Baca, Baca, Baca! Aku Butuh Buku! Segera!


Setelah menemukan ‘gairah’ pertamaku: menulis, aku seolah kalap! Aku ingin menulis lagi! Segera! Aku ingin menceritakan kisah lainnya, menggoreskan semesta baru! Segera! Maka, aku pun mengambil kertas dan pensil, tengkurap di lantai, dan… tidak terjadi apa-apa.

Aku seakan dihantam oleh ‘kenyataan pahit’ yang mengatakan aku tidak punya kisah yang harus ditulis! Aku tidak mungkin menulis, tanpa ada cerita yang bisa ditulis!

Lantas, kemana ‘hilangnya’ cerita-cerita itu, ya? (Adham kecil berpikir keras)

Bukan hilang, melainkan aku memang tidak memilikinya. Aku pun tersadar, saat pertama kali aku jatuh cinta pada tulis menulis, aku ‘hanya’ menulis. Bahan ceritanya berasal dari dongeng yang dituturkan oleh nenekku.

Aku pun mengerang sebal. Bagaimana mungkin aku melupakan hal sepenting itu? Menulis tidak hanya menggoreskan pensil atau pena (atau menekan keyboard komputer dengan penuh cinta). Menulis juga berarti bercerita. Dan saat itu, aku tidak punya cerita.

Oke. Jadi, dari mana aku bisa mendapatkan cerita? Tidak mungkin aku meminta nenekku bercerita tiap hari. Tidak mungkin juga guruku memberikan tugas menulis setiap hari.

Maka, hanya ada satu cara: membaca. Ah, me and my brilliant idea!

Terlebih, buku bisa dibuka kapan saja, diganggu kapan saja, dan mustahil memprotes atau mengeluh karena ‘lelah’ dibaca olehku. I’m such a genius😀

Tapi, sebelum itu, mari aku bercerita sedikit tentang tempat tinggalku saat masih kecil…

Aku tinggal di Kijang, sebuah kota kecil di pulau Bintan – tetangga pulau Batam – Kepulauan Riau. Jaraknya kurang-lebih 28 KM dari Tanjung Pinang,  yang kelak menjadi ibukota propinsi Kep. Riau (saat itu Kep. Riau masih ‘bergabung’ dengan propinsi Riau). Ayahku dipindah-tugaskan ke kota tersebut, pada awal dekade 90-an. Beliau bekerja di sebuah perusahaan tambang yang memiliki beberapa cabang. Salah satunya adalah Kijang, penghasil Bauksit terbesar di Indonesia saat itu. Maka, di sanalah aku tumbuh besar, menghadapi masa kecil yang ceria layaknya kisah para Laskar Pelangi (salah satu alasan aku menyukai novel dan film Laskar Pelangi adalah karena kisahnya yang mengingatkanku dengan masa kecilku).

Dan percayalah, sulit mencari buku-buku bacaan di Kijang. Seingatku, tidak ada toko buku di sana saat itu. Kalau ingin membeli buku, kau perlu naik taksi ke Tanjung Pinang. Pft, gaya bener si Adham naik taksi cuma buat beli buku. Percayalah, taksi di sana tidak seperti taksi di Jakarta. Taksi di sana lebih mirip angkot atau odong-odong… berbentuk sedan butut.

Setelah aku melahap habis semua cerita-cerita pendek di buku ‘Mari Belajar Bahasa Indonesia – Untuk Siswa Kelas 2, Caturwulan 2’ (kurang lebih begitulah judul buku pelajaranku), aku butuh bahan bacaan lain. Bacaan apa pun. Tulisan di bungkus mie instan, bungkus sabun batangan, plang jalan, kotak teh, dan lain sebagai. Jika ada rangkaian huruf di suatu tempat, aku pasti membacanya!

Akhir pekan, sewaktu jalan-jalan menuju Tanjung Pinang, aku pun meminta ayah untuk membelikanku buku. Aku tidak ingat buku pertama yang kubaca. Aku hanya ingat, sebagai anak kecil, aku menyukai gambar-gambar yang lucu pula. Jadi, aku cukup yakin buku pertamaku adalah komik. Aku segera menjadi fans Doraemon, Kobo-chan, dan Kungfu Boys. Saat itu, aku tidak membelinya secara berurut. Aku membeli buku dengan cover yang paling menarik. Doraemon dan Kobo-chan tidak masalah, karena mereka adalah komik lepas. Sewaktu membaca Kungfu Boy barulah aku mengalami kebingungan, karena ceritanya yang lompat-lompat.

Ah, aku sangat bodoh! Tentu saja ceritanya melompat-lompat! Itu karena aku membacanya tidak dari volume 1. -____-”

Maka, sejak saat itu, aku mulai membaca komik sesuai urutan nomor volume-nya.

Dan sejak saat itu pula, aku jadi tergila-gila dengan KOMIK!

Hmmm… sepertinya bersambung…

4 thoughts on “Baca, Baca, Baca! Aku Butuh Buku! Segera!

  1. mencintai menulis berarti kau membuat segala momennya menjadi abadi dalam tulisan tersebut. Dan ya, menulis itu amat menyenangkan bukan? tak mesti untuk keperluan komersil yang bisa menghasilkan feedback materi buat kita, tapi saat sudah menuliskan sesuatu- seperti ada sebuah kebutuhan yang sudah kita penuhi dan kita salurkan, sebagaimana kita membutuhkan makanan. Banyak hal di dunia ini mudah kita lupakan. Banyak hal di dunia ini menghilang dan tidak abadi. Tapi dengan menuliskannya, kita menyimpannya dalam tempat abadi yang tidak akan rusak dan membaginya dengan orang lain🙂

    yaaa asal internet tidak menghilang aja sih:mrgreen:

    tetap menulis yah. saya juga sangat suka menulis. Semangat !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s