Cuap-Cuap Nano-Nano


Halo! Saya datang lagi, setelah sekian lama menghilang dari peredaran, terutama di blog ini.

Maafkan saya! *membungkukkan badan*

Sepertinya sekarang saya memperlakukan blog ini seperti diary pink para remaja putri, tempat mereka menumpahkan seluruh keluh-kesah dalam menghadapi galaunya masa SMA. Okaaay… This blog isn’t pink, and I’m not a teen girl either. Maksud saya adalah: blog ini sudah seperti tempat ‘pelarian’ ketika saya memiliki masalah, serta perlu wadah untuk meluapkannya.

Blog: “Oh, jadi sekarang gue cuma ‘tempat sampah’ buat loe? Gitu? Jadi, loe baru mau nyambangin gue kalau lagi ada masalah? Gitu? BUNUH AJA GUEEE!”

Oh shut up, bloggy! Don’t be such a drama king!

Intinya: setelah sekian lama, banyak juga peristiwa yang perlu saya abadikan.

Lalu, apa yang terjadi?

Banyak, terus terang saja, sampai saya bingung harus mulai dari mana.

Tapi, okelah, kita mulai dari bulan-bulan yang saya sebut sebagai ‘Masa Cerpen II’. Seperti yang mungkin kalian ketahui (jika kalian baca blog ini, atau mampir ke I’m Such a Lazybone and Those Phases), ‘Masa Cerpen Pertama’ saya ialah saat saya duduk di kelas 6 SD sampai kelas 1 SMP. Setelah sekian lama saya tidak menulis cerpen, fase tersebut rupanya kembali menyapa akhir tahun lalu. Bermula dengan niat mengikuti lomba menulis, tanpa disangka saya bisa menulis cerpen lagi! Paling tidak, saya merasa bisa. Padahal selama ini saya merasa menulis cerpen itu sulit, sebab ketika menulis saya sering kali ngalor-ngidul ke sana kemari, akhirnya tidak sanggup meramu cerita yang ringkas dan padat.

Nah, begitu saya bergabung dengan situs yang mengadakan lomba itu, saya mulai menulis cerpen (juga coba-coba puisi lagi!), dan feedback yang saya terima cukup menyenangkan hati. Selama ini, yang menikmati karya-karya saya memang segelintir, sebatas teman dan kenalan. Jadi ketika ada ‘orang asing’ yang memberi tanggapan pada karya saya apa adanya… It feels so goooood! I feel like an attention whore, yelling “Give me all your love, strangers!”. Dan pada akhirnya saya pun berkenalan dengan ‘para orang asing’ tersebut, salah satunya Teteh Skylashtar Maryam yang sekarang sudah menerbitkan buku (so jeleeeeees).

Balik ke masalah lomba, saya men-submit 4 buah cerpen. Semuanya merupakan cerpen kebanggaan saya, terlepas dari kelemahan-kelemahan yang ada.

Lalu masuklah saya ke masa ‘menunggu’, bersabar menantikan hasil jerih payah saya. Dalam perenungan yang panjang dan dalam (I called it deep throat, er, deep thought), saya sadar ternyata saya kurang cocok menjadi cerpenis. Bisa membuat cerpen, namun tak dapat menyingkirkan fakta kalau saya lebih ‘nyaman’ menulis panjang-lebar seperti politikus yang berkelit, berusaha melepaskan diri dari jeratan hukum. Saya lebih nyaman menjadi novelis —in my own opinion. Menjadi cerpenis itu sebuah tantangan yang menyenangkan. Menjadi novelis itu seperti kembali ke rumah.

Nyatanya, menjadi novelis itu butuh perjuangan (you don’t say…). Menulis novel yang panjang itu butuh kerja keras, mencoba menerbitkannya butuh usaha puluhan kali lebih keras. Saya bisa mengatakan bahwa saya sudah cukup puas ditolak penerbit. Sejauh ini sudah empat penerbit besar menolak karya saya, membuat diri ini kadang merasa seperti pecundang tulen. Menyerah? Hell No! Saya tidak percaya saya penulis yang buruk. Jika ada orang yang dapat menerbitkan buku bermodal kicauan dia di jejaring sosial, saya – yang berusaha keras menjadi penulis yang baik – pasti bisa menerbitkan karya saya, suatu hari nanti.

Sampai detik ini pun saya masih terus mencoba menawarkan naskah saya ke penerbit. Meski terkadang melelahkan ditolak terus, saya tetap optimis kerja keras saya akan membuahkan hasil. Bukankah saya sendiri yang meminta pada Tuhan kalau saya tidak rela karya saya sekedar muncul dan menghilang? Bukankah saya juga yang berharap karya saya tidak sekedar menjadi karya instan yang kemudian dilupakan? So yeah, I’ll take the consequences. Ibarat wine yang bagus, novel bagus pun butuh waktu. Semoga saja seluruh penantian dan penolakan ini pada akhirnya menghasilkan karya yang dapat membuat saya menangis haru. I need Kleenex!😥

Lantas, apakah saya sudah dapat memanen hasilnya? Sayangnya, belum. Kemarin saya mendapat kiriman lagi dari penerbit dan saya langsung tahu apa isinya. Yep, mereka mengembalikan naskah saya. Artinya: ya, lagi-lagi sebuah penolakan. Anehnya, saya tidak merasa sedih atau semacamnya. Melihat paket itu di meja, saya cuma tersenyum lalu terkekeh “Ditolak lagi deh…”. Ini lucu, mengingat beberapa minggu sebelumnya saya selalu gelisah menantikan kabar dari penerbit. Saya bahkan tidak bisa tidur membayangkan apa jadinya bila novel saya ditolak (lagi). Kemana lagi saya harus kirimkan naskah saya? Berapa lama lagi saya harus menunggu? Saya sudah capek! And I’m like

Publisher, Y U No Publish My Book?

Namun kemarin (9 Maret 2012), semua kegalauan ABG tersebut tidak terbersit sedikitpun di hati saya. I just took it lightly, and feel rejected like a boss. Hahaha.

“Yah, waktunya hunting penerbit lagi.”

That’s it. Find other lucky publisher and hope for the best.

Rasa kecewa dan sedih pasti ada. Apalagi novel yang saya tawarkan itu saya selesaikan dalam waktu nyaris 3 tahun, dan tidak bisa saya bayangkan kalau mesti menunggu 3 tahun pula untuk menerbitkannya. Akan tetapi, saya menganggap ini merupakan bagian dari proses penempaan diri, terutama untuk menguji kesabaran saya.

Lucunya lagi, hari ini saya pun mengetahui kabar bahwa cerpen saya tidak menang. Jangankan menang, masuk 30 besar karya terbaik pun tidak! Keempat buah hati saya gagal semua! Hahaha. Padahal semula saya cukup percaya diri karya saya dapat menembus 30 besar. Namun, sama halnya dengan kenyataan lain di dunia, apa yang kita harapkan tidak selalu menjadi kenyataan. Yang menang justru teman saya Ismawati Dasuki, yang semula tidak pede untuk ikut lomba, eh malah dapat Juara 1 dan berhak atas uang tunai Rp. 1.000.000!

Pelajaran moral: kalau ikut lomba, casting, cari kerja, cari jodoh, dlsb, JANGAN AJAK TEMAN ANDA! Percayalah, sering kali justru teman yang Anda ajak yang akan mendapatkannya!

Hahaha.

Btw, congrats for Mbak Isma.

So… yeah…

Sometimes, life is such a bitch… but don’t we just love the sexy bitch(es)?

Jadi, walaupun mendapat ‘kabar buruk’ secara beruntun, entah mengapa saya tidak kecewa sama sekali. Barangkali ini semua adalah ‘kabar buruk’ yang seksi. These despises taste so delicious, and b*tch, I’m feeling deliciously sexy right now. LOL.

Pada akhirnya yang saya dapatkan bukan sekedar kegagalan hampa, melainkan kegagalan yang mendewasakan saya. Kegagalan yang membukakan mata bahwa masih banyak yang harus saya lakukan, masih banyak bakat yang dapat saya optimalkan, masih ada jalan yang bisa saya tempuh, dan masih ada keluarga serta sahabat yang memberi dukungan. So, I regret nothing, people! I regret nothing!

And I promise you, one day, I’ll be more than just a random guy who’s whining about this unfortunate events on blog. One day, I’ll be bigger than myself today. One day… Insha Allah…

Just sit back, relax, and watch my transformation, guys! Auto-Fusama! Rolled OUT!

2 thoughts on “Cuap-Cuap Nano-Nano

  1. Semuanya butuh waktu, sepanjang apapun itu. But yeah, semoga ‘waktu’ tersebut tidak terlalu lama lagi bagimu (dan juga bagi saya).. Konon karya yang bagus dan melegenda (atau masterpiece) itu dibuat dalam proses yang (biasanya) lama serta menahun. Dari ratusan karya yang telah kita buat, semoga salah satunya ada yang mencolok sampai sinarnya menyilaukan orang-orang dan lantas mereka akan menyebutkan namamu, berkat tulisanmu itu.

    Hehe, terimakasih anyway. Iya, saya sendiri ikut lomba karena diajak adham sih. Dan ini sungguh surprise yang setengah hidup karena ga nyangka malah dapat juara satu. Dan saya sebenarnya sudah tidak memperhatikan lagi lomba itu, Mon. Kau mengingatkan saya dengan sms di pagi buta yang membuat saya kehilangan kantuk persis setelah bangun tidur, mendapati sms ucapan congrats itu.

    Saya senang menulis. Dan ya, bohong banget klo saya ga butuh duit juga:mrgreen:
    datanglah ke Bandung, saya traktir nanti sepuasnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s