Me, Lupus, and the Legacy of Hilman


Bangun Lagi Dong, Lupus

Bangun Lagi Dong, Lupus

Kemarin siang (12 April 2013) saya baru saja bernostalgia begitu selesai menonton film Bangun Lagi Dong, Lupus. Terus terang saya menonton film ini tanpa ekspektasi apa-apa. Bahkan, sebenarnya saya tidak berminat untuk menonton film ini kalau saja tidak diajak oleh teman saya.

Bagi fans berat Lupus sejak lama (baca: om-om kayak saya -__-) mungkin agak kecewa karena Lupus di film ini tidak terlalu mirip dengan Lupus di karya Hilman yang fenomenal tersebut. Bagaimana tidak, Migdad Addausy (pemeran Lupus) bahkan tidak punya jambul dan badannya malah tegap alih-alih jangkung-cungkring. Plot cerita yang bertumpuk, pesan moral dan beberapa joke yang terkadang hit and miss, serta—yang paling disayangkan—penampilan Didi Petet yang seolah agak dikucilkan di film ini.

Tapi, saya suka film ini. Saya paham sekali para filmmaker-nya berusaha membangkitkan kembali icon Lupus dengan membidik remaja masa kini, yang barangkali tidak tahu betapa termasyhurnya Lupus di era 90-an. Barangkali, itulah mengapa Lupus yang sekarang berbeda dengan Lupus yang dulu. Lupus yang sekarang lebih keren, tegap, ganteng, dan saleh. Percaya deh, kita sedang tidak membicarakan Mas Boy. Untung saja masih ada sisi santai, humoris, dan pede dari Lupus yang kita kenal. Oke, sisi jahilnya tidak begitu maksimal, tapi nggak apa-apa deh.

Dan yang paling saya suka adalah chemistry di film ini. Acungan jempol buat para aktornya yang mampu menghasilkan chemistry yang begitu asyik disaksikan. Migdad Addausy bisa dibilang fresh air. Sebagai pendatang baru, aktingnya potensial. Penampilan Acha Septriasa pun sama sekali tidak buruk atau bikin menggerutu seperti di film Heart. So, soal akting, nyaris semua bermain apik kendati beberapa penampilan terkesan seperti tempelan dan mengganggu. Singkat kata, overall, saya suka film ini. Dan, saya pun jatuh cinta lagi pada Lupus.

Me and Lupus

Saya masih ingat komik pertama yang saya baca, yakni Doraemon, yang kemudian langsung menjadi “pahlawan” masa kecil saya. Dan, saya juga masih ingat novel pertama yang saya baca. Lupus, tentu saja. Sejak pertama kali membacanya di bangku SMP, saya segera jatuh cinta pada kekocakan Lupus dkk. Ceritanya yang lucu, ringan, mengalir, sangat ABG, sekaligus ada pesan-pesan moralnya tersebut membuat saya kepincut. Hilman adalah novelis favorit pertama saya. Saya kerajingan karya-karya dia. Tak cuma Lupus, saya pun membaca kisah Lulu, Olga, hingga Vlad.

Oke, saya memang tidak bisa mengatakan saya ini fans berat Hilman yang mengoleksi seluruh bukunya (bahkan menurut saya Lupus Milenium seharusnya tidak perlu ditulis karena terlalu maksa. Hahaha). Namun, Hilman adalah “guru” pertama saya yang mengajarkan saya menulis novel. Saya belajar menulis secara otodidak, tidak ada guru yang mengajarkan. Saya bisa menulis semata-mata karena kecintaan saya pada baca dan tulis. Begitu saya berniat menulis novel untuk yang pertama kalinya, gaya Hilman-lah yang saya contek.

Saya ingat novel pertama yang saya tulis (tidak pernah selesai) berjudul Erick, yang merupakan gabungan antara Lupus dan Vlad-nya Hilman. Bahkan teman saya pun sempat berkomentar, “Tulisan loe Hilman banget.” Hahaha.

Pertemuan saya dengan Harry Potter membuat saya berpaling dan meninggalkan Lupus, seperti pria kurang ajar yang meninggalkan pacarnya demi cewek yang lebih cantik. Saya sempat menyangka bahwa cinta saya pada Lupus sudah berlalu dan berakhir. Ternyata tidak. Cinta pertama begitu berkesan sehingga tidak akan pernah terlupakan.

After all this time, Adham?

Always (dengan nada bicara Alan Rickman)

Hahaha.

Kecintaan saya pada Lupus memang terendap… tapi tetap ada.

Lupus & DSC

Lupus & DSC

Hilman and his legacy

Hal ini terbukti dengan masih adanya “aroma” Hilman di dalam karya saya, termasuk di novel DSC. Hal tersebut tidak saya sadari sewaktu menulis. Pun, boleh dibilang, DSC tidak ditulis karena saya terinspirasi langsung oleh karya-karya Hilman. Saya menulisnya dengan semangat Yukan Club dan St. Trinians. Tapi, bukan berarti Hilman hilang begitu saja. Karya-karya Hilman sudah begitu lekat pada kehidupan praremaja dan remaja saya, sudah begitu “membudaya”, sehingga meskipun saya tidak menulis DSC dengan semangat Hilman, pengaruhnya tetap merembes keluar dalam tulisan saya.

Cerita tentang remaja Indonesia yang jauh dari kata galau. Remaja-remaja yang nakal, badung, tengil, jahil, tapi cerdik dan kreatif. Plus ada pula pesan moral seperti anti bullying, anti tawuran, dan be yourself. Sebelum saya menonton film Lupus saya tidak menyadarinya, tapi rupanya semangat Hilman dalam karya-karyanya tersebut saya warisi dan tuangkan ke dalam karya saya.

Jika ingin bicara adil, bukan Hilman saja yang mengangkat semangat “remaja keren dan positif” di dalam karya mereka. Ada Gol A Gong atau Inoue Takehiko misalnya. Tapi, kebetulan melalui Hilman-lah saya mendapatkan dan mewarisi semangat tersebut.

Selain itu, tokoh Lupus dan kawan-kawan pun begitu dekat dan akrab pada masa praremaja dan remaja saya. Dulu, saya ingin sekali seperti Lupus. Anak muda yang gaul, santai, ngocol, cerdik, supel, disukai banyak orang, dan digandrungi banyak cewek. Saya berusaha (dalam beberapa kesempatan saya malah berusaha terlalu keras) sehingga akhirnya justru membuat teman-teman saya menanggapinya dengan senyuman maklum, seolah iba pada kegalauan identitas yang ingin saya tampilkan. Hahaha. Saya bahkan sempat frustrasi mengapa saya tidak bisa menjadi seperti Lupus, meski pada akhirnya saya sadar bahwa saya bukan Lupus dan tidak perlu meniru Lupus untuk menjadi diri sendiri.

Tapi, rupanya ada bagian kecil di dalam hati saya yang tidak ikhlas kalau Lupus “mati” begitu saja. Dan, karena saya mustahil menjadi seperti Lupus, maka satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah “menghidupkan”-nya kembali lewat tulisan. Sadar tidak sadar, saya telah menciptakan Lupus versi saya sendiri. Persona Lupus dan teman-temannya tetap hidup lewat wujud lain. Beberapa tokoh di DSC ada yang merepresentasikan tokoh Lupus dan teman-temannya, ada yang merupakan penggabungan, ada juga yang merupakan pecahan atau versi lainnya.

Hilman

A Tribute to Lupus and Hilman

Pada akhirnya, saya tak berbeda dengan penulis lainnya yang “berguru” kepada penulis-penulis yang jauh lebih senior dan jauh lebih hebat. Saya beruntung karena dapat “berguru” dari penulis-penulis fenomenal luar negeri seperti JK Rowling dan Roald Dahl. Sementara dari dalam negeri, saya senang sekali karena bisa belajar dari seorang Hilman.

Masa keemasan Hilman barangkali sudah berlalu. Tapi saya rasa, karya-karyanya akan selalu dikenang sebagai peninggalan yang mewarnai pop culture di Indonesia. Jadi, terima kasih Om Hilman karena telah menghadirkan Lupus di tengah-tengah kami.

Dan, terima kasih Lupus, karena sudah menjadi “sahabat keren” bagi siswa SMA cupu kayak gue. Hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s