Siklus Anomali


Jeritan-jeritan membahana kembali. Malah, ada seorang wanita yang sampai pingsan. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku sendiri masih tak percaya dengan apa yang terjadi.

Dilanda kebingungan, aku bangkit dan mengambil langkah seribu. Lari, lari, lari, dan berlari. Aku berlari tak tentu arah, lari seperti orang gila, bahkan berteriak-teriak seperti mereka.

Rasanya aku betul-betul gila. Ragaku yang tidak mengenakan sehelai pakaian pun masih bergetar. Darah-darah yang menempel di sekujur tubuhku nyaris mengering di bawah sengatan sinar matahari.

Apa yang terjadi? Apa yang telah terjadi?

AAAAAAAAAARGH!”

Lengkinganku bergema tak terkendali. Dalam keputusasaan, aku terus berlari. Dalam kegilaan, aku terus berlari.

Kudengar suara peluit dan seruan-seruan lantang dari belakang. Polisi. Mereka mengejarku! Oh tidak! Aku tak mau dipenjara! Aku—

UARGH!”

Sia-sia. Upayaku melarikan diri sia-sia. Badanku ditubruk dari belakang, kami jatuh ke rerumputan, dan aku segera dibekuk.

*

Aku menjerit, menubruk dinding, dan jatuh ke lantai yang dingin. Itu adalah tinju kesekian kalinya yang mendarat ke wajahku. Aku yakin mukaku disesaki lebam sampai tak dapat dikenali lagi.

Bagian badanku yang lain juga terasa sakit. Mereka meninjuku, memukulku, menendangku, gara-gara aku terus menjawab, “Saya tidak tahu”, “Saya tidak bersalah”, “Tolong lepaskan saya”, dan sebagainya.

Mereka menilai aku tidak kooperatif, membangkang, membandel. Padahal, demi seluruh tuhan yang dikenal umat manusia, aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.

Hari sudah malam. Aku berada di ruangan interogasi selama enam jam lebih. Dua jam pertama aku ditanyai, lalu dibentak karena menjawab “Saya tidak tahu.”

Dua jam kedua aku dibujuk, diiming-imingi keringanan hukuman jika aku mengaku. Aku harus mengaku apa? Toh aku sendiri tidak paham dengan apa yang telah terjadi.

Dua jam ketiga tamparan dimulai, mimpi buruk dimulai.

Namun akhirnya–setelah menghadiahiku bogem mentah bertubi-tubi–mereka mulai berpikir aku mengalami gegar otak ringan, atau hilang ingatan sementara, atau semacamnya. Mereka memutuskan untuk menyudahi interogasi hari ini. Besok, mereka akan membawaku ke dokter. Bila ingatanku sehat-sehat saja–dengan demikian aku terbukti memang membangkang–mereka akan menyiksaku lebih hebat lagi.

Itu peringatan dari mereka.

Untuk sekarang, aku dijebloskan ke kamar tahanan, sampai pagi hari merekah. Aku meringkuk di pojok ruangan kecil yang dingin itu. Dan, aku mulai menangis. Aku laki-laki dewasa dan aku mulai menangis… lagi.

Apa yang terjadi? Apa yang sudah kuperbuat? Kenapa aku telanjang bulat dalam keadaan bersimbah darah? Apa salahku? Mengapa aku tidak ingat apa-apa?

Aku tentu saja masih ingat peristiwa-peristiwa yang kualami di kantor polisi ini. Setelah ditangkap, aku dibawa kemari. Aku diperiksa, dipotret untuk keperluan dokumen kasus, disuruh mandi guna membersihkan darah kering di badanku, diberi pakaian, diberi minuman hangat untuk menenangkan diri, barulah diinterogasi.

Aku tak begitu ingat jalannya interogasi. Pikiranku kacau pada dua jam pertama. Aku gemetar, bingung, takut, linglung, sesekali menangis. Akan tetapi, ada beberapa fakta yang dibeberkan mereka padaku dan yang perlu kulakukan ialah mengakui semuanya.

Rupanya, menurut penyelidikan mereka, aku ini pembunuh.

Aku telah membunuh seorang pria. Kebetulan pula, dia adalah napi yang berusaha kabur dari kejaran polisi. Pak Nyoman–polisi yang memimpin jalannya interogasi–mengatakan seharusnya aku bisa jadi pahlawan, andaikata aku tidak membunuhnya tapi cuma menangkapnya.

“Dia seorang perampok dan pemerkosa. Dia memang pantas mati mengenaskan seperti itu. Namun, tidak ada alasan bagimu untuk membunuhnya,” kata Pak Nyoman. “Lagipula, kamu ini siapa? Apa hubungan antara kamu dengannya? Kamu kerabat salah satu korbannya? Kamu dendam padanya?”

Sungguh aku tidak tahu.

Aku tidak ingat pernah dendam pada siapa pun, apalagi berniat menangkap penjahat. Dan, aku sama sekali tak ingat pernah membunuh orang.

Nyatanya, itulah yang terjadi.

Mereka memamerkan pula foto-foto hasil penyelidikan di TKP. Aku hampir muntah melihat kondisi korban. Kalau aku memang pernah membunuh, sebengis itukah diriku?

Keadaan si korban begitu mengenaskan, bersimbah darah. Tergeletak di jalan dengan rahang bawah yang lepas dari engselnya, serta luka robek yang luar biasa besar dari leher hingga perut.

Mengerikan! Sungguh mengerikan!

Aku tak percaya itu ulahku, jujur saja. Lagipula, bagaimana dan dengan apa aku membunuh si napi nahas itu, sehingga kondisi jasadnya begitu memprihatinkan. Itu pulalah salah satu pertanyaan yang diajukan polisi padaku.

Aku menjawab, aku tidak tahu. Mereka bersikeras memaksaku untuk membuka mulut. Mereka yakin aku menggunakan sejenis parang untuk membunuh korban, lantas membuang senjata itu sewaktu aku berusaha melarikan diri.

Terdengar masuk akal, tapi tetap non sense buatku. Aku ingat aku berlari tanpa membawa apa-apa, bahkan tanpa mengenakan apa-apa.

Polisi bingung, aku sama bingungnya. Saat mereka sudah kehabisan ide untuk membuatku menumpahkan segala kebejatanku, mereka mulai menggunakan cara kasar. Aku mengerang, merasakan lebam-lebam di tubuhku berdenyut kembali.

“Mengakulah! Kalau tidak, akan kami buat kau menyesal!” ancam Pak Nyoman.

Tak ada yang keluar dari mulutku selain penyangkalan serta jerit kesakitan akibat dihajar oleh dua-tiga orang polisi.

Tamparan lagi. Beberapa kali pukulan lagi. Akhirnya mereka menyudahi sesi pemeriksaan. Pak Nyoman dan anak buahnya melemparku ke dalam sel.

“Kau benar-benar binatang!” geram Pak Nyoman, memandangku muak. “Aku tidak tahu apa kepercayaanmu, tapi kusarankan kau untuk mengaku dan segera bertobat. Paling tidak, saat mati nanti kau tidak akan bereinkarnasi menjadi makhluk yang lebih rendah lagi.”

Maka, di sinilah aku, meringkuk di bui nan dingin. Aku tidak bisa tidur lantaran badanku sakit serta ngeri memikirkan esok hari. Bila dokter membuktikan aku sehat-sehat saja… habislah aku…

Aku harus bagaimana?

Aku terus meratapi nasibku, sampai… T-Tunggu dulu—!

Dokter? Besok aku akan dibawa ke dokter, kan? Itu artinya aku dibawa keluar dari sini kan? Plus, tadi siang aku membunuh seorang napi. Lebih tepatnya: napi yang kabur.

Berarti… aku punya kesempatan untuk kabur. Ya, kan?

Pikiran gila itu kontan merasuk. Konflik bergegas menyerbu. Antara takut dan nekat. Antara pasrah saja dan mencoba keberuntunganku.

Bagaimana bila kau ditembak mati saat mencoba kabur? Ah, lebih baik mati daripada di penjara untuk kesalahan yang tidak kuperbuat! Terima sajalah, siapa tahu ada keringan hukuman. Tidak! Enak saja! Aku tidak bersalah kenapa mesti ditahan? Terlebih, jika aku sukses melarikan diri, aku bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Aku akan buktikan bahwa aku bukan pembunuhnya! Akan kukuak rahasia dan fakta yang sebenarnya! Akan kupulihkan nama baikku! Aku tidak mau ketidakadilan ini berlanjut dan berlarut-larut!

Ya! Pada akhirnya, kuputuskan untuk mencoba kabur.

Besok, akan kupertaruhkan nyawa ini demi sebuah kebebasan. Kemerdekaan. Kebenaran.

*

Pagi harinya, aku dikeluarkan untuk makan dan mandi. Pukul setengah sebelas, aku dipersiapkan untuk dibawa ke dokter. Pak Nyoman sempat membujukku sekali lagi, tapi jawabanku tetap sama. “Saya bersumpah, Pak, saya tidak tahu menahu.”

Dia cuma mendengus jengkel. Selanjutnya, aku dibawa ke rumah sakit kepolisian menggunakan mobil tahanan. Di dalam, aku diam saja, memikirkan masak-masak rencana nekatku nanti. Aku harus tetap siaga. Kesempatan sekecil apa pun bisa memengaruhi keberhasilan atau kegagalan.

Sepersekian detik yang berharga harus bisa kumanfaatkan.

Lima belas menit kemudian, kami sampai di tujuan. Aku dibawa turun, dikawal dengan ketat masuk ke dalam rumah sakit. Aku nyaris tak memperhatikan ke mana kami melangkah, terlalu berkonsentrasi menunggu datangnya kesempatan.

Kesempatan, di mana kamu sekarang? Lekaslah tiba!

Akhirnya, kesempatan yang kutunggu hadir juga. Cengkraman polisi di lenganku mengendur. Tubuhku bereaksi. Otakku memerintahkan sikutku untuk menghajar perut polisi itu dengan keras, selanjutnya kakiku berputar dan membawaku lari.

Suasana rumah sakit langsung ramai dan tegang. Aku menubruk kencang siapa saja yang ada di depanku.

“HEI! BERHENTI!” seru Pak Nyoman.

Enak saja! Aku tahu kalian takkan bisa menggunakan pistol sembarangan di lokasi seramai ini.

Aku bisa! Aku pasti bisa kabur!

Satpam di depan kutubruk juga, sekaligus kutonjok, lalu lari lagi.

Aku sampai di halaman rumah sakit. Aku memandang ke sekeliling sambil terus berlari. Bagus! Rumah sakit ini ada di tempat yang ramai! Aku hanya perlu berkelit lincah guna menghindari peluru polisi.

Aku masuk ke jalan tengah kota. Suara klakson menggila, decit rem kendaraan menggema, tatkala kuseberangi jalan begitu saja. Maaf, tapi di saat seperti ini, harus kumatikan sejenak rasa bersalahku.

DOR!

Aku terkejut mendengar suara letusan. Tembakan peringatan pertama! Gawat!

Kejar-kejaran ini berlangsung menyeramkan. Aku berbelok, masuk ke dalam pasar. Kepanikan melanda. Aku terus maju merengsek seperti banteng liar. Ada beberapa yang mencoba menangkapku, tapi aku berhasil meloloskan diri.

DOR!

Tembakan ke—bukan! Bukan tembakan peringatan ke udara… melainkan ke tubuhku! Ada rasa panas yang menyengat sisi kiri badanku. Perutku bocor tertembus timah panas.

Aku terbelalak melihat tanganku basah dengan darah, begitu kusentuh bagian yang luka.

“Oh tidak… Tidak! Tidak! TIDAK!”

Ini gawat! Ini gawat! Aku terluka! Bagaimana ini?! Ah, mereka mengejar! Lari saja dulu! Lari!

Kuturuti perintah impulsif dari otakku. Lari, lari, lari, lari, lari! Pokoknya lari!

Brengsek! Semakin cepat aku berlari, semakin lebar lukaku dan semakin banyak cairan merah yang keluar. Napasku tersengal-sengal, pandanganku dirubungi kunang-kunang, darahku berceceran di tanah.

Gawat… Gawat… Sepertinya… aku akan segera… mati.

Aku tak kuat lagi… Aku tak tahu seberapa jauh aku berlari, seberapa jauh polisi di belakangku… Aku tahu mereka sudah kehilanganku… hanya saja, upayaku nampaknya tetap akan berakhir percuma…

Aku ambruk ke aspal pinggir jalan… Kudengar pekikan ngeri para warga sekitar yang semakin lama semakin sayup… semakin lama semakin…

Kesadaranku menghilang…

Ah… aku mati…

Sial…

*

Gelap.

Aku di mana? Akhirat?

Sepertinya bukan. Mungkin alam kubur.

Sudah berapa lama aku di sini?

Gelap.

Apa aku sekarang berada di dalam peti mati? Sempit. Menyesakkan.

Gelap.

Eh, tunggu! Aku melihat cahaya! Apa aku bermimpi? Apa aku berhalusinasi? Apa itu ujung lorong gelap nan panjang yang akan membawaku ke akhirat?

Haruskah aku menghampirinya? Kucoba deh. Toh, tidak ada salahnya.

Cahaya yang kadang meredup, hilang, namun kemudian muncul lagi. Percayalah, bukan usaha yang mudah untuk mencapai ke sana.

Aku tak tahu aku berada di mana. Sepertinya berada di gua bawah tanah yang sempit. Aku nyaris tak dapat menggeser bahu-bahuku. Untungnya tanah di sini liat dan basah, sehingga aku mampu bergerak meski harus melata seperti ular.

Dan, lubang ini bau sekali. Aku seperti berada di antara tumpukan mayat.

Aku terkesiap, merasakan dingin menjalar cepat. Mayat? Mungkinkah aku memang beringsut di antara tumpukan mayat?

Aku tak bisa melihat apa-apa di tempat segelap ini–aku sama butanya dengan kelelawar. Maka, aku cuma bisa mengandalkan indra perabaku untuk mencari tahu kira-kira di tempat seperti apa aku berada sekarang. Hasilnya? Aku memang tidak bisa menebak di mana aku berada, namun setidaknya aku yakin–semoga saja–aku tidak berada di gundukan mayat.

Aku bergerak lagi. Berhenti sebentar, begitu mendengar ada suara geraman berat. Seperti suara hewan buas! Ada juga suara seperti orang tersedak.

Suara apa itu?!

Sial! Aku tak tahu menahu, meski jelas sekali aku tak boleh berada di sini lama-lama! Aku harus keluar cepat-cepat! Mengabaikan lumpur becek, bau amis, serta gaung misterius, aku bergerak maju!

Cahaya di depanku semakin dekat! Sialnya, lorong yang kulalui semakin sempit!

“Ayolah!” erangku, frustrasi, memaksakan tubuhku untuk keluar dari gua aneh itu.

Ada suara-suara lagi. Kali ini teriakan. Dari mana asalnya? Dari luar gua? Jangan-jangan aku akan memasuki neraka!

“Jangan pedulikan itu sekarang!” omelku, pada diriku sendiri.

Kuulurkan salah satu lenganku. Ada suara tercekat begitu ujung-ujung jariku menyentuh cahaya. Kurasakan pula ada kehangatan serta embusan sejuk yang menggelitiki jemariku. Sepertinya aku benar! Cahaya itu adalah pintu keluar dari gua mengerikan ini!

Tapi, bagaimana caranya aku keluar? Lubang di depanku terlalu sempit! Aku seperti bayi yang tengah berupaya keluar dari rahim ibu.

Harus kugali! Tanah ini liat, siapa tahu aku bisa menciptakan lubang yang lebih besar, bila kugerus dengan jemari dan kuku-kukuku. Maka kuulurkan lenganku yang satunya lagi, teriakan-teriakan lagi.

Duh, suara-suara apaan sih itu?

Aku tak sempat memikirkan hal tersebut sementara aku berusaha memperlebar pintu keluarku yang entah akan mengantarkanku ke mana. Aku mengerahkan seluruh tenaga, mendengar suara berderak seperti ada dahan pohon yang patah, dan lubang itu menganga lebih lebar.

Berhasil!

Diliputi kegembiraan, aku menyerbu keluar dengan susah payah. Bersikeras membobol lubang itu sekuat tenaga, mendengar ada suara derak lagi, dan kepalaku menyembul keluar!

Udara segar serta-merta menyerbu ke dalam paru-paruku, dan cahaya terang membutakan mataku. Aku berseru, menyemangati diri sendiri untuk menarik tubuhku keluar dari lubang mengerikan itu.

Akhirnya, aku pun keluar! Dengan terengah-engah, aku keluar dari lubang itu, terguling ke tanah yang terasa panas.

Di mana aku? Neraka? Surga?

Aku mengerjapkan mata, membiarkan indra penglihatanku terbiasa dengan sinar yang teramat terik setelah terkungkung entah berapa lama di dalam kegelapan. Kulihat ada siluet-siluet yang menggerubungiku.

Siapa mereka? Iblis? Malaikat?

Aku ternganga. Bukan keduanya. Yang kulihat malah segerombolan manusia! Mereka orang-orang yang mati juga? Kalau iya, mengapa mereka memandangku dengan ngeri begitu? Mengapa mereka melihatku seakan aku ini alien dari luar angkasa?

Seorang wanita menjerit, menyadarkanku dari lamunan. Kemudian, giliran aku yang menjerit. Lantang! Sangat lantang, sampai aku melompat ke belakang, begitu melihat apa yang ada di hadapanku.

“A-APA I-ITU?!”

Tidak pernah kujumpai kengerian macam ini sebelumnya! Tak pernah pula kupikirkan akan menjumpai hal seperti ini kelak di neraka! Di depanku, terbujur di sisi jalan, ada seonggok jasad manusia, tewas dalam keadaan mengerikan.

Aku hampir muntah melihat kondisinya yang bersimbah darah. Tergeletak di jalan dengan rahang bawah yang lepas dari engselnya, serta luka robek yang luar biasa besar dari leher hingga perut. Mengerikan! Sungguh mengerikan!

“Di-Dia… Pria Itu! Di-Dia… ke-keluar dari dalam p-pria ini…” Kata salah seorang pria, terbata, pucat pasi, menunjuk diriku, lalu menunjuk mayat di depanku.

Aku melihat diriku sendiri. Mataku terbeliak! Aku tak mengenakan sehelai pakaian pun, dan berlumuran darah yang semula kukira lumpur.

Pikiran-pikiran mengerikan segera menerjang. Ja-Jadi… yang kubuka paksa tadi bukan lubang gua? Ja-Jadi… suara berderak tadi bukan patahan dahan pohon? Ja-Jadi… Badanku gemetar, napasku memburu.

Mustahil! Ini mustahil!

Kulihat lagi raga mati memprihatinkan di depanku. Kuperhatikan sisa wajahnya, postur tubuhnya, pakaiannya… D-Dia itu… a-aku?

“…Aku tidak tahu apa kepercayaanmu, tapi kusarankan kamu untuk mengaku dan segera bertobat. Paling tidak, saat mati nanti kau tidak akan bereinkarnasi menjadi makhluk yang lebih rendah lagi...”

A-Aku… be-bereinkarnasi? …

AAAAARGH! APA-APAAN SEMUA INI?!”

Jeritan-jeritan membahana kembali. Malah ada seorang wanita yang sampai pingsan. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku sendiri masih tak percaya dengan apa yang terjadi.

Dilanda kebingungan, aku bangkit dan mengambil langkah seribu. Lari, lari, lari, dan berlari. Aku berlari tak tentu arah, lari seperti orang gila, bahkan berteriak-teriak seperti mereka. Rasanya aku betul-betul gila.

Apa yang terjadi? Apa yang telah terjadi?

AAAAAAAAAARGH!”

Lengkinganku bergema tak terkendali. Dalam keputus-asaan, aku terus berlari. Dalam kegilaan, aku terus berlari.

Gila. Gila. Gila. Ini gila!

Ya, sepertinya aku memang betulan jadi gila.

***

Notes: Penulis sama sekali tidak memiliki maksud untuk menyinggung agama atau aliran kepercayaan mana pun berkenaan dengan topik reinkarnasi yang ditulis di cerita ini. Topik dan cerita yang dituturkan murni untuk kepentingan penulisan kisah fiksi belaka. Harap menjadi maklum dan terima kasih untuk pengertiannya.

[A short-story by Adham T. Fusama]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s