My Childhood Gastronomic Experience


Menulis barangkali adalah passion serta hobi saya. Namun, makan merupakan hobi impulsif saya. Artinya, tanpa harus menyuruh otak saya untuk makan sekalipun, saya sudah melahap makanan ke dalam mulut.

Akan tetapi, percayalah (walau bakal banyak manusia-manusia sirik yang tidak percaya) kalau saat kecil, saya bertubuh kurus dan slim. Dan tidak seperti sekarang, saya dulu tidak doyan makan.

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan, saya sempat tinggal di kota Kijang. Saat itu almarhumah Nenek masih hidup. Ayah bekerja di perusahaan tambang cabang Kijang, dulu salah satu produsen Bauksit terbesar di Indonesia. Ibu adalah ibu rumah tangga, yang jujur saja kurang pandai memasak (karena Kakek adalah orang yang berpandangan terlalu jauh ke depan, sehingga lebih mementingkan anaknya supaya mengejar pendidikan setinggi mungkin, hingga sedikit lupa kalau anak perempuan juga perlu dibekali ketrampilan-ketrampilan, seperti memasak). Nenek termasuk pintar memasak. Jadi pada saat itu, Neneklah yang lebih sering memasak.

1. Nasi Mentega Kecap

Nah, seperti kata saya tadi, saya dulu susah makan. Jadi badannya kurus. Gara-gara susah makan, Ibu sering mengeluh. Mencekoki saya dengan jamu temulawak pun tidak ada hasilnya. Nenek saya sering membuat varian masakan sederhana, agar saya tetap mau makan. Pernah suatu kali saya ogah makan nyaris sepanjang hari. Tidak mau sarapan dan makan siang karena menunya sayur! Alhasil, nenek membawakan makanan yang harumnya enak, sehingga saya pun mau makan. Pas makan! Oalah, nduk! Uenak tenan! Rasanya kayak makan Risotto asli Italia. Padahal yang Nenek berikan cuma nasi pulen dicampur mentega dan kecap, diaduk, dan ditaburi sedikit kasih sayang! Agak lebay memang, tapi pada waktu itu, rasanya enak banget, sampai saya minta nambah!

2. Wisata Kuliner Bersama Keluarga

Walau Ibu tidak jago masak (still love you Mom), beruntung Ayah hobi jalan-jalan. Dulu, kami sekeluarga sering jalan-jalan bareng naik Vespa Piaggio Biru! Dan walau ‘hanya’ pulau kecil, Bintan menawarkan beberapa tempat wisata kuliner yang tak kalah banyak dari Batam. Dan sebelum Bondan Winarno ngetop dengan acara Wisata Kulinernya, kami sekeluarga sudah lebih dulu melakukannya!

Pujasera Akau

Let’s start with Pujasera Akau. Pujasera outdoor yang buka tiap malam di depan Pasar Akau, tepat di sebelah Masjid Agung. Kalau siang hanya berupa lapangan basket terlantar dengan meja-meja dan gerobak-gerobak kosong. Saat malam, Pujasera itu mulai hidup! Suasananya seperti pasar malam! Party every night. Pelbagai makanan dan minuman khas tersedia di sana. Memang ada makanan-makanan umum, seperti sate dan lainnya. Tapi di Kijang, beberapa makanan tersebut disajikan sedikit berbeda. Contoh: di sana, semua sate telah dipanggang terlebih dahulu, tidak peduli ada yang pesan atau tidak. Jika ada yang pesan, barulah disajikan ke piring, dan disiram saos kacang panas ngebul-ngebul! Lalu ada Teh Obeng atau Teh O. Teh Obeng itu teh es manis, sementara Teh O adalah teteh manis hangat, eh, teh manis hangat!😛 Pokoknya, Pujasera Akau adalah tempat hangout favorit masayarakat Kijang. Murah, meriah, semarak! Ah ya! Di Tanjung Pinang juga ada pujasera serupa, namanya Kaca Piring. Mie ayam dan jus alpukat di sana enak! Bedanya, Kaca Piring justru buka dari pagi hingga sore.

Seafood Heaven

Sebagai kota di sebuah pulau kecil, tentu saja tidak sulit mendapatkan menu seafood di Kijang. Ikan, udang, cumi, bilis (teri), dll, semua ada! Tapi ada satu menu seafood yang saya jamin tidak akan ditemui di Jakarta sekalipun (so far belum saya temukan di sana), yaitu Gonggong! It’s a rare delicacy! Gonggong itu adalah keong laut yang banyak ditemui di Kepulauan Riau. Biasanya Gonggong dibersihkan, direbus dengan air garam, lalu disajikan dengan saos nanas yang segar. Rasanya? O my God! Kalian belum ke Kepulauan Riau jika belum merasakan Gonggong. Saya sekeluarga merekomendasikan Rumah Makan Rossa, yang menyajikan Gonggong segar plus saos paling uenak se-Kijang. Saat napak tilas tahun 2009 yang lalu, Rumah Makan ini masih ada! Dari Pasar Akau (pintu masuk depan, yang ada Masjid Agung-nya), lurus terus l.k. 1 Km, mentok pertigaan belok kanan, pertigaan lagi belok kiri, keluar dari jalan besar. Setelah beberapa meter akan masuk ke jalanan non-aspal dan mulai seperti masuk ke dalam hutan. But that’s okay! Keep moving, kira-kira 3 Km! Rumah makannya berada di pinggir pantai, dan kalau beruntung, kalian bisa melihat kapal laut lewat yang akan berlabuh atau bertolak dari Pelabuhan Kijang. Kalau tidak menemukan pantai, berarti Anda tersesat, dan segera hubungi Tim SAR.

Warung Dorce

Okay, kalau takut tersesat, kalian tetap bisa menikmati makanan laut, meski tidak ada menu Gonggong. Datang saja ke Warung Dorce. Sebenarnya rumah makan ini tidak ada namanya. Tapi karena pemiliknya mirip artis Dorce Gamalama (walau dia wanita tulen), maka Ayah pun menyebutnya Warung Dorce. Warung ini menyajikan makanan laut bakar. Ikan bakar, udang bakar, sotong (cumi) bakar, dan lain-lain. Favorit saya sotong bakar. Favorit keluarga Ikan Ayam-Ayam (Bawal) Bakar. Dan untuk ukuran rumah makan kota kecil, atmosfirnya cukup cozy, karena mengusung tema saung, yang saat itu masih langka di daerah Sumatera. Dari Masjid Agung Kijang, pergilah ke arah Keke, letaknya tepat di sebelah Gereja Pantekosta. Sayang, sewaktu saya napak tilas, Warung ini sudah tidak ada. We’ll miss you, Warung Dorce

3. Cemilan dan Jajanan

Otak-Otak Pantai Trikora

Semua pasti sudah tahu dong, apa itu otak-otak. Ya, di Kijang pun ada otak-otak. Bedanya, di sana tidak perlu lagi dicocol saos, karena sebelum dibakar, adonan ikannya sudah dicampur terlebih dahulu dengan saos. Jadi, seperti kata Deddy Mizwar: “Tinggal ‘Lep!”. Otak-otak yang paling enak banyak terdapat di Pantai Trikora. Bayangin betapa asyiknya makan otak-otak ditemani air kelapa muda sambil menikmati panorama pantai yang asri. Saking enaknya, Nenek saya yang dari Jakarta sempat memborong 2 dus otak-otak dari Kijang untuk dibawa ke Jakarta.

Bakwan Rumah Sakit Antam

Beda dengan bakwan sekarang yang lebih mirip bala-bala, bakwan era ‘Orde Baru’ memiliki penampilan yang lebih cantik. Begitu pula dengan bakwan yang dijual di kantin RS Aneka Tambang (Antam). Bentuknya seperti mangkok kecil. Rasa bakwan udang ini jadi semakin dahsyat sewaktu dinikmati bersama saos homemade-nya. Saos pedas-manis yang bikin bala-bala paling tidak enak pun menjadi menu yang layak dikonsumsi! Saking enaknya, saya pernah minta nambah 5 kali! Harganya waktu itu Rp. 100, dua kali lebih mahal dari harga bakwan biasa. Tapi rasanya juga jauh lebih enak dari bakwan biasa. Sekali lagi, sayang kantin ini sekarang sudah tidak ada.

Soto Aceh Mak Eng

Nah warung yang satu ini dulu terletak di sebelah SD saya. SDN 006, yang sekarang difusi dengan SDN 003, SD disebelahnya. Soto Mak Eng sempat menjadi makanan favorit siswa di 4 sekolah (selain dua SD di atas, masih ada lagi SDN 001, dan SDN 004 di komplek yang sama). Harganya saat itu cukup mahal untuk ukuran uang saku saya. Uang saku saya saat kelas 2 SD hanya Rp. 200 (ya saudara-saudara, 200 perak!), sementara satu porsi soto harganya Rp. 300. Ada dua keunikan dari Soto Mak Eng, yang asli orang Aceh, yaitu: memakai lontong / ketupat, dan cengkeh! Yup! Kuahnya ditambah cengkeh asli, sehingga saat kuahnya diseruput, badan akan langsung terasa hangat! Saya hanya bisa makan Soto Mak Eng kalau bisa menyisihkan uang saku dari hari sebelumnya. Oh betapa saya menelan ludah sewaktu melihat teman-teman saya asyik menyantap soto lezat tersebut. Dan Mak Eng adalah wanita tua yang hangat, serta akrab dengan para siswa SD. Sayang, beberapa tahun kemudian, beliau meninggal dunia, dan hanya menyisakan kenangan betapa lezatnya soto beliau! (I need a box of tissue please! T___T)

Opak Mak Belah

Satu lagi makanan yang pasti sudah kalian tahu: opak! Sejenis keripik sebesar piring yang terbuat dari singkong. Mak Belah adalah tetangga di depan rumah saya. Beliau adalah ibu dari rekan kerja ayah. Opak beliau memang biasa, namun saos sambalnya… Ruar Biasa! Saos sambal homemade yang selalu dibuat setiap harinya. Saya adalah anak yang tidak suka sambal atau makanan pedas. Tapi opak Mak Belah adalah salah satu pengecualian! Sambal pedas-manisnya bikin saya ketagihan, menggoyang lidah, hingga membuat perut saya mulas saking hobinya saya membeli opak beliau. Hahahaha. Lagi-lagi, amat disayangkan, Mak Belah wafat setahun kemudian. Saya kehilangan saos sambal opak terenak yang pernah saya cicipi.

Jajanan Anak Kecil

Saat kecil, saya memang susah makan. Tapi saya suka sekali jajan! Saya bisa berdiri lama di toko, dengan uang Rp. 100 di tangan, berpikir apa yang harus saya beli, hingga saya dimarahi oleh enci-enci pemilik toko yang lumayan galak. Saya tidak tahu dengan anak-anak jaman sekarang, tapi dulu saya punya banyak jajanan favorit. Coklat cap ayam, coklat koin, coklat payung, wijen cap Doraemon, hingga manisan mangga kering asam-asin-manis (yang memiliki nama yang kasar serta rasis, karena menggabungkan kata ‘upil’, disambung dengan julukan etnis tertentu). Pokoknya nama yang sebenarnya yucky, tapi manisannya sendiri enak banget. Dan ada satu jajanan yang amat sangat jarang saya dapatkan selain di Bintan dan Batam, yaitu Koko Jelly. Koko Jelly adalah coklat bundar berisi jelly! Favorit saya yang isinya jelly anggur! Dulu sebutirnya hanya Rp. 25! And you know what? Sewaktu saya napak tilas ke sana, produk tersebut masih ADA! Kyaaaaaa! Borong Yang Banyak, Bleh! *kalap*

Air Tebu, Air Jeruk, dan Air-Air Lainnya

Jauh sebelum ada minuman jus dalam kemasan, atau bubble drink dan sebangsanya, minuman sari buah dalam kantong plastik merupakan favorit kami, para bocah kecil. Dijual hanya Rp. 50 / kantong, minuman yang terlalu banyak menggunakan gula biang ini mampu menyegarkan tenggorokan yang kering, di saat matahari tengah bersinar terik (maklum, letak Pulau Bintan dekat sekali dengan garis Khatulistiwa). Setelah segar, tenggorokan pun akan terasa agak gatal, karena gula biangnya menempel di sana. Terlebih jika kita meminum beberapa kantong sekaligus. Hahahaha. Tapi namanya anak kecil, kami tidak begitu peduli dengan hal-hal sepele seperti itu. Tinggallah orang tua kami yang cemas, jika kami terlalu banyak mengkonsumsi minuman tersebut. LOL. Minuman tersebut sebenarnya hanya sirup buah yang terlalu banyak airnya, dan terlalu banyak gula biangnya, dan disajikan ke kantong plastik bening (untuk take out). Kami menggunakan istilah ‘Air blablabla’ untuk minuman tersebut. Sari tebu encer kami sebut Air Tebu, sirup jeruk encer kami sebut Air Jeruk, sirup Anggur encer kami sebut Air Anggur, dan lain sebagainya. Minuman ini jujur saja tidak saya rekomendasikan untuk Anda coba (apalagi terkadang ada penjual jahat yang tidak menggunakan air matang, agar tidak perlu repot-repot membuatnya), namun tetap saya ceritakan karena merupakan salah satu minuman favorit saya waktu kecil.😀

Kemunting

Sebenarnya yang satu ini tidak termasuk jajanan. Hehehe. Kemunting adalah nama buah kecil, ukurannya sebesar blueberry, dengan kulit ungu berbulu tipis jadi mirip beludru. Buah ini hanya tumbuh di daerah yang mengandung Bauksit. Jadi, bisa dibilang pohon Kemunting adalah ‘penunjuk’ atau ‘penanda’ bahwa tanah di bawahnya terdapat kandungan Bauksit. Nah, buah kecil inilah ‘cemilan’ favorit saya dan teman-teman saya (selain ceri), saat tidak punya uang. Daging buahnya memang tidak begitu banyak, karena bijinya termasuk besar (sebesar kacang tanah), tapi kami hobi mengumpulkannya terlebih dahulu sebelum memakannya. Rasanya manis-manis kecut. Dinikmati bersama teman di pinggir danau – yang dikelilingi rumput ilalang – setelah bersepeda keliling kota… priceless!

4. Me, Granny, and Pempek

Dari segala jenis makanan di atas, ada satu makanan yang sangat saya suka waktu itu, dan sangat sangat sangat sangat (100x) saya sukai sampai sekarang. Makanan itu adalah Pempek! Bagi saya, Pempek adalah makanan terenak yang ada di dunia ini. Bahkan sushi sekalipun (meski begitu saya gemari), tidak mampu menandingi kelezatan Pempek. Oh betapa saya cemburu pada orang-orang yang tinggal Palembang, yang menjadikan Pempek sebagai makanan utama, alih-alih nasi. LOL😀

Pertemuan saya dengan Pempek begitu menggoda! Saya berkenalan dengan Pempek di Tanjung Pinang, di sebuah restoran kelas menengah bernama Sams Anna. Sebenarnya lebih tepat disebut Bakery & Pastry, tapi Sams Anna juga menyediakan makanan lain, termasuk Pempek. Pempek luar biasa! Pempek terenak ke-2 yang pernah saya cicipi sampai sekarang! Percayalah! Pempek terenak di Bogor pun tidak bisa menandingi Pempek dari Sams Anna. Tekstur outside pempeknya yang crunchy, tekstur dalamnya yang padat namun empuk, ditambah kuah cukanya yang pas dari segala sisi. Pas pedasnya, pas manisnya, pas asamnya, pas gurihnya, pas kentalnya! A near-perfection!

Saat kecil, saya sanggup memakan 10 Pempek, sampai-sampai pernah terbaring tak bisa bangun saking kenyangnya. Saya bahkan pernah bertengkar hebat dengan adik saya gara-gara berebut Pempek. Kami baru berhenti, setelah dimarahi orang tua, dan dibujuk oleh Nenek. Nenek bilang, “Sudah, jangan berebut! Nanti Emak (kami memanggil beliau demikian) buatkan Pempek yang banyak.” Dan beliau memang menepati janjinya.

Emak adalah orang yang ulet, telaten, dan sangat rajin. Beliau pandai memasak, menjahit, merajut, mendongeng, dan sangat resik membersihkan rumah. Good ol’ granny. Beliau sering berjalan ke pasar sendirian, membawa keranjang belanja, dan payung. Beliau bahkan dikenal oleh pedagang-pedagang di pasar. Saya sempat pernah menemani Nenek belanja, namun kapok setelah diajak masuk ke dalam Pasar Inpres (Instruksi Presiden). Bau anyir ikan, jengkol, petai yang naudzubillah langsung menerjang hidung, membuat saya mual, bahkan muntah. Oleh karena itulah, sampai sekarang saya tidak suka ikan, jengkol dan petai. Ikan masih bisa saya makan, kalau sudah diolah dan tidak berbentuk ikan lagi. Toh, Pempek terbuat dari ikan juga, kan?

So, pada hari itu, 28 September 1997, tepat setelah 3 hari setelah ulang tahun adik bungsu saya, Emak menepati janjinya. Beliau pergi ke pasar, membeli ikan dan lainnya, untuk membuat Pempek. Sekitar pukul 09.00 pagi, saya yang masih mengikuti pelajaran di sekolah, dipanggil ke rumah untuk pulang. Emak telah wafat. Penyebabnya adalah Angin Duduk, akibat terlalu lelah bekerja. Hal terakhir yang beliau lakukan adalah menyiapkan Pempek untuk cucu-cucu beliau. Pempeknya sudah jadi, namun tidak sempat dimasak. Itu adalah salah satu hari yang paling menyedihkan dalam hidup saya. Saya menangis sejadi-jadinya, mengetahui bahwa saya telah kehilangan salah satu sosok yang paling saya cintai. Sosok yang menjadi sumber segala kebahagiaan di masa kecil saya.

Dan sejak itulah, saya semakin gemar dengan Pempek, mencicipi Pempek di berbagai tempat, bahkan terobsesi untuk mendapatkan Pempek terlezat yang pernah ada. Salah satu tujuannya adalah untuk mengenang beliau. Mengenang almarhumah Nenek saya tercinta.

***

Dan demikianlah Gastronomic Experience masa kecil saya yang penuh kenangan di pulau kecil tersebut. Sejak Emak wafat, saya tidak susah makan lagi. Malah, saya makan dengan banyaknya. Penyebabnya ada tiga:

1.      Masa pertumbuhan,

2.      Efek jamu temulawak yang akhirnya bereaksi, dan…

3.      Wasiat terakhir Nenek saya. Beliau berpesan “Aa, jangan lupa makan!” sebelum saya berangkat ke sekolah.

So, yeah! Ketiga faktor tersebut berdampak sukses luar biasa, sehingga saya memiliki tubuh bohay seperti sekarang ini. And the rest was history! Food and me are best friend right now! I love you food! And please don’t kill me with diabetes, stroke or heart-attack!😀

Trivia:

– Pempek terenak yang pernah saya cicipi adalah Pempek yang dibawa oleh Paman saya dari Jambi. Kuahnya sama enaknya dengan di Sams Anna. Tapi masih ada keunggulan lainnya. Pempek yang dibawa oleh paman saya menggunakan ikan Belida, dan tidak 100% menggunakan tepung kanji, melainkan mencampurnya pula dengan tepung lain, sehingga cruncy outside, tender inside. Saat pertama kali saya coba (waktu itu sudah di Bogor, sudah SMA), saya terdiam sesaat, sebelum berkata: “Nyesel banget makan nih Pempek… Karena sekarang tidak ada lagi Pempek yang lebih enak dari ini…” *Lebay mode: on* LOL😀

– Sams Anna masih ada sampai sekarang. Hanya saja, Pempeknya sudah tidak seenak dulu. Mungkin sudah ganti koki. Sayang sekali.

– Gonggong masih ada meski semakin langka, begitu juga dengan Kemunting, karena Bauksit sudah nyaris habis. Sekarang Pulau Bintan bergantung pada sektor wisatanya.

This post is dedicated to my beloved granny: Ny. Soeginingsih Soesilo (the late). May you smile in Heaven! I really miss you, Granny!🙂

12 thoughts on “My Childhood Gastronomic Experience

  1. Haiii..Kemunting brought me here, happy to know your childhood story, really same like my childhood, and can I know further about Pempek, seems like ‘Keropok Lekor’ at Malaysia..(^_^)..you can visit my blog also.

    • Pempek is a fish dough, deep fried, and serve with special sauce called kuah cuko (lit: vinegar sauce, added by brown sugar, etc). And I’m also curious about Keropok Lekor. Funny, I did not find it (or I just didn’t know it that time) when I visited Malaysia.

  2. Oh…I see, Keropk lekor is a traditional food in Malaysia, which is made from fish, sago flour, then served with a sauce (garlic, vinegar, chili sauce), if you visit Malaysia again try to find and compare with Pempek.

  3. Hi there, just became aware of your blog through Google, and found that it is really informative. I’m going to watch out for brussels. I’ll be grateful if you continue this in future. Many people will be benefited from your writing. Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s