Those Phases Part 2


Horeeee! Adham muncul lagi! Beri tepuk tangan yang meriah! Horeeeeee! *girang sendiri*

Hmm, hmm, hmm… Bagaimana kabar kalian semua? Baik-baik saja? Syukur deh! Senang mendengarnya.

Saya? Oh, saya sendiri saat ini baik-baik saja – terima kasih – meski sedikit mengalami insomnia (penyakit rutin para penulis), sehingga memutuskan untuk melanjutkan mengisi blog ini. Hahahaha. Terlebih, sepertinya saya masih memiliki ‘utang’ pada Anda, para pembaca. Jadi, bagaimana kalau Anda baca yang ini terlebih dahulu, kemudian saya bayar utang Anda, sekarang!

Oke! Mari kita mulai!

Sebelumnya, saya telah menceritakan beberapa fase yang saya alami selama belajar menulis. Terakhir adalah fase mencari inspirasi. Nah, berikutnya adalah:

5. Fase Mencoba Skenario

Fase ini merupakan fase yang berlangsung paling cepat, namun memiliki kisah yang tidak bisa saya lupakan begitu saja. Seperti yang Anda ketahui, sewaktu SMP hingga SMA, saya tergila-gila dengan film! Saking sukanya dengan film, saya nekat untuk mencoba menulis skenario! Tentu saja saya masih mengingat hari itu. Saya menulis skenario pertama saya sewaktu kelas 3 SMA (masih menggunakan sistem kelas 1-3, bukan 10-12). Pemicunya cukup banyak. Pertama, proyek novel persahabatan seorang bocah dengan 10 hantu sadis yang saya tulis, mengalami kemandekan dan mendapat respon kurang antusias dari teman-teman saya. Kedua, saya membeli buku skenario Arisan! yang bagaikan ‘The Ultimate Guidebook to Become The Great Screenwriter’ bagi saya saat itu. Ketiga, film Kill Bill Volume 1.

Saya masih ingat ketika menemukan buku skenario film Arisan! terpampang di salah satu rak toko buku. Sewaktu membuka-buka lembarannya, saya seperti menemukan ‘wahana baru’ dalam dunia tulis menulis saya. Tapi, harga bukunya saat itu termasuk mahal. Maka saya pun terpaksa membujuk ibu saya untuk membelikannya. Untung beliau tidak begitu suka film, sehingga tidak tahu kalau film Arisan! ada unsur gay-nya. Hahahaha. Sampai rumah segera saya baca, dan saya telaah secara otodidak istilah-istilah skenario (seperti Ad Lib, cut to, bridge, etc), dengan membayangkan adegan di filmnya. Maksudnya, ‘ad lib’ muncul saat adegan apa, saat kapan ‘cut to’ terimplementasi dalam film, dan lain sebagainya. Nah, berbekal buku tersebutlah, saya ingin menjajal diri sendiri, apakah saya mampu menulis sebuah skenario? Lalu, ceritanya tentang apa? Bak gayung bersambut, saya menonton Kill Bill Vol. 1… and it was a GENIUS! QT you’re a Bad Motherfreaker! (:D) Itulah pertama kalinya saya jatuh cinta dengan Quentin Tarantino (saya belum menonton Pulp Fiction saat itu), dan film itulah yang menjadi pemicu saya untuk segera mencoba menulis skenario. Kisah bocah dan 10 hantu? Bye bye!

Saya seolah hanya memfokuskan diri pada proses penulisan skenario, hingga sedikit melupakan belajar dan sekolah. Lagipula, ah, saya anak IPS sejati, dan saya masuk kelas IPS, so I don’t have to worry about anything, except Basic Math! But, screwed Basic Math! I have more important thing to do: my first scenario! Tapi memang dasar anak SMA yang masih ‘hijau’ dan ‘awam’, saya mencomot banyak unsur dari berbagai film yang saya sukai. Tidak, bukan plagiat, karena kalau sudah berurusan dengan menghasilkan karya sendiri, saya berusaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan karya yang bisa dibanggakan! Secara umum, banyak unsur yang saya ambil dari The Godfather (1 dan 2, karena senyum miring Sofia Coppola merusak film ke-3), Gosford Park (yang begitu saya sukai saat SMP, sementara teman saya lebih suka menonton Spider-Man), dan tentu saja Kill Bill Vol. 1.

Secara garis besar, kisahnya adalah tentang seorang reporter muda yang ‘eager’ dan punya rasa penasaran tinggi, yang hendak meliput secara lengkap sebuah kasus pembunuhan seorang pengusaha kaya. Dia akhirnya melibatkan diri ke dalam sebuah klub eksklusif tempat para kaum borjuis berpesta dan bersenang-senang. Tak semua orang bisa menjadi member klub paling misterius sekaligus prestisius tersebut. Namun, berkat kecerdikannya, si reporter berhasil mendekati pemilik klub tersebut, seorang ‘Mogul’, salah satu pengusaha tersukses di negeri ini. Ia pun berhasil menjadi member klub tersebut. Akan tetapi, tanpa sadar, ia juga telah melibatkan diri pada sebuah kasus konspirasi pembunuhan, serta penyelundupan narkotika secara ilegal. Tak hanya itu, ia pun diburu oleh sekelompok pembunuh bayaran, yang ternyata adalah ‘orang dekat’ si reporter.

Terdengar keren? Tentu. Saya jagonya menngkonsep cerita dengan premis yang keren. Hahaha. Meskipun demikian, karena saya masih SMA, tentu saja banyak kekurangannya. Salah satunya adalah beberapa adegan yang terasa agak ‘sinetron’. Hahaha. Kendati begitu, boleh dikatakan (bahkan hingga sekarang), saya bangga dengan skenario saya yang satu ini. Tak cuma karena ini adalah skenario pertama saya, namun juga karena saya menulisnya dengan antusiasme yang tinggi, serta mengeksekusinya dengan serius. It’s like a writing orgasma! Alhasil, saya menghasilkan sebuah cerita yang cukup panjang, hingga bisa saya belah menjadi dwilogi! Dan hebatnya lagi, masing-masing part terdiri dari 90 halaman! Jika 1 halaman saya hitung-hitung bisa 1 menit, maka 1 part skenario saya tersebut bisa menghasilkan film berdurasi 90-100 menit! Whoaaa! I’m good! Hahahaha. Tapi, yah, itu semua karena saya memiliki cukup banyak karakter yang berperan penting, jadi ceritanya pun berkembang cukup pesat. Apalagi di sekuelnya, saya juga menceritakan masa lalu pemilik Truly Club, sewaktu masih muda dan baru menikah.

Dan begitu skenario saya selesai, saya hanya bisa tersenyum puas. Saat itu saya bahkan berani berujar: “This is my masterpiece… so far!”. Kali ini, saya tidak meminta pendapat teman-teman saya, karena mereka adalah sekelompok manusia cemen, yang kurang menyukai film, tapi sering menganggap saya cemen. Plus, ujian sudah semakin dekat so they won’t give a damn to my masterpiece. But I don’t give a damn either! Bagi saya, kalau saya perlihatkan karya saya tersebut ke guru Bahasa Indonesia saya, mungkin saya sudah diberi garansi kelulusan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, tanpa perlu mengikuti UN Bahasa Indonesia. Hahahaha.

Selesai? Belum! The best part is yet to come! Waktu itu saya berpikir, saya tidak butuh komentar atau pujian dari teman-teman cemen saya (yes, I was a little bit snob back then). Yang saya butuhkan adalah pengakuan dari pekerja profesional. Maka, dengan kepala di atas langit karena bangga atas ‘prestasi’ saya tersebut, saya pun mengirimkan e-mail ke Kalyana Shira Film. Isinya? Tentu saja menawarkan skenario Truly Club Part 1 & 2 untuk difilmkan mereka!

BWAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!😀

Bahkan hingga sekarang pun saya masih tertawa geli mengingatnya! Ya Tuhan, apa yang saya pikirkan saat itu, sehingga bisa dengan percaya-dirinya memohon agar Mbak Nia DiNata sudi memfilmkan ‘masterpiece’ saya tersebut? Hahahahaha. Saya benar-benar bagaikan ‘katak sombong dalam tempurung’, sedikit lupa kalau saya ‘cuma’ siswa SMA yang sama sekali tidak memiliki pengalaman menulis skenario, apalagi pengalaman di dunia perfilman. Hahahaha. Bisa kalian bayangkan bagaimana wajah pihak Kalyana sewaktu membaca e-mail saya tersebut? LMAO. Dan tentu saja e-mail itu tidak pernah dibalas oleh mereka.

Yah, tentu saja pada akhirnya saya ‘sadar’, menertawai kebelaguan saya waktu itu, dan lebih ‘tahu diri’ dengan bersikap “Okay, one day, you might write a good scenario, but this is not the time yet! This is not the time yet!”. Jadi, untuk skenario, saya belum pernah mencoba menulisnya lagi, sejak Truly Club selesai (dan akhirnya hilang bersama file lainnya, di laptop jadul saya). Kapan menulis skenario lagi? Entahlah. Mungkin pada kesempatan berikutnya, saya sudah mendapat titel novelis, dan cukup dipercaya untuk menggarap skenario sungguhan untuk produksi film sungguhan. Menjadi asisten penulis skenario pun saya tidak keberatan, karena saya ingin belajar terlebih dahulu. My time will come, I solemly believe that, but as I said before… this is not my time yet. Not yet.

6. Fase Serius Menekuni Menulis Novel

Jadi, saya pun lulus dari SMA, masuk kuliah, dan mulai memikirkan saya harus mulai menghasilkan sebuah karya nyata. Bukan sebatas tulisan yang dinikmati oleh saya dan teman-teman saya saja, melainkan bisa dinikmati oleh masyarakat luas… serta menghasilkan uang (Ka-Chiing! $__$). Saya pun kembali memfokuskan diri untuk menulis novel, karena saya menyadari, di sanalah saya bisa mengerahkan seluruh potensi menulis saya secara maksimal. Not just a novel, but a worth-to-publish novel. Dan sampai sekarang, saya masih berjuang mewujudkannya.

Sejak kuliah hingga sekarang, paling tidak saya berhasil menulis 5 novel yang berhasil saya selesaikan hingga tuntas. Yang pertama bergenre fantasi, langsung saya anggap ‘gagal’ karena akan terlalu ‘The Lord of the Rings‘ (walau TLOTR tidak punya penunggang paus :P). Terlebih, saya selesai menulisnya bertepatan dengan rilisnya novel Harry Potter terakhir. Novel pertama saya layu sebelum berkembang😥

Novel kedua saya garap dengan lebih serius, bahkan dengan menganalisa kecenderungan pasar. Tidak, saya bukan tipe penulis yang suka ikut latah dengan trend di pasar. Tapi setidaknya, saya perlu menelaah ‘medan’ perang yang harus saya hadapi. Saya juga mulai merubah pemikiran sombong saya. Dulu saya sempat berpikir: “Kenapa harus menulis yang biasa, kalau bisa menulis sesuatu yang luar biasa?”. Begitu arogannya, hingga lupa diri kalau saya tidak bisa melompati 20 anak tangga sekaligus. Maka saya pun merubah persepsi dan sikap saya, dengan berpikir: “Mengapa tidak menulis tentang hal biasa, dan jadikanlah luar biasa.” Karena, hey, justru sering kali, kesederhanaan itulah yang luar biasa. Maka, saya pun menulis dengan mengerahkan seluruh pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki saat itu.

Novel kedua saya lebih ‘sederhana’. Berkisah tentang 5 orang sahabat SMA yang membentuk sebuah band pop-rock. Ceritanya saya ambil dari pengalaman teman-teman SMA saya, juga sedikit pengalaman saya (privasi dong! Hehehe). Hasilnya lumayan. Review dari teman-teman juga tergolong oke. Tidak terlalu teenlit, namun tetap segar dan ‘remaja banget’. Dengan tekad bulat, saya pun menawarkan naskah tersebut pada salah satu penerbit. Saking bersemangatnya, selama sebulan, saya hampir tidak bisa tidur, menantikan ‘kabar baik’ dari penerbit. Saya selalu tidur dengan senyum mesam-mesem, seperti pria yang sebentar lagi akan menikah, dan merasakan nikmatnya malam pertama. LOL.

Selagi menunggu, saya menulis sebuah novel ringan, yang saya tulis dengan semangat main-main. Bahkan inspirasinya datang dari pemikiran su’udzhon saya pada sepasang muda-mudi yang saya anggap MBA, karena membawa seorang anak kecil yang lucu. Novel ringan tentang pasutri yang belum siap membina rumah-tangga, berfokus pada suami yang tolol dan clueless. Pujian terbesar adalah ketika teman saya tertawa terbahak-bahak sewaktu membacanya. Padahal, dia tipe mahasiswi serius, namun entah karena apa sangat menikmati segala ketololan yang saya lakukan / katakan / tuliskan, dll.

Meskipun demikian, kegembiraan saya tersebut tidak berlangsung lama. Setelah 6 bulan menunggu dan tak ada kabar, saya memberanikan diri menghubungi pihak penerbit via telepon. Jawabannya sungguh meruntuhkan semangat. Dengan santai, Mbak-Mbak resepsionis penerbit menjawab “Oh, iya maaf Mas. Naskah Mas kami tolak.” Yang membuat saya benar-benar sedih adalah kenyataan bahwa mereka terlambat menghubungi saya (mereka janji 3-4 bulan akan memberikan kabar pada saya), karena naskah yang saya berikan ‘hilang’, setelah diproses. Sehingga, yah… “Harap maklum Mas, terima kasih…”

Dengan getir, saya mengucapkan “Oh, iya, Mbak, terima ka…”, dan koneksi telepon terputus, bahkan sebelum saya sempat mengucapkan “…sih.”

Dunia saya serasa gelap dirudung mendung. Saya sempat merasa ‘gagal’, sebelum memutuskan untuk memprint kembali naskah novel kedua saya tersebut  (setelah edit ulang, agar lebih rapi jali), dan mencoba mengirimnya kembali ke penerbit lain. Dengan semangat, saya sambangi langsung kantor penerbit tersebut, disambut ramah, berbincang-bincang sebentar dengan editornya, dan pulang dengan senyum, yakin bahwa naskah saya akan diterima. Dan, eng ing eng! Saya mendapat kabar kalau NASKAH SAYA DITERIMA UNTUK DITERBITKAN!

YA ALLAH! SEPERTI MIMPI!

Dengan senyum lima juta watt terpampang terus di wajah, saya kembali mengunjungi penerbit tersebut, beberapa bulan kemudian. Saya disodori kontrak, yang boleh saya baca dan pelajari dulu di rumah. Intinya sih, bukan kontrak penerbitan, melainkan kontrak janji penerbitan. Artinya: jika dalam waktu 2 tahun novel saya tidak diterbitkan, maka saya boleh memperpanjang kontrak, dan akan diterbitkan pada tahun ke-3, atau saya boleh membatalkan kontrak saya tersebut, dan bisa memberikannya ke penerbit lain. Tapi, siapa peduli?! Saya sedang senang! Saya menelpon orang tua, yang langsung gembira dengan kabar tersebut. Saya beritahu teman-teman dan segera ‘dipalak’ untuk mentraktir mereka. Saya bahkan segera berfoto-foto, seraya memamerkan kontrak tersebut via webcam. Oh, such an happy day! In 2 years or least, I will be a NOVELIST! Can you imagine it? IT’S HUGE!

Sebulan berlalu, dua bulan, lima, enam, sepuluh bulan, setahun, setahun lebih pun berlalu… saya semakin bahagia. Sebentar lagi, saya akan menemukan nama saya di cover novel karya saya sendiri!

Dua tahun pun tiba. Saya belum mendapat kabar. Oke, sabar Adham! Mungkin bulan depan.

Dua tahun satu bulan… Hmmm, sepertinya akan lebih baik jika saya menghubungi pihak penerbit. “Masih harus menunggu, Mas, karena kami sedang mempromosikan novel karya S terlebih dahulu.” Oke, saya akan sabar.

Dua tahun dua bulan… “Masih belum, Mas. Maaf ya…” Baiklah, sudah menunggu dua tahun, tidak ada salahnya menunggu lebih lama.

Dua tahun tiga bulan… “Maaf, ya Mas…” Hmmm…

Dua tahun empat bulan… sepertinya sang editor mulai malas dan sebal karena saya hubungi terus menerus. Akhirnya dia menjawab “Maaf Mas, kami masih belum bisa berikan kepastian. Bagaimana kalau kita perpanjang kontrak Mas saja?”

It’s such a rejection, but it’s not delicious… T___T

Saya pun menceritakan hal ini pada Ayah saya. Saya pikir beliau akan menganjurkan untuk memperpanjang kontrak. Nyatanya, beliau malah berujar “Jika memang mereka tidak menghargai bakat kamu, kenapa kamu tidak cari orang lain yang menghargainya?” And… DANG! Beliau sukses membuat saya berpikir keras, dan akhirnya membatalkan perpanjangan kontrak tersebut. Saya menuruti nasihat beliau, karena beliau adalah orang tua saya (dimana nasihat mereka bagaikan tuah yang luar biasa), dan karena merasa novel kedua saya tersebut sudah mengalami ‘penuaan’. Bagaimana tidak? Sudah 3 tahun sejak pertama kali novel tersebut saya tulis, ceritanya pun mulai ‘usang’. Inilah akibatnya jika saya terlalu banyak memasukkan trend yang sedang  hype di kalangan remaja saat itu. 3 tahun kemudian, trend tersebut niscaya akan ketinggalan jaman… seolah sudah ketinggalan jaman selama 3 dekade.

Perjalanan saya mendapat gelar novelis pun masih dan terus berlanjut.

Novel keempat dan kelima saya sebenarnya adalah satu novel, yang saking panjangnya harus saya belah menjadi dua bagian. Saya menghabiskan waktu 2,5 tahun untuk menulisnya. Akan tetapi, barangkali bukan waktunya bagi saya untuk menceritakan kisah saya yang satu ini. Saya akan mendongengkannya di lain kesempatan. Hehehehe.

Singkatnya, saya masih dalam proses mendapatkan gelar ‘novelis’, menantikan karya saya terpampang di rak-rak toko buku, dinikmati oleh pembaca, dan syukur-syukur mendapat sambutan baik, sehingga dilabeli Best Seller. Hehehehe. Amiiin ya Allah, amiiin…

Untuk saat ini, saya memutuskan untuk terus berkarya,terus berusaha, dan terus mencoba menggapai seluruh mimpi muluk saya😀

4 thoughts on “Those Phases Part 2

  1. Saya suka dengan yang terakhir ini “Singkatnya, saya masih dalam proses mendapatkan gelar ‘novelis’, menantikan karya saya terpampang di rak-rak toko buku, dinikmati oleh pembaca, dan syukur-syukur mendapat sambutan baik, sehingga dilabeli Best Seller. Hehehehe. Amiiin ya Allah, amiiin…

    Untuk saat ini, saya memutuskan untuk terus berkarya,terus berusaha, dan terus mencoba menggapai seluruh mimpi muluk saya ”

    Terus berjuang dan tetap semangat. Semoga Allah memberi jalan. Amin…

  2. dari semua perjuanganmu itu yang paling berharga adalah prosesnya bukan hasilnya. berani berharap maka kamu juga harus berani gagal. yang terpenting jangan sampe kamu jatuh setelah kamu berhasil menaiki tangga berduri hanya karena kamu merasa bangga dan sombong. seperti iblis harus jatuh dari surga hanya karna dia sombong. sebuah karya itu relative artinya bisa saja menurut kita sangat spekta tapi dimata orang biasa saja. hehe cuma saran & share pengalaman sedikit aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s