Cinta Abadi


Aku mengatur boneka-boneka itu di atas karpet, menyusun mereka sedemikian rupa supaya terlihat cantik saat kufoto nanti. Kamera DSLR-ku sudah siap, menunggu untuk beraksi di atas tripod. Lampu siap, set siap, model pun telah siap. Sempurna. Aku puas. Aku yakin aku akan menghasilkan foto yang sesuai dengan keinginanku.

Selanjutnya, aku memposisikan sang model untuk duduk di antara boneka-boneka imut tersebut. Pakaiannya untuk pemotretan kali ini: gaun dengan rok mengembang, pita, renda, ruffle, plus topi yang sesuai. Dia terlihat bak Victorian doll.

Sebenarnya, tanpa mengenakan pakaian itu pun si model sudah mirip boneka. Usianya baru 22 tahun. Wajahnya oval dengan bintik-bintik di pipinya. Rambutnya keriting mengembang warna tembaga. Matanya bundar, dengan selaput mata sewarna rambutnya. Hidung mungil, bibir berisi. Sungguh jelita.

Aku berdiri di belakang kamera. “Oke, siap?!” aku memberi aba-aba. “1… 2… 3…!”

Blitz menyambar, seiring dengan bunyi shutter kamera, yang menangkap kecantikan objek di depannya.

“Sekali lagi! 1, 2, 3!”

Aku memotretnya beberapa kali lagi dengan riang. Ini adikaryaku! Tak salah lagi! Ini akan menjadi adikaryaku!

 

*

 

Aku suka dengan pekerjaanku. Aku bersyukur, kameralah cinta pertamaku. Berawal dari hobi, sekarang aku bisa hidup sebagai seorang fotografer. Aku pernah menjadi fotografer buletin sekolah, fotografer majalah kampus, fotografer pre-wedding, hingga fotografer pernikahan. Sekarang kujajaki dunia fotografi fashion. Bekerja dengan desainer kebanci-bancian, dan model yang rewelnya amit-amit. Aku berusaha tak mengindahkan mereka, mengingat honor yang kuterima jauh lebih memadai ketimbang menjadi fotografer tabloid gosip.

Akan tetapi, selain menjadi fotografer fashion, aku turut menemukan gairah lain. Semua berawal ketika salah satu rekan kampusku tewas mencium bus. Namanya Aldo. Aku tidak heran bila bajingan sombong itu mati mengenaskan di jalan. Lihatlah dia sekarang, terbaring tanpa nyawa dengan kepala penyok serta beberapa tulangnya patah. Bila kukencingi pun dia tidak akan bangun lagi. Hahaha. Nah sekarang, siapa yang kau sebut payah, eh? Aku hidup, kau mampus.

Aku memotret prosesi pemakamannya. Mengabadikan kematiannya, menjadikannya sebagai trophy dalam bentuk foto. Bukti bahwa akulah – pemuda yang sering ia pecundangi – pemenangnya. Aku bisa menertawai kematiannya kapan saja, cukup dengan memandangi foto mayatnya. Menggelikan. Seumur hidup dia mengaku tampan dan gagah. Saat mati, dia tak lebih dari sepotong tubuh nyaris lumat total.

Sejak saat itu, memotret orang mati menjadi kegemaranku. Obsesi rahasiaku, kendati tujuanku bukan lagi untuk menertawai kematian mereka. Bukan. Aku tidak punya dendam dengan mereka, seperti aku mendendam pada Aldo. Aku ingin mengabadikan mereka. Menjadikan mereka senantiasa hadir bagi keluarga yang mereka tinggalkan. Jasad mereka memang akan terdekomposisi, namun kenangan tentang mereka akan selalu paripurna. Kubantu keluarga yang ditinggalkan tuk memiliki kenangan tersebut.

 

 

Aku merasa bak seorang pujangga. Mereka mengisahkan manusia lewat goresan pena. Mengabadikan dalam bentuk ode, hikayat, hingga roman. Begitu pula diriku. Bedanya, kameralah yang menjadi penaku.

Dan, memandang wajah manusia yang telah tidur selamanya… ah, begitu damai. Tak peduli berapa banyak cobaan, derita, serta nestapa yang mendera… pada akhirnya manusia akan menutup mata dengan tenang. Jenjam, kembali keharibaan Pencipta mereka. Membuktikan betapa tak berdayanya manusia bila berhadapan dengan sang maut. Tapi, justru disanalah letak keindahannya. Kejuwitaannya.

Aku sadar masyarakat akan menganggap hobiku ini sebagai sebuah kegilaan. Penyimpangan psikologis, nekrofilia, dan lain sebagainya. Peduli setan! Bagiku mereka cuma sekumpulan manusia dungu nan picik. Mereka selalu menjatuhkan pernyataan secara sepihak – yang menurut mereka benar – tanpa mau memahami intensi murni si ‘target gunjingan’. Mereka menyebutku ‘orang aneh’ seolah tidak peduli dengan perasaanku yang tersakiti.

Sejak kecil hingga dewasa, aku selalu dipaksa menerima julukan ‘orang aneh’. Awalnya aku sedih, tertekan. Lama-lama, aku terbiasa dan mulai mengabaikannya. Kupupuk pula kebencian terhadap mereka. Itu membuatku jauh lebih baik.

Satu-satunya yang kusesali ialah kenyataan bahwa Nadine juga menganggapku demikian. Oh betapa dia menghancurkan hatiku. Tak dapat kubayangkan gadis secerdas dan secantik dia punya pikiran sempit. Sungguh amat disesalkan. Padahal aku mencintainya lebih dari siapapun. Dia gadis pertama yang mampu menghipnotisku. Menarikku ke dalam daya magnet keelokannya yang magis.

Tidak bermaksud berlagak, namun aku dianggap cukup tampan. Setidaknya, itulah yang kurasakan. Banyak model yang menaruh minat padaku, bersikap centil di dekatku. Tak hanya mereka, para desainer banci pun sering menggodaku. Jadi, aku rasa, aku bukan pungguk yang merindukan bulan, apabila aku menginginkan Nadine.

Tak kusangka dia menolakku. Parahnya lagi, dia menatapku seperti sedang menatap isi jamban yang tersumbat. Meski cuma sepersekian detik, hatiku hancur dibuatnya. Dia kemudian tersenyum agak mengejek, berkata, “Maaf ya. Kita berteman saja.”

Hanya itu. Detik berikutnya dia berbalik meninggalkanku.

Jujur, aku marah. Hati ini dibuat panas olehnya. Lebih-lebih sewaktu dia berpacaran dengan Aldo. Tidak masuk akal! Wanita semolek dirinya mau berdampingan dengan primata jahiliyah seperti Aldo? Betul-betul tidak masuk akal!

Aku mendendam, kendati tak kuasa membuang rasa cinta ini. Aku terus mengamati Nadine, dari kejauhan, menggunakan lensa kamera. Sesekali, kucuri senyumnya, dan kucetak di lembar-lembar kanvas foto. Dia mungkin pacar Aldo, tapi dia milikku. Milikku…

Sewaktu Aldo tewas, aku sengaja hadir ke pemakamannya. Awalnya sih untuk menemani Nadine. Siapa tahu aku punya kesempatan untuk memenangkan hatinya. Alih-alih merebut cintanya, aku malah menemukan cinta yang baru: memotret orang mati. Takdir memang aneh, meski aku tidak mengeluh akan hal itu.

 

*

 

“Oke! Kita coba ganti gaya. Bisa kau berbaring di antara boneka-boneka itu?” pintaku tanpa sadar. Detik selanjutnya aku tertawa, menertawai kebodohanku sendiri.

Ampun deh! Bisa-bisanya aku lupa. Mana mungkin mayat bisa bergerak sendiri? Hahaha.

Aku membaringkan tubuhnya di antara boneka-boneka. Rambutnya yang mengembang kubiarkan tergerai di karpet. Bola matanya memandang kosong. Kugunakan selotip bening untuk mengangkat kelopak matanya. Aku ingin matanya tetap terbuka, supaya terlihat lebih hidup. Toh saat proses editing nanti, aku akan menghapus selotip-selotip itu menggunakan photoshop.

Setelah mengatur ulang, aku mengambil gambarnya sekali lagi. Senyum lebar mengembang di wajahku. Aku rasa, aku telah mendapatkan foto seperti yang kuinginkan.

“Oke, pemotretan kita sudah selesai, Nadine sayang,” ujarku, pada raga yang diam bergeming di atas karpet.

“Kau tunggu di sini, oke? Kurapikan dulu peralatan ini, barulah kita makan malam bersama,” kataku lagi.

Betapa indahnya hari ini. Aku dan Nadine berdua saja di sebuah villa, di daerah Puncak. Sore itu hujan turun, menambah kesyahduan. Malam yang spektakuler. Romantisme meracuni seluruh udara. Aku tidak menyesal membunuh Nadine kemarin malam.

Aku melakukannya sewaktu dia hendak pulang ke kostan. Waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari. Dia melewati gang gelap sendirian. Kesalahan fatal. Aku menunggunya bak maniak. Kusergap dia, kubekap hidung serta mulutnya dengan kain berkloroform. Dengan segera, cairan triklorometana tersebut bereaksi, memudarkan kesadaran Nadine.

Kuseret Nadine ke dalam mobil. Setelahnya, kami melaju ke daerah Puncak. Aku telah menyewa sebuah villa mungil yang jauh dari pusat keramaian. Sesampainya di sana, kubawa dia ke kamar mandi. Kulucuti seluruh pakaiannya, kebenamkan dia ke bathtub hingga tewas.

Akhirnya, keabadiannya menjadi milikku.

Diliputi eurofia, kurengut mahkotannya. Kau lihat, Aldo? Sudah kubilang, Nadine milikku! Seutuhnya! Menyesallah kau di inferno sana! Hahaha!

Oh tentu saja aku takkan membiarkan Nadine membusuk. Oh tidak, tidak, tidak! Nadineku tersayang bukan makanan buat belatung. Dengan cermat, kusuntikkan formalin ke dalam tubuhnya. Aku sempat berteman dengan orang-orang yang bekerja di ruang mayat dan jasa pemakaman. Dari sana aku banyak belajar tentang mengurus mayat. Memandikan mereka, mendandani mereka, memakaikan kafan, menguburkan mereka, mengkremasi mereka, hingga mengawetkan jasad mereka.

Usai memformalin gadis pujaanku tersebut, malam itu kami tidur berdua, hingga siang merekah. Sewaktu bangun, aku tersenyum mendapati sosoknya di samping ranjangku. Aku mengecup bibirnya penuh cinta. Seharusnya kita melakukan ini sejak dulu, Dine… Seharusnya kau tidak membuang-buang waktumu bersama gumpalan steroid otak udang itu. Idiot seperti dia memang rawan mati muda.

Aku mendandani Nadine untuk sesi pemotretan, setelah mandi dan makan siang. Kami bersenang-senang, bercanda bersama. Aku tahu Nadine suka dengan boneka-boneka yang kusiapkan. Aku tahu semua favoritnya. Boneka, milkshake vanila, parfum Burberry, film Love Actually… aku tahu semua kesukaannya. Aldo tidak. Aku menang.

 

*

 

Hari berangsur gelap. Kusiapkan makan malam, sementara permaisuriku tidur di kamar. Begitu semua siap, kubopong dia ke ruang makan, lantas kududukkan dia di kursi. Kami duduk bersebelahan. Mesra. Aku menyendokkan daging dan pasta ke piringnya. Kutuangkan pula lemon tea ke gelasnya. Semua kulakukan sebelum kuhidangkan makanan untuk diriku sendiri.

“Selamat makan, Nadine sayang…”

Selamat makan, Adam…”

Aku terkekeh. Aku senang bermain peran seperti ini. Berbicara seolah Nadine berbicara denganku.

“Aku bahagia sekali hari ini, Dine,” ucapku penuh cinta. “Aku ingin bersama denganmu. Selamanya. Bahagia, berdua saja.”

Aku juga bahagia denganmu, Dam…” jawabnya.

“Aku mencintaimu, Dine. Sejak dulu. Aku benci saat kau malah menerima Aldo, laki-laki maha tolol itu. Aku heran, apa sih yang bisa dibanggakan darinya?”

Ah, itu kan masa lalu, Dam… Berpacaran dengan Aldo merupakan kesalahan terbesar dalam hidupku.”

“Sudah kuduga. Hahahaha.” Aku tertawa lega.

Kubelai dagunya yang lembut. Senyumku mekar.

“Aku mencintaimu, Dine. Sungguh,” bisikku, sebelum kukecup tangannya.

“Apa kau mencintaiku?” tanyaku kemudian.

Nadine tak menjawab.

“Dine… Apa kau cinta padaku?”

Lagi-lagi dia bungkam. Bisu. Sunyi.

Dine…?”

Aku mulai cemas. Jangan-jangan dia tidak memendam rasa yang sama.

“Dine… Jawab aku…” pintaku, memegang tangan dinginnya.

Nadine tak merespon. Dia betul-betul membuatku kecewa! Sangat kecewa! Ternyata selama ini… AAAARGHH! Aku tidak tahan lagi!

“JAWAB AKU, PELACUR MURAHAN!” jeritku, menendang kursinya, hingga dia jatuh terbanting ke lantai.

Sungguh menyebalkan! Aku tidak terima cintaku hanya bertepuk sebelah tangan! Aku diliputi angkara murka. Kutendang dia, kuinjak dia, kucaci dia dengan kata-kata kasar. Kulampiaskan seluruh amarahku padanya.

LANCANG! DASAR PEREMPUAN LANCANG TAK BERGUNA! SUDAH MATI PUN MASIH SAJA MEMBUATKU KECEWA! APA KURANGNYA AKU INI, HAH?! APAAA?! JAWAB AKU, PEREMPUAN TENGIK!”

Aku mengutuk lagi. Berkali-kali. Kutendang perabotan lainnya. Kusapu seluruh permukaan meja makan, hingga semuanya terjun bebas dan pecah menghantam tegel.

JAHANAAAAAAM!”

Aku meraung meluapkan seluruh ganjalan di hati. Setelah puas, aku duduk di sofa, menenangkan diri. Nadine tetap tergeletak di lantai. Sial. Aku mendinginkan suasana hatiku selama beberapa menit. Hujan masih turun di luar sana. Kucuri pandang ke arah Nadine, lantas menarik nafas berat. Sesal. Sial.

Aku berdiri, menghampiri Nadine. Di sisinya, aku duduk, seraya mengangkat tubuhnya. Dia tetap terpejam tenang, seakan tidak pernah menerima tindakan abusifku barusan. Oh, betapa cantiknya dia. Kusibak rambut dari wajah pucatnya. Bidadari. Dia laksana bidadari.

“Maafkan aku, cinta…” ucapku, memeluknya di dada. “Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi. Biarlah. Biarlah kau tidak pernah mengucapkan kata cinta padaku. Setidaknya, kau tahu betapa besarnya rasa sayangku padamu.”

Aku memeluk Nadine lebih erat lagi. Kukecup lembut pipinya. Kukecup pula bibir indahnya, agak lama. Kujilati lehernya, sementara tanganku menyusup ke dalam pakaiannya. Kubaringkan lagi dia ke lantai.

Adam…  Cintai aku…

“Kau mau?”

Kepala Nadine kuanggukkan.

“Baiklah…” anggukku, buru-buru melepaskan ikat pinggangku. “Baiklah, kalau kau mau.”

Kukabulkan permintaan Nadine itu. Kami berdua bergumul lagi di lantai yang dingin.

“Aku mencintaimu Nadine… Selamanya…” desahku.

Ya, selamanya…

… Atau paling tidak sampai aku bosan dengannya. Hahaha.

 

 ***

 

[A short story by Adham T. Fusama]

4 thoughts on “Cinta Abadi

  1. Oh wow, I’ve read this before, cuma waktu itu ga ngeh siapa penulisnya. Sakit bang Opan, sakit~ tapi karena gue kepengen nulis hal-hal tentang kegilaan semacam ini, menurut gue ini bener-bener jenius, indah, dan…sakit. Oh wow…Keren…

  2. Ini keren. Keren banget.
    Sedikit horor, tapi gak bikin muntah. (Biasanya saya paling anti dengan hal-hal serem macam begini)

    Konsepnya bangus, narasinya … gak perlu dibilang deh.
    Ya ampun, saya harus bongkar blog ini dan belajar banyak darimu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s