal nggak bisa lagi les privat sama Kak A lagi, ya?” Mendengar cerita itu saya sempat terkejut, sementara Ibunya Naufal tertawa kecil menanggapi tingkah-polah anak tengahnya tersebut. Saat itu pula, ada rasa hangat menyenangkan yang mengalir di hati saya. Ada rasa bangga, haru, sekaligus gembira. Tanpa saya sadari… ternyata Naufal senang belajar dengan saya.

Percayalah, kebahagian yang saya rasakan saat itu benar-benar tak ternilai harganya. Priceless.

Pada akhirnya, saya diminta kembali untuk mengajar Naufal selama satu semester lagi. Kali ini saya menjajal kemampuan Naufal, dan mencoba untuk meningkatkan potensinya itu. Hasilnya lumayan. Meski dia masih duduk di kelas 8, dia sudah bisa mengerjakan soal-soal UAN kelas 9, dan mendapatkan nilai 8. Not bad, right?

Kalau pun ada sedikit penyesalan sewaktu saya berpamitan dengan Naufal ialah saya tak sempat mengajaknya bermain bola bersama. Saya tahu Naufal sangat gemar bermain bola (bahkan bercita-cita untuk menjadi atlet sepak bola profesional). Saya pun sempat kepikiran untuk bermain bola sembari belajar bahasa Inggris dengannya. Sayang, dikarenakan saya tidak pandai bermain bola, saya selalu menunda-nunda hingga akhirnya tidak kesampaian. Itulah penyesalan kecil saya.

Tapi, ah, semoga saja Naufal tetap senang belajar bersama saya. Dan, saya akan merindukan pertemuan-pertemuan kami setiap hari Senin dan Rabu sore itu. Begitu banyak momen-momen menyenangkan yang pada akhirnya menjelma menjadi sebuah kenangan yang tak mungkin terlupakan. Senyum ini akan selalu menjadi tribute bagi seluruh kenangan-kenangan indah tersebut.

And Naufal, if you read this… carpe diem! Seize your day! Catch your dream, lad! I know you can do it!

Any question? No?

Okay then. If you don’t have any question, I hope you enjoy our lesson, thank you very much, and… see you next time.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s