12 Film Indonesia Terfavorit (2000-2011)


Sudah lebih-kurang dua belas tahun sejak perfilman Indonesia bangkit kembali dari ‘mati suri’. Kita masih ingat betapa antusiasnya masyarakat Indonesia menyambut film Petualangan Sherina (2000), yang saya rasa merupakan salah satu film tonggak, yang menghembuskan kembali napas kehidupan di industri perfilman Indonesia. Oke, memang masih banyak kendala serta problem yang harus dihadapi. Dan oke, jumlah film komedi-cabul serta horor-semi-porno masih bergentayangan merusak moral bangsa. Tapi, sebagai penikmat film, saya melihat kualitas sebagian besar film Indonesia sudah semakin baik. Teknologi perfilman pun semakin ditingkatkan.

Nah, sebagai tribute sederhana terhadap dunia perfilman Indonesia, saya rangkum 12 film Indonesia favorit saya dari tahun 2000-2011. Berikut adalah daftar film-film Indonesia favorit saya.

Caution: This list may contain spoiler!

12. Rumah Dara / Macabre (2009, Horor-Slash-Gore) 

Sutradara: Mo Brothers. Pemain: Shareefa Daanish, Julie Estelle

Akhirnya! Sebuah film horor berkualitas yang tidak melibatkan kuntilanak atau pun pocong! Dan saya masih ingat betapa senangnya saya sewaktu keluar dari gedung bioskop, usai menonton film ini. Ini dia film horor-slash-gore lokal yang saya tunggu-tunggu. Kisahnya sederhana, tentang sekelompok orang yang terjebak di sebuah rumah nun jauh di dalam hutan. Rumah itu ditempati oleh Bunda Dara bersama anak-anaknya. Malang bagi para rombongan tersebut, Dara beserta anak-anaknya ternyata gemar mengkonsumsi daging manusia. Horor pun dimulai.

Favorite Scene: Alam (Mike Muliardo) dibunuh dengan gergaji mesin, diiringi musik keroncong. Juga duel terakhir melawan Adam dan Dara. ENAAAAAK KAN?! big grin

We Love You, Mother: Jika Anda tidak suka film tentang ibu yang hobi membunuh, Anda mungkin suka kisah menyentuh tentang ibu tua yang bercita-cita naik Haji. Ety Kanser membuktikan bahwa Anda tidak perlu cantik dan muda untuk menjadi aktris yang mumpuni. Ia membuktikannya di film Emak Ingin Naik Haji. Penampilan Ety Kanser adalah salah satu penampilan aktris Indonesia terbaik dekade ini.

11. Kala: Dead Time (2007, Thriller, Crime, Suspense)

Sutradara: Joko Anwar. Pemain: Fachri Albar, Ario Bayu, Shanty

Pertama kali saya menontonnya di bioskop, saya berkomentar “What The Fuck?! Film apaan ini?!”. Saya yang datang ke bioskop dengan ekspektasi tinggi (karena faktor Joko Anwar, salah satu sutradara Indonesia favorit saya), sempat bersungut-sungut kecewa. Namun, karena saya penasaran, saya tonton untuk yang kedua kalinya, dan… Oalah! Begitu toh rupanya! Selanjutnya, saya pun menikmati film ini. Terlebih, sinematografi dari Ipung Rachmat Syaiful di film ini adalah salah satu sinematografi terindah yang pernah saya saksikan di film Indonesia, sampai saat ini.

Favorite Scene: Kemunculan sosok makhluk halus bernama Pindoro (Jose Rizal Manua) sanggup membuat bulu kuduk meremang.

Another work from Ipung: Lihat juga sinematografi cantik yang dihasilkan Ipung, di film Mengejar Matahari, karya Rudi Soedjarwo. Kisah persahabatan empat orang teman yang memiliki hobi bersama: mengejar matahari. Penuh konflik, drama, dan berakhir tragis. Ipung berhasil merangkum semua mood tersebut dengan baik.  Ah, dengarkan pula lagu OST-nya, yang dinyanyikan oleh Ari Lasso.

10. Quickie Express (2007, Dark Comedy)

Sutradara: Dimas Djajadiningrat. Pemain: Tora Sudiro, Aming, Lukman Sardi

Tiga gigolo kocak: Jojo, Marley, dan Piktor siap memuaskan hasrat Anda, juga mengocok perut Anda. Oke, premis ceritanya memang sedikit vulgar, karena membicarakan tentang bisnis escort dan seks komersil. Tapi saya yakin Anda akan terpingkal-pingkal begitu menontonnya. Banyak sekali adegan konyol, dibalut dengan adegan action yang juga tak kalah komikal. Vibe retro-nya yang ciamik, penyutradaraan yang apik, skenario yang kocak, serta penampilan aktor-aktornya yang dahsyat (terutama Pakusadewo, Maya Sopha, Wowor, dan Saroengalo yang berkelahi sembari mengenakan wig! FAB!), Quickie Express adalah salah satu film Indonesia terlucu hingga saat ini!

Favorite Scene: Marley digigit piranha, serta adegan akhir saat Jojo diburu tangan kanan Jan Pieter Gunarto (Wowor).

I Bring the Sexy Back: Lupakan buku Muammar Emka yang ternyata lebih dahsyat kontroversinya, ketimbang isinya; tapi film Jakarta Undercover karya Lance ini sungguh asyik untuk dinikmati. Filmnya cuma mengambil premis dari buku karya Emka tersebut, selebihnya dikembangkan sendiri, dan hasilnya benar-benar seru. Kejar-kejaran antara Luna Maya dan gerombolan Lukman Sardi terasa intens. Apalagi, Luna pun perlu menjaga adik kecilnya. Ah, saksikan pula penampilan cameo Fahri Albar yang mencengangkan. big grin

9. Ada Apa Dengan Cinta? (2002, Drama, Romance) 

Sutradara: Rudi Soedjarwo. Pemain: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra

Siapa yang tidak kenal dengan Rangga dan Cinta? Barangkali, mereka adalah Romeo-Juliet versi Indonesia. Saya masih ingat meonton film ini bersama teman-teman SMP, dan kami rela antri berlama-lama. Pokoknya, saat itu, semua tentang AADC menjadi tren dikalangan muda-mudi. Lagu-lagunya (album OST film Indonesia terbaik hingga saat ini), Puisi Chairil Anwar yang mendadak laku kembali, posternya… ah, pokoknya semua! Film ini pun berjasa mengangkat karir Dian, Nico, Titi Kamal, Ladya Cheryl, Sissy Priscilla, hingga Adinia Wirasti.

Favorite Scene: Cinta mengejar Rangga di bandara, berakhir dengan kecupan perpisahan! Epic! Hahaha!

Dian-Nico Reunite: Enam tahun pasca AADC, Dian dan Nico kembali bermain di film yang sama. Kali ini di film 3 Doa 3 Cinta. Nico sebagai seorang santri, dan Dian adalah penyanyi dangdut. Keduanya berniat untuk ke Jakarta, meski tujuannya berbeda satu sama lain.

8. Janji Joni (2005, Comedy, Romance)

Sutradara: Joko Anwar. Pemain: Nicholas Saputra, Mariana Renata, Rachel Maryam

Demi berkenalan dengan seorang gadis cantik, Joni – pengantar rol film – berjanji akan mengirimkan rol film tepat waktu, supaya gadis itu dapat menonton film tanpa terputus. Berbagai halang-rintang pun dialami oleh Joni. Ceritanya yang ringan namun mengalir, vibe vintage-nya yang asyik, dipenuhi cameo artis-artis terkenal, plus Mariana Renata yang cuantik tenan… membuat saya kepincut dengan film yang satu ini.

Favorite Scene: Terpaksa harus menolong wanita hamil istrinya supir taksi. Selamat datang kembali Om Barry Prima! Hahaha! big grin

Janji Jomblo: Satu lagi film romcom favorit saya dari negeri ini, yaitu Jomblo karya Hanung Bramantyo. Kisahnya yang kocak namun cerdas sungguh mengena. Terlebih, penampilan Ringgo Agus Rahman sukses memerankan tokoh Agus dengan baik. Ah, novelnya pun merupakan novel komedi favorit saya. Seriously, Adithya Mulya could kill me with his smart joke.

7. Gie (2005, Autobiography, Drama)

Sutradara: Riri Riza. Pemain: Nicholas Saputra, Wulan Guritno

Serius, pada titik ini saya iri pada Nico. Digandrungi para wanita, bermain di film-film berkualitas, muda, pintar, dan sebagainya, dan sebagainya. Sumpeh lo, Nic? Tapi, marilah kita abaikan kecemburuan saya pada sosok Nico. Yang patut kita perhatikan adalah kualitas akting Nico yang mumpuni di film ini. Membawakan sosok Soe Hok Gie yang kritis dan idealis adalah pekerjaan berat, namun Nico (serta Jonathan Mulya, sebagai Gie muda) mampu mengembannya dengan baik. Sinematografi, tata artistik, skenario, penyutradaraan… bagi saya Gie adalah salah satu pencapaian terbaik dari Riri Reza dan Mira Lesmana.

Favorite Scene: Gie menulis catatan terakhirnya, sebelum wafat dengan tenang di gunung.

The Legendary: Bila Gie adala sosok patriotis dari dunia nyata, maka Naga Bonar adalah sosok patriotis dari dunia fiksi negeri ini. Kendati fiksi, karakter Naga Bonar begitu kuat hingga kita berharap sosok sepertinya benar-benar ada di negeri ini. Diperankan dengan luar biasa oleh Deddy Mizwar, saya bangga karena telah menonton kedua filmnya: Naga Bonar dan Naga Bonar Jadi 2.

6. Petualangan Sherina (2000, Musical, Adventure)

Sutradara: Riri Riza. Pemain: Sherina Munaf, Derbi Romero

Satu lagi film lokal yang pastinya tidak akan dilupakan, terutama bagi yang pernah mendapatkan keceriaan darinya, termasuk saya. Bila Rangga-Cinta merupakan icon pasangan muda-mudi penuh cinta, maka Sherina-Sadam adalah icon pasangan anak-anak yang penuh cerita dan keceriaan. Awalnya rival (bahkan musuh), akhirnya menjadi sepasang sahabat. Hangat, menghibur, dan mendidik. Jangan lupakan pula lagu-lagunya yang tak kalah memorable.

Favorite Scene: Sherina menolong Sadam, berbekal kecerdikan dan… M&M. Adorable!

The Musical: Barangkali kurang tepat bila mengkategorikan Opera Jawa sebagai film musikal, meski memang ada unsur nyanyian dan tarian di dalamnya. Ini adalah salah satu film Indonesia yang ingin sekali saya tonton namun belum kesampaian. Om Garin, tolong rilis DVD/VCD-nya! Pleeeease!

5. Arisan! (2003, Dark Comedy, Drama) 

Sutradara: Nia DiNata. Pemain: Tora Sudiro, Cut Mini, Surya Saputra, Aida Nurmala

Ini adalah film lokal yang berhasil menguak tabir (dan memperluas wawasan saya) akan dunia gay-lesbian, terutama di Indonesia. Oke, sebelumnya saya sudah tahu apa itu gay dan lesbian, akan tetapi itu cuma sekedar tahu. Itu saja. Tidak lebih. Oleh karena itulah, begitu saya menonton filmnya, saya tercengang. Diceritakan dengan jujur, berani, tapi dibawakan dengan santai dan jenaka, Arisan! jelas sebuah karya masterpiece dari Teh Nia. Film ini juga salah satu faktor yang membentuk saya menjadi pribadi yang open-minded dan toleran.

Favorite Scene: Ciuman antara Sakti dan Nino. SHOCKING!

The Good, The Gay, and The Beautiful: Saksikan kelanjutan kisah keempat sahabat urban Sakti, Meimei, Nino dan Andien (kali ini plus Lita) di Arisan 2. Penampilan Rio Dewanto–yang biasanya tampil macho–akan membuat rahang Anda terngaga. Hahaha.

Trivia: Saya akhirnya membeli buku skenario Arisan! dan dari sanalah saya belajar menulis skenario.

4. Sang Penari (2011, Drama, Romance)

Sutradara: Ifa Isfansyah. Pemain: Prisia Nasution, Oka Antara

Jelas merupakan salah satu film terbaik tahun lalu. Diangkat dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, film ini meningkatkan kembali rasa bangga saya pada film Indonesia. Penyutradaraan yang apik, akting yang mumpuni, skenario yang prayoga (tidak terlalu setia, namun jelas memperlakukan novelnya dengan hormat), artistik yang apik, serta sinematografi yang menawan, ini adalah salah satu film whole package yang jarang ada di Indonesia. Very well done, beautifully crafted. Bravo!

Favorite Scene: Srintil menari, Dukuh Paruk diserang, adegan ‘erotis’ Srintil dan Rasus, dan banyak lagi.

From Book to Big Screen: Tahun 2001 saya sempat terkesima sewaktu menonton film Ca-Bau-Kan. Waktu itu saya tidak percaya Indonesia mampu memproduksi film seepik itu. Mengangumkan, dahsyat, satu lagi adikarya dari Teteh Nia Dinata. Saya bahkan sempat kecewa film yang diangkat dari novel karya Remy Sylado ini tidak lolos seleksi untuk masuk nominasi Oscar, kategori Best Foreign Language Movie. Semoga Sang Penari bisa masuk tahun depan!

3. Serbuan Maut / The Raid (2011, Action, Crime)

Sutradara: Gareth Evans. Pemain: Iko Uwais, Ryan Sahetapi

Terima Kasih Tuhan! Akhirnya! Sebuah film action garapan anak bangsa yang mampu membuat saya ingin menangis haru! Oh betapa saya terpuaskan dan sama sekali tidak menyesal harus pulang tengah malam, demi menonton film ini sewaktu tayang premiere akhir tahun lalu di INAFFF. Ini Adalah Film Yang Tidak Boleh Anda Lewatkan Tahun Depan (saat rilis secara luas)! Dijamin Anda akan menahan nafas menyaksikan aksi adu otot dan adu cerdik selama satu jam penuh! Ah, jangan lupakan performa Ray Sahetapi yang bengis.

Favorite Scene: Semua! Hahaha! Tapi pertarungan Iko Uwasi, Donny Alamsyah dan Yayan Ruhian wajib Anda saksikan!

Silat Goes International: Sebelum The Raid rilis, Gareth Evans bersama Iko Uwais sudah lebih dahulu bekerja sama, mengangkat nama bela diri Silat ke layar lebar. Hasilnya? Merantau! Berkisah tentang pemuda asal Sumatra Barat yang merantau ke Jakarta, berbekal tekad, mimpi, dan silat. Sayangnya, di Jakarta, dia justru terlibat dengan geng penjahat yang mengorganisir penjualan gadis-gadis untuk dijadikan PSK. Pertarungan berdarah pun tak terhindari lagi! Iko Uwais adalah icon Aktor Laga Indonesia masa kini! Uda Iko, Om Barry Prima pastilah bangga! big grin

2. Pintu Terlarang (2009, Suspense, Thriller)

Sutradara: Joko Anwar. Pemain: Fachri Albar, Marsya Timothy

Arguably the best Indonesian movie of this decade. Ceritanya yang cerdas, misterinya yang dibangun dengan baik, intensitas ketegangannya yang terjaga hingga akhir, nuansa jazzy-nya yang berkelas serta endingnya yang mengejutkan, saya tidak bisa tidak menyukai film ini. Saya telah membaca novel dan filmnya, dan saya suka keduanya. Filmnya memang tidak sepenuhnya setia dengan novelnya, meski demikian Joko Anwar menaruh respek yang tinggi pada karya Sekar Ayu Asmara tersebut. Dengan demikian, filmnya pun semakin bersinar. Twistedly smart, sinfully edgy, deliciously bloody.

Favorite Scene: The Last Supper. Enough said! Cheers…!

Inside Your Mind: Barangkali Belahan Jiwa karya Sekar Ayu Asmara adalah salah satu film Indonesia paling underrated. Padahal, saya lebih menyukai film yang satu ini, ketimbang karya Mbak Sekar lainnya: Biola Tak Berdawai. Tokoh Rachel Maryam, Nirina Zubir, Dina Olivia, dan Marcella Zalianty mengandung benih dari pria yang sama. Gilanya lagi, pria tersebut tengah berhubungan dengan tokoh Dian Sastro yang masa lalunya penuh misteri. Anda akan terhenyak menyaksikan endingnya.

1. Laskar Pelangi (2008, Drama) 

Sutradara: Riri Reza. Pemain: Cut Mini, Ikranagara

Dan inilah film Indonesia favorit saya hingga sekarang. Alasannya sederhana: karena film ini mengingatkan masa kecil saya di sebuah kota kecil di Pulau Bintan. Sesederhana itu. Film ini terasa begitu personal bagi saya. Saya bahkan tidak malu mengakui bahwa saya menangis di akhir film, gara-gara saya merindukan sahabat-sahabat masa kecil saya. Menyentuh, hangat, sangat indah. Film Indonesia pertama yang mampu menyentuh sisi humanis saya, yang terkadang sudah sangat apatis. Hahaha. Andrea Hirata, Riri Riza, Mira Lesmana… terima kasih.

Favorite Scene: Ikal mengejar Mahar yang pergi. Saya langsung menitikkan air mata, teringat akan teman masa kecil saya yang bernasib seperti Mahar. Tak mampu melanjutkan pendidikannya, karena faktor ekonomi belaka. Man, I’m crying right now. For realcrying

The Dream Chaser: Sebelum Laskar Pelangi rilis, ada satu film sejenis yang sepertinya sedikit terlupakan. Denias, Senandung Di Atas Awan. John de Rantau sukses menggarap film tentang Denias, anak Papua yang penuh semangat mengejar pendidikannya. Diperankan dengan luar biasa oleh Albert Fakdawer, adalah sebuah kesalahan sewaktu FFI tidak mengumumkan film ini sebagai Film Terbaik 2006.

Laskar Pelangi

Itulah daftar film-film Indonesia favorit saya selama dua belas tahun terakhir. Semoga bisa dijadikan referensi, dan MAJU TERUS INDUSTRI PERFILMAN INDONESIA!

13 thoughts on “12 Film Indonesia Terfavorit (2000-2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s