I’m Such a Lazybone and Those Phases


Dan… akhirnya kejadian juga! Saya malas menulis di blog ini.

‘Penyakit’ yang membuat saya memiliki beberapa blog yang kemudian ditinggalkan begitu saja. Yang satu ini pun nyaris saja mengalami nasib yang sama. Sigh.

Tapi akhirnya saya memutuskan kembali! Horeee!

Ada alasannya memang. Dan alasan tersebut bermula di sebuah jejaring sosial, dimana saya dan teman-teman saya memutuskan untuk membuat sebuah program 30 hari menulis. Sesuai namanya, kita wajib memposting sebuah tulisan (bukan sekedar micro-blogging) selama 30 hari. Fiksi, non-fksi, terserah! Yang penting memposting sebuah tulisan!

Lalu hasilnya? Di luar dugaan, saya bisa menghasilkan 33 tulisan selama 30 hari! UWOOO! Please give me a big applause! HOREEE!

Wah, ternyata Adham rajin juga ya?! Gitu dong! Kalau ada kemauan, kamu pasti bisa menulis secara rutin setiap hari.

Hahahaha. Yeah right. Maaf, kawan. Sebenarnya saya tidak benar-benar menulis, melainkan hanya copy paste tulisan yang sudah pernah saya buat sebelumnya, dan mempostingnya di akun saya tersebut! Bwahahahaha! O man, I’m such a lazybone!

Padahal salah satu modal utama seorang penulis yang baik adalah disiplin, disiplin, dan disiplin! Dalam arti, tiada hari tanpa menulis! Saya? Saya selalu mengkambing-hitamkan writer’s block untuk menutupi kelemahan saya dalam menulis. Hahahahaha. I’m pathetic.šŸ˜€

Tapi, baiklah! Kita mulai saja!

Apanya?

Errr, ya, kita mulai ‘topik’ pembicaraan saya di sini!

Oh okay!

So, can you please shut up and let me do my writing stuff? Sheesh! Abaikan saja dia pembaca! Itu saudara kembar imajiner saya, Adam. Tanpa ‘H’.

Eeehmm! *berdeham!*

Jadi, saat saya memutuskan untuk kembali mengisi blog sepi saya ini, saya berpikir topik apa yang ingin saya sampaikan?! Karena sebelumnya saya masih menceritakan tentang masa kecil saya yang indah, dan kecintaan saya pada menulis dan membaca mulai tumbuh, maka saya memutuskan untuk ‘menyambung’ kisah-kisah tersebut.

Boleh dikatakan, saya baru menyadari hal ini saat saya sudah berstatus sebagai mahasiswa. Tanpa saya sadari sebelumnya, saya seolah membuat sebuah ‘fase’ tertentu dalam perjalanan saya ‘belajar menulis’. Fase-fase yang muncul silih berganti karena saya termasuk orang yang cepat bosan. Berikut adalah fase-fase tersebut:

1. Fase Belajar Menulis dan Menggambar

Satu lagi hobi saya sewaktu masih kanak-kanak, selain menulis dan membaca, yaitu menggambar. Seperti yang saya ceritakan pada post saya sebelumnya, saya sangat menyukai komik. Doraemon, Kung Fu Boy, Dragon Ball, Tintin, Asterix & Obelix… saya melahap banyak sekali komik. Dan tentu saja, saya jadi kepingin membuat komik juga! Awalnya saya ‘meniru-niru’ komik yang saya baca. Saya membuat komik Doraemon dan Kung Fu Boy versi saya sendiri. Namun, lama kelamaan saya tidak puas. Untuk apa saya membuat komik yang bukan milik saya sendiri? Maka saya pun mulai membuat komik sendiri, yang sebagian besar tidak pernah selesai ceritanya. Sekarang pun saya sudah lupa komik macam apa yang pernah saya buat. Yang saya ingat hanya dua.

Yang pertama berjudul Petualangan di Mars. Tentang manusia yang pindah ke Mars karena bumi sudah penuh sesak. Tokoh utamanya mampu mengeluarkan ‘bola energi’ blablabla-nium (saya lupa nama jurusnya :D). Ceritanya agak mirip X-Men (karena assemble cast, dengan tokoh-tokoh mutant). Yang saya heran, di Mars ada serigala jadi-jadian ya? LOL.

Yang kedua bersetting di Bumi, tentang sebuah kelompok orang-orang berkekuatan hebat (ternyata saya suka menulis cerita dengan tokoh yang banyak. Hahaha). Ketuanya bernama Heru (Masih adakah di luar sana yang bernama Heru? LOL). Dia memiliki tangan cyborg, dimana kepalan tangannya bisa meluncur layaknya misil. Cukup keren kan? Dan ada karakter wanita yang bisa berubah menjadi Cheetah. Terima kasih Thundercat! -____-”

Fase ini bertahan hingga kelas 5 SD. Lama kelamaan saya mulai jenuh. Tidak ada satu pun komik yang berhasil saya akhiri hingga rampung, dan saya pun mulai ‘lelah’ menggambar. Butuh waktu, menguras tenaga tangan, dan rasanya ‘sia-sia’ setelah menggambar sedemikian banyak namun tidak ada satu komik pun yang selesai. Sayangnya, kegemaran saya menggambar akhirnya lenyap begitu saja sewaktu saya lulus SMA.

2. Fase Cerpen

Nah, bosan menggambar komik karena alasan ‘lelah’, saya pun mencoba ‘medium’ lain yang kiranya lebih cocok dengan saya. Cerpen adalah pilihannya. Kenapa? Karena cerpen itu pendek (jelas sekali ya), dan tidak perlu menggambar! Kau hanya perlu menuliskan ceritamu, dan tidak perlu ada gambar! Saya ulangi: tidak perlu ada gambar! Hahahahaha!

Saya mulai mencoba cerpen sewaktu kelas 6 SD. Genre yang sering saya tulis adalah horor dan misteri. Oh saya sedang kerajingan baca komik-komik horor karya Chie Watari, juga komik-komik mistis Petruk, Gareng, dll karya Tatang S. Genre ini membuat jiwa pra-remaja saya senantiasa berdebar-debar dalam excitement dan teror! Saya ingat ada cerita tentang darah di sumur, arwah Beethoven (please forgive me, Mr. Ludwig!), hingga boneka pendekar Samurai yang bisa hidup dan membunuh pemiliknya sendiri (beat that Chucky!). Dan untuk mengimbangi cerita-cerita horor yang saya konsumsi tiap hari (saya masih menyayangi jantung saya), saya pun mulai membaca novel. Novel komedi tipis berjudul Lupus. Yep, you did rock my world back then, Mr. Hilman! Lupus pulalah yang membuat saya meninggalkan fase cerpen!

3. Fase Mencoba Novel & Puisi

Memasuki bangku SMP, saya yang dibuat terpingkal-pingkal oleh Lupus berniat untuk mencoba tantangan baru: novel! Tapi saya cukup tahu diri. Saya tahu pasti bahwa ‘tantangan’ menulis novel itu jauh berbeda dibandingkan menulis cerpen. Maka, saya merasa saya perlu ‘belajar’ terlebih dahulu. Saya harus membaca novel lain – bukan hanya Lupus – seperti… Olga dan Lulu (okay… saya adalah fans berat Hilman saat itu. Hahaha). Namun perjalanan menulis novel saya sempat ‘tertunda’. Saya pindah ke Bogor, karena ayah dimutasikan ke kantor cabang beliau di Pongkor. Saya dititipkan di rumah kakek, sementara orang tua saya mengurusi kepindahan dan lain sebagainya di Kijang.

Terus terang, saya mengalami culture shock! Bogor bagaikan New York yang bergelimang manusia, sewaktu saya sampai di sana. Tidak seperti Kijang, dimana kita mengenal nyaris seluruh tampang para penduduknya di sana. Di Bogor, saya bahkan tidak pernah tahu wujud tetangga saya. Mengerikan! Bogor mengerikan! Kota besar begitu mengerikan! I want my Mom! I want my Dad! But they’re not here with me! XO

Dan Ya Tuhaaaan… Siswa-siswa di SMP baru saya jauh lebih ‘badung’ dibandingkan di SMP lama saya. Benar-benar ‘anak kota’. Saya adalah ‘anak kampung’ dari negeri antah berantah. Alhasil, saya mengalami kesulitan dalam beradaptasi. Emosi saya dibuat naik turun, oleh teman-teman sekolah. Ada yang sangat baik, ada yang bikin saya keder tiap kali mau masuk sekolah. Ditambah, saat itu saya mulai memasuki fase akil baligh, dan kondisi emosional menjadi semakin labil akibat perubahan hormonal. Aaargh! Rasanya tidak tertahankan lagi! Saya perlu menyalurkan semua perasaan yang ada, sebelum dada saya meledak, dan saya mati sendirian di Bogor! Cara saya menyalurkan seluruh kegalauan ini: puisi!

Ya! Mendadak saya jadi bisa menulis puisi. Oh, saya pandai berpantun sewaktu di Kijang. Terlebih, orang Melayu tidak asing dengan pantun. Namun puisi masih merupakan hal yang baru bagi saya. Puisi saya pun termasuk ‘angsty’ untuk ukuran puisi karya anak SMP. Bukan tentang tas baru, atau sepatu baru, seperti puisi-puisi di majalah Bobo, melainkan tentang kemarahan, kebencian, kesepian, kesendirian, dan kesedihan. Ow man, I’m such an emo. LOL. Saya pun memiliki spot favorit sewaktu menulis puisi: genteng rumah kakek.

Yup. Hampir tiap sore, saya memanjat genteng rumah, dari jendela kamar saya di lantai 2. Bertepekur di sana, dengan buku tulis dan pulpen. Memandangi awan, menikmati semilir angin, merenung, menulis puisi, mencuri rambutan kakek, dan sesekali mencoret-coret buku dengan sketsa abstrak ekspresi manusia kala berteriak marah, atau menangis sedih. Atau kalau sedang merasa hampa, saya hanya duduk saja di sana hingga berjam-jam, dan baru kembali ke kamar, setelah matahari nyaris terbenam, dan nyamuk-nyamuk mulai beraksi dengan bangsatnya.

Akan tetapi saya tidak melupakan keinginan saya mencoba menulis novel. Dikarenakan saat itu saya tidak memiliki komputer, dan kakek hanya punya mesin tik (kalian tahu artifak purbakala yang satu ini, kan?) yang tuts-nya mampu membuat jari-jarimu patah saking kerasnya, saya memilih untuk menulis novel di buku tulis saja. Saya membeli buku tulis yang tebal (buku tulis hardcover dengan motif kotak-kotak taplak meja). Saya menulis beberapa cerita. Ada kisah lima anak yang tersesat di planet asing dan bertemu Ratu yang mirip Queen Amidala (saya sedang keracunan Star Wars), dan komik yang “Hilman bangeeeet!” tentang Erick, seorang anak milyuner tapi tidak sombong (padahal saat itu saya tidak tahu tentang Mas Boy. LOL), yang memiliki kekuatan supranatural setelah minum tonikum misterius yang dicuri oleh sekawanan berpakaian hitam (ingat para pria berjas hitam di Detective Conan?). Hasilnya? Saya tidak berhasil menyelesaikan semuanya, dan tanggapan dari teman yang membaca pun kurang membahagiakan. Dia bilang “Hilman bangeeeet!”. Sigh.

4. Fase Mencari Inspirasi

Terus terang saya cukup frustasi karena tak kunjung berhasil menyelesaikan satu novel pun. Padahal, sewaktu saya ke toko buku, saya sudah menemukan sebuah novel misteri karya anak seumuran saya. Brengsek tuh bocah! Rasanya ingin saya teluh dan guna-guna, karena berani-beraninya dia mendahului saya! Kehed! (Maaf -____-). Kemudian saya mulai berpikir, kenapa saya tak kunjung berhasil dalam menulis hingga selesai? Kemudian, bak sebuah pencerahan yang diterima oleh para nabi-nabi mulia, saya seolah mendapat jawaban dari Tuhan: inspirasi. Ya, barulah saya sadari kalau saya kurang memiliki sumber isnpirasi. Selama ini saya hanya bagaikan berjalan dengan kepala ‘hampa’ mencomot ide sana-sini. Saya perlu sumber inspirasi lain, selain dari buku.

Eh, pucuk dicinta ulam pun tiba! Sewaktu sedang berbengong-ria di rumah nenek di Jakarta, saya menemukan majalah film milik sepupu saya. Saya masih ingat, majalh tersebut mengulas dua film fantasi terbesar abad ini: The Lord of the Rings dan Harry Potter. Seperti pengembara tolol yang tersesat di gurun dan lantas menemukan oase, saya seolah menemukan sumber inspirasi baru, bernama film!Ā  Oh, betapa saya mulai membuka mata terhadap film. Majalah sepupu pun saya colong dan pura-pura tidak tahu saat ditanya dimana majalahnya. Itu semua saya lakukan demi menggali dalam-dalam pengetahuan saya akan film. Tak mungkin mencuri majalah lagi, saya pun merengek agar dibelikan majalah film tiap bulannya oleh ayah saya. Saya segera sedikit melupakan komik dan novel. Film adalah cinta saya yang baru. Oh betapa saya terpesona oleh dunia sinema. Oh betapa terbuainya saya melihat rok-rok yang disibak, dan tungkai-tungkai kaki indah yang diayunkan ke udara. Saya menyalahkan Moulin Rouge! dan Baz Luhrmann karena membuat saya sedikit mesum saat dewasa. LOL.

Boleh dibilang, hanya novel Harry Potter yang mampu mengalihkan dunia saya dari film. Harry Potter adalah novel pertama setebal 300 halaman yang saya selesaikan dalam waktu singkat (2 hari 1 malam saja). Novel itu jenius! Rowling ibarat bidadari dari surga, yang sayangnya sudah tante-tante (apa hubungannya? LOL). Harry Potter pun dengan mudah menjadi favorit saya, selain Lupus.Ā  Oh betapa saya ingin membunuh siapapun di antara teman saya yang telah berani mencuri Harry Potter and the Prisoner of Azkaban! (‘karma’ karena saya pernah nyolong majalah sepupu saya? O___o).

Dan saya tetap terpesona oleh dunia film dan Harry Potter hingga saat ini (meski kadarnya sudah berkurang, tidak seperti sewaktu saya duduk di bangku SMP).

Hmmm… Sepertinya bersambung…šŸ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s